Rabu, 26 Mei 2010

Pesona Ekonom Membentuk Ekonomi Mempesona

Hampir semua kita merasakan kebingungan kolektif dari semua kronoligis sejarah ekonomi klasik yang bagi umat islam merupakan zaman perkembangan ekonomi yang sangat pesat dan juga telah mencapai tujuan-tujuan ekonomi modern yang sampai saat ini belum lagi bisa mewujudkan hal yang sama sebagaimana dulu. Kecukupan ekonomi dan pada saat yang sama tidak terjadi kesenjangan sosial kemasyarakatan dalam community muslim.
Ekonomi. Dalam era modern kini. Jauh pada nilai yang sebenarnya menjadi piranti keterwujudan tujuan dan pemecahan permasalahan ekonomi. Ekonomi modern yang mengasumsikan bahwa segala sesuatunya dianggap sebagai sesuatu yang biasa ekonomnya sebut sebagai modal (capital), tanpa terkecuali manusia sebagai sumber daya juga tidak luput dari asumsi itu. Sebagai capital. Terlampau banyak bukti yang mengindikasikan hal ini, yang diantaranya menetapkan upah bagi buruh atau pekerja (biasa dalam pabrik) berdasarkan marginal product yang bertambah sebagai hasil dari kerja mereka. Bukan berdasarkan kontribusi waktu yang mereka sisihkan dalam menghasilkan suatu produk. Ini jelas salah satu eksploitasi konkrit yang memaparkan mengapa mereka gemar selalu mengasumsikan segala input produksi seluruhnya sebagai modal. Dan inilah pula salah satu ruang ‘kehancuran’ yang kelak akan bergabung dengan celah lainnya membangun ruang besar kehancuran ekonomi. Dan karena ruang itu selalu ada dan akan tetap ada jika tidak re-view konsepnya, maka variable waktu yang bicara dalam hal ini. Seperti sebuah siklus. Kehancuran dengan berbagai bentuknya pasti terjadi. Krisis pada umumnya.


Setidaknya kita sebagai mahasiswa yang juga berperan sebagai analis normatif ekonomi juga tidak terlalu bingung dan tidak terlalu rumit mengidentifikasi apa sebenarnya hulu dari semua ketidakberesan ekonomi ini. Dari sekian banyak efek domino yang terjerat dari hasil ledakan krisis tampaknya juga sangat jelas memaparkan bahwa masalahnya cuma satu. Dan hulunya memang selalu satu. “Pesona Sang Ekonom”. Tampaknya hasil identifikasi juga sangat diyakini bahwa seperti apa ‘pesona’ sang ekonom seperti itulah potret ekonominya. Sebab kalaupun kita mengasumsikan pada sistemnya tetap saja selalu saja ekonomnya yang akan mengendalikan sistem itu. Dan memang subjeknya yang akan selalu menjalankan sistemnya. Pada kasus krisis-krisis yang selalu terjadi sejak kapitalisme ini dianut untuk ekonomi modern, selalu membuktikan bahwa efeknya baru berjalan sebagaimana sistem yang ada. Bermula dari apapun itu (bagian dari instrumen ekonomi) dan segala yang ada yang terkait dengannya, maka akan terimbas dampaknya. Entah berawal karena hutang yang membengkak dengan tanpa diiringi kemampuan melunasinya, dan kemudian seenaknya mencetak kembali uang untuk menutupi hutang tersebut adalah juga punya kecelakaannya sendiri. Peredaran jumlah uang (money supply) yang terlalu banyak tanpa diimbangi dengan komoditas yang sama peredarannya, maka inflasi besar akan terjadi. Jumlah orang miskin akan bertambah. Dan pertumbuhan ekonomi secara makro bisa berujung negatif. Sekali lagi, inilah sistem yang saya maksud. Sistem hanya akan berjalan ketika efeknya sudah akan berjalan dari hulunya. Jadi, dalam konteks ini segala sumber kecelakaan ekonomi adalah terletak pada ekonomnya. Baik analis, praktisi, juga pengamat ekonomi yang kadang masih saja berkutat pada wacana-wacana saja.

Jika kembali membaca text book yang menyajikan kesuksesan ekonomi masa islam, Nampak jelas sekali oleh siapa dan dengan cara-cara apa bangunan ekonomi itu dibangun. Kemegahan ekonomi hampir tidak diidentikkan dengan kecepatan pembangunan infrastruktur. Walaupun hal itu juga bagian penting dalam bangunan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan ekoonomi. Tetapi, penempatan infrastruktur dalam hal ini ditempatkan pada tempat yang benar. Yaitu sebagai sarana, bukan tujuan. Jadi, setelah semua itu selesai, bukan berarti lalu puas dengan kemegahan infrastruktur dan kemudian berhenti sembari yakin bahwa kekayaan akan tetap ada bagi keturunannya. Bukan. Bukan begitu. Apa yang menjadi cita-cita ekonom dulu dan juga menjadi tujuan ekonominya adalah terwujudnya ke-falah-an kolektif di dalam episode kemanusiaan. Dimana kemanfaatan umum dan keberkahan umum jauh lebih berharga dibandingkan kepentingan-kepentingan lainnya. Hatta kepentingan pribadinya sekalipun.

Sebut saja kesuksesan kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz yang banyak pada masa pemerintahannya melakukan manuver-manuver ekonomi yang mensejahterakan rakyatnya. Dia menyantuni orang-orang fakir, menikahkan para pemuda, persediaan Baitul Maal juga ternyata melimpah dan bahkan tidak ada sang fakir-pun yang mau menerima sedekah. Umar juga memperbaiki tanah supaya layak ditanami, melakukan penggalian sumur-sumur, menghiasi jalan-jalan, membangun penginapan bagi para musafir dan mendirikan masjid-masjid. Semua hanya demi yang tadi. Ke-falah-an kolektif. Tidak ada penyelewangan ekonomi di dalamnya. Juga ada Harun Al Rasyid. Dan sangat populer dalam ingatan kita tentang ketangguhan ekonomi pada masa Umar bin Khattab. Semua konsep, pemikiran, dan tindakan ekonomi berada pada posisi yang benar. Meskipun Allah dan RasulNya telah memberikan normatif ekonomi yang benar, namun tetap manusia dengan pemikirannya bisa saja memilih konsep lain selain dari itu. Dan dalam hal ini tidak bagi ekonom muslim. Menjadi yakin akan konsep ekonomi robbani adalah syarat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jelas sekali dalam hal ini, kita semua berharap akan adanya darah segar ekonom yang mamou membawa kembali panji ekonomi robbani untuk mewujudkan kehidupan yang robbani pula. Dan pencarian punggawa ekonomi itu sangat tidak bijak jika hanya menuntut orang lain untuk membawa panji itu. Dan adakah diantara kita yang mau membawa panji itu kembali untuk dikibarkan dalam tiang ekonomi modern? Atau jika Anda tidak berkenan, biar aku saja yang akan membawa panji itu. Allahu Akbar.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut