Kerangka Konseptual Akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi..

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?

Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba.

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri

sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin.

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money).

Minggu, 27 Juni 2010

Mari Bangun "Narasi" Bersama (dedicated for IsEF)



Wahai Pemuda!

Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadaNya, Ikhlas dalam berjuang di jalanNya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini yakni iman, ikhlas, semangat dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda.
Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri pemuda. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah panji-panjinya.
Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak kewajiban-kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.

(Imam Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Rasail)

Saya tidak bisa terlalu jelas membayangkan apa yang mejadi perasaan Sang Imam Syahid ketika menuliskan pesan-pesan untuk para pemuda pada setiap lembaran hikmahnya. Bagaimana raut wajahnya, bagaimana tatapannya kepada para pemuda, dan seperti apa harapan-harapan yang sebenarnya. Yang begitu kentara cukup jelas saat membaca ini adalah besaran gelora dakwahnya kepada umat. Yang ia sendiri banyak berharap kepada para pemuda dan mahasiswa agar menyadari kewajiban-kewajiban kepemudaan. Kewajiban satu rentang masa kehidupan yang mesti ditunaikan dengan banyak beramal kebaikan. Rentang masa yang pendek yang wajib menghasilkan karya-karya amal secara sempurna. Dan muaranya adalah untuk memenuhi hak-hak umat.
Dalam konteks kebersamaan para pemuda sekarang di dalam sebuah komunitas tidaklah bijak jika terlalu puas dan kemudian merasa cukup untuk sekedar berkumpul dalam satu simpul kebersamaan. Para pembawa idealisme islam itu tuntutannya tidak sesederhana demikian. Juga bukan sekedar memenuhi kebutuhan zaman. Dimana zaman sekarang dalam menajalankan aktivitas setiap lini seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dikelola di dalam dan melalui organisasi atau komunitas. Ada hal –hal yang jauh lebih dari itu untuk disadari secara kolektif bahwa apa yang Hasan Al Banna sebutkan sebagai kewajiban para pemuda yang sedemikian banyak adalah patut dipenuhi. Secara tahapan sudah benar. Masing-masing individu yang memiliki kesadaran yang sama sudah mau mengkomunitas. Berkumpul lalu menyatu. Melebur dengan berbagai potensi. Berbagai karakter dan juga beragam pemikiran. Lalu mengapa ini saja tidak cukup?. Sebab, pada dasarnya mengkomunitas dalam kaitan dakwah adalah menyatu untuk memperbesar ‘momentum’ sebaran nilai-nilai ilahiah diantara para peserta komunitas dan objek kerja komunitas. Sebagaimana momentum dalam ilmu fisika, Momentum = massa x kecepatan. Begitulah kurang lebih apa yang harus jadi pesan kesadaran kolektif diantara kita. Pertama, kita sudah memperbesar “massa” yang dikumpulkan dari berbagai sisi pribadi peserta komunitas. Baik dari segi jumlah maupun potensi. Begitu pula pemikiran. Kaitan yang mendasari besaran massa itu tidak boleh menyatukan sisi-sisi cacat pribadi mereka. Tidak. Tidak boleh. Dan jangan sampai. Jika pun sampai terjadi, kolektifitas kebaikan yang harus lebih dominan. Agar ia sebagaimana dalam islam, kebaikan dapat menggugurkan keburukan-keburukan yang telah lampau. Kedua, menyulut ‘adrenalin’ sensitifitas peserta komunitas untuk bergerak cepat. Melesat dan melaju pada jalur yang benar. Kecepatan bersama inilah satu pendukung lain yang bisa memperbesar momentum tadi.
Momentum yang dimaksud di atas merupakan kerja-kerja konkrit peserta komunitas untuk mempertontonkan kepada Allah bahwa mereka berada pada pandangan dan langkah kerja yang benar. Benar karena sesuai dengan syariat Allah atau tidak dilarang dalam aturannya. Idealnya memandang dan bekerja sebagaimana Rasululllah saw memandangnya dan sebagaimana pekerjaannya. Maka, sebelum mengeksekusi dan dalam usaha mempersiapkan besaran momentum itu, ada tugas yang lebih diutamakan untuk dipersiapkan secara matang. Yaitu, membangun, menyusun dan menyepakati ‘narasi’ masa depan bersama. Dan dalam mempersiapkan narasi bersama setidaknya terdapat beberapa opsi dalam merencanakannya. Pertama, melatari pandangan narasinya dengan target komunitas. Menginventarisasi kebutuhannya lalu diambil seluruh atau sebagiannya sebagai sasaran komunitas dengan mempertimbangkan kekuatan massa tadi. Seberapa besar potensi komunitas, sebesar itulah kurang lebih yang bisa dieksekusi. Kedua, mendasarkan narasi masa depan bersama karena adanya salah satu lini bangunan besar bangsa peserta komunitas yang cacat dan tidak ada yang mau dan mampu menyelesaikannya. Lalu, secara gradual melakukan rebuilding (membangun kembali) corak bangunan yang seharusnya.
Bahwa setidaknya dua opsi di ataslah yang memberikan ruang bagi komunitas untuk bisa lebih leluasa menentukan narasi masa depan yang mengarahkan momentum gerakan mereka pada arah yang benar. Dan di balik ‘arsitektur’ narasi bersama itu akan selalu ada peserta yang menjadi aktor intelektual yang punya peran besar dibandingkan peserta lainnya. Namun, dalam hal ini ia tidak akan pernah melebihi peran hasil dari kerja-kerja bersama. Atau sekalipun terlihat ada yang merasa besar, kurang lebih itu cuma anggapan. Dan karenanya dalam komunitas kebaikan apapun sistem harus lebih besar dari salah seorang individu. Sehingga apa yang peserta komunitas bangun, ialah bukan aktor intelektual, tapi TIM INTELEKTUAL.
Share:

Kamis, 24 Juni 2010

Kebijakan "Bijak" Membangun Ekonomi


Di tengah suasana ekonomi yang cenderung menunjukkan instabilitas selalu saja ada langkah – langkah recovery yang justru selalu berujung pada semakin besarnya instabilitas itu. Atau jika tidak, langkah itu hampir tidak mampu meng-cover ‘kerusakan ekonomi’ yang disebabkan oleh apapun ia bermula. Selalu saja banyak persoalan baru yang ditimbulkan dari kebijakan ekonomi yang menurut teorinya mampu mengantisipasi dan menanggulangi instablitas ekonomi, tetapi ternyata penyederhanaan menjadi sebuah teori benar-benar menyederhanakan dampak negatif yang ditimbulkan.

Sejak aktivitas ekonomi ini ‘mendeklarasikan’ untuk diliberalisasi, sejak itulah bermunculan berbagai kepongahan para pengambil kebijakan dan ketidakberdayaan ‘penikmat kebijakan’ yang dengan sangat terpaksa menikmatinya. Bukan karena tidak mau melawan, tetapi karena perlawanan selalu berujung di kurungan. Ada hulu yang jadi sebab mengapa liberalisasi ekonomi ini diberlakukan. Tentu bukan dimaksudkan untuk mengarahkan telunjuk ini kepada siapapun sebagai pengahakiman atas semua yang telah terjadi sekarang. Bukan. Bukan itu. Tapi jauh lebih elegan dan objektif adalah kebijakan seperti apa yang telah diambil dan diberlakukan. Kebijakan pembangunan seperti apa beserta tahapannya yang kini perlu dikaji dimana letak kesalahan jika itu memang ada. Sebab kaidahnya ketika ada asap maka ia bermula dari adanya api. Begitu pula kondisi ekonomi yang tidak kunjung stabil. Pasti ada ‘api kerusakan’ yang merusak bangunan ekonomi. Atau ada batu bata bangunan ekonomi yang sangat rapuh atau bahkan berlubang besar yang mengakibatkan kerapuhan bangunan ekonomi secara makro.

Pada dasarnya semua sepakat mengenai ekonomi ini yang sejak pertama kali dibangun sudah pada karakteristiknya sama dengan ekonomi liberal. Walaupun konstitusi menyatakan bentuk ekonomi yang lain (ekonomi kerakyatan) tetapi sangat disadari ternyata ekonomi ini juga liberal. Walaupun kelihatan agak di ‘tengah’ diantara keduanya, tetapi cenderung liberal dalam banyak kasus. Ini berarti mudah diambil satu kesimpulan bahwa semua ciri dan karakteristik ekonomi liberal pasti ada di dalamnya. Dan memang ada. Dianut pula. Pada tataran filosofis ekonomi liberal menetapkan tujuan dari ilmu ekonominya yaitu untuk mencapai kesejahteraan. Tapi sangat multi-interpretatif dan cenderung self interest dalam kaitannya dengan kesejahteraan seperti apa yang ditawarkan ekonomi macam ini. Dan pada tataran aplikasi memang sarat dengan kehidupan yang hedonistic juga hanya men-‘sejahtera’kan segolongan kecil masyarakat. Sisanya, adalah korban ‘perasan’ untuk diraup kekayaannya. Di level aplikasi juga diterapkan hal yang sama. Sama-sama menguras kekayaan sebagian besar orang untuk sebagian kecil orang. Bunga. Dan pada level penanganan (recovery) dampak juga selalu serampangan. Gegabah. Dan selalu mengkontruksi pada satu hal tetapi men-destruksi hal lain. Jadi, ya tidak akan pernah tercapai apa yang disebut kesejahteraan. Terlebih kesejahteraan kolektif atau sosial. Apa sebab? Sebab bahan dasar bangunan yang digunakan adalah ‘sampah’. Tiang yang digunakan untuk mengokohkan juga ‘sampah’. Begitupun atap yang dibangun. ‘Sampah’. Sesuatu yang lahir dari sampah pada dasarnya juga sampah. Meskipun sampai babak belur diperdebatkan.

Lalu bisakah kebijakan yang selama ini dilakukan disimpulkan sebagai kebijakan yang tergolong tidak bijak? Mungkin saja. Dan adakah kebijakan lain yang sama sekali berbeda dan sebagai substitusi dari kebijakan yang tidak bijak ini? Tentu ada. Namun sayangnya belum ada yang melakukan pada aplikasi yang sama sebagaimana ‘pembangun konsep’ kebijakan bijak ini telah membuktikannya kepada sejarah. Yang kemudian tercatat dalam sejarah kemanusiaan dan juga pada peradaban yang pernah jaya saat ‘konsep’ itu di-ilhamkan hingga masa setelahnya. Dan hampir banyak yang tidak menyadari sejarah ‘imperium ekonomi’ tersebut. Karena tidak mau tahu dan karena sengaja di’hijab’ pengetahuan itu. Apa kebijakan yang bijak itu? Kebijakan Ekonomi Islam. Wallahu’Alam
Share:

Spirit Dakwah Seorang Syaikh


Karena da’wah bukanlah obral candu, perlu diuji ulang, cukup tajamkah telinga ini men-dengar krucuk perut yang hanya berisi angin. Cukup sensitifkah mata memandang seorang akh yang membisu dalam kelaparannya yang sangat dan isterinya yang gemetar menanti rizki yang datang dengan sabar. Masihkah ada waktu muhasabah sebelum tidur, menyusuri wajah demi wajah, adakah yang belum tersantuni. Atau menelisik kader yang hanya diberi sanksi, tanpa seorang pun tahu, tiga hari ini ia tak punya tenaga karena sama sekali tak dapat makanan.

(Ust. Rahmat Abdullah, Kedunguan Kasta Vs Komitmen Perjuangan, Untukmu Kader Dakwah)

Baru saja Aku kembali membaca sebuah buku saku yang cuma terdiri dari 138 halaman yang kubeli saat ramadhan dua tahun lalu. Buku itu memang baru aku baca satu kali seingatku sejak aku memperolehnya. Buku yang hampir jarang kusentuh melainkan hanya saat merapihkannya saja ternyata menyirami ‘ladang nurani’ yang sedang gersang dengan spirit dakwah. Sebab tuntutanku sekarang harus melampaui spirit yang biasa-biasa saja. Sebab jenjang tantangan dan masalah-masalah dakwah saat ini tidak boleh melampaui pemahaman harokah dakwah. Dan benar adanya apa yang disebutkan Einstein bahwa masalah tidak bisa dipecahkan pada tingkat pemahaman yang sama akan masalah tersebut. Berarti konsepsi pemikiran dan kepahaman akan problem tertentu mutlak hanya bisa dipecahkan dengan tingkat kepahaman yang jauh melampaui masalah tersebut.

Buku itu mengenang ‘serial’ kehidupan sang syaikh tarbiyah. Syaikh yang semasa hidupnya dicurahkan untuk kepentingan dakwah dan kemenangan dakwah. Alm KH Rahmat Abdullah. Cocok dengan namanya. Ia ditakdirkan Allah untuk menjadi perantara turunnya Rahmat Allah dalam berbagai bentuknya. Bagi anak muda atau mahasiswa sosok Ust Rahmat yang penuh kasih merupakan ‘ayah’ yang selalu menasehati anaknya agar selalu meng-‘asholah’kan dakwah. Agar nilai – nilai dakwah tidak di-‘susupi’ kepentingan duniawi. Nasehat lembutnya juga penyegar ‘relung hati’ siapapun yang mendengarnya. Sebagaimana Lukamanul Hakim yang selalu menasehati anaknya. Begitu pula Ust. Rahmat.

Share:

Rabu, 09 Juni 2010

Kemauan Kolektif yang Besar

Sejenak aku merenung tentang organisasi yang saat ini aku bergabung di dalamnya. Karena tidak sampai hitungan bulan, masa amanah itu kan berakhir untuk kemudian melanjutkan kembali apa yang menjadi kewajiban kami di dalamnya untuk meng'eksekusi' semua rencana-rencana praktis dakwah kampus. Ada kekhawatiran yang begitu kuat menjelang datangnya hari bersejarah itu. Hari dimana tuntutan peran yang lebih besar menjadi keharusan untuk dipikul. Menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Dan boleh jadi kesiapan yang semestinya besar ternyata belum kunjung kunjung digenggam. Kekhawatiran itu ialah pada kemauan kolektif kita yang cacat. Yang akan jadi sebab semua rencana-rencana besar tidak mungkin dieksekusi secara mulus. Sekalipun ada, maka rapuh 'kebesarannya'. Seolah besar namun kerdil di dalam.

Menjadi organisasi besar kadang tidak terlalu dibutuhkan. Sebab punggawa-punggawa islam pada dasarnya umat yang satu. Keinginan-keinginan dalam membesar-besarkan organisasi bukan keputusan yang bijak pada kasus tertentu. Ada kebutuhan yang jauh lebih mendesak bagi dakwah untuk secara kolektif dipikul berdasarkan distribusi beban yang bisa diambil alih. bersambung...
Share:

Selasa, 08 Juni 2010

Menata Ekonomi Baru


Mengamati perjalanan pembangunan yang dilakukan banyak negara di dunia hampir selalu menimbulkan decak kekaguman bagi siapapun yang betul-betul memperhatikannyanya dari sisi kemegahan keduniaan. Pembangunan ekonomi yang dielu-elukan sontak membuat setiap pandangan hidup manusia ekonomi mengarah pada pemenuhan materi kekayaan dan kepuasan (utilitas) atas keinginan-keinginan yang timbul bersama hasrat dari dalam dirinya. Kemegahan mercusuar dan kemegahan imperium ekonomi ini lahir dari rahim pembangunan ekonomi yang dengan yakin mampu membawa pada kemakmuran kolektif sebagaimana normatifnya tujuan ekonomi. Hidup menjadi modern dengan beragam teknologi, pesatnya ilmu pengetahuan, kebebasan sosial-politik dan kesetaraan hak kemanusiaan. Itu semua adalah produk-produk yang secara langsung ditelurkan ilmu ekonomi yang telah membuktikan ke-ekonomian-nya
.
Bersama kemegahan dan kedigdayaan ekonomi sekarang (konvensional) ternyata juga masih menyisakan ‘kemegahan’ istana-istana gubuk di belahan bumi yang lain. Terdapat ‘imperium’ ekonomi ‘busung lapar’ yang boleh jadi korban atas tidak adanya akses ekonomi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan keekonomiannya. Sembari sangat yakin bahwa ada hak ekonomi yang secara paksa terampas. Secara sosial tidak terdistribusikan. Dan secara politik terabaikan, kalau tidak disebut sebagai pemerasan. Maka, siapapun harus sangat yakin betapa harta juga kekayaan yang secara sengaja ataupun tidak telah ‘merampas’ hak ekonomi orang lain pada sebagian masyarakat negara dan masyarakat lintas negara. Kaidah ekonomi mengatakan bahwa hampir setiap kekayaan dan harta itu berpusat pada golongan tertentu yang secara kesepakatan sosial disebut golongan kaya. Oleh karena itu jika pandangan ekonomi hanya dilihat dari sisi pemenuhan kepuasan pribadi dan penumpukkan harta kekayaan, maka kemakmuran sejatinya tidak akan pernah terwujud. Sebab, ada variable kebutuhan lain yang juga sama pentingnya dengan kepentingan pribadi. Yang ia juga menjadi penentu cepatnya kemakmuran itu terwujud. Variable ekonomi itu adalah kebutuhan sosial atau kolektif. Dimana kaidah untuk memenuhi kebutuhan sosial berarti ada ongkos pengorbanan yang dialokasikan dari kebutuhan pribadi atau individu. Ada beberapa nominal atau porsi yang selalu harus teralokasikan pada kebutuhan sosial jika ekonomi mau mewujudkan kemakmuran kolektif.
Hal inilah yang tampaknya belum jadi dan bahkan tidak akan menjadi konsep ekonomi sekarang (konvensional). Sebab konsepnya bermula dari pandangan dunianya yang utilitarian. Dimana salah satu masalah ekonominya adalah untuk mengatasi keinginan yang tidak terbatas atas sumber daya yang terbatas. Ditekankan lagi oleh para ekonom yang berpandangan sekuler yang menyatakan bahwa dogma-dogma agama hanyalah isapan jempol belaka dan tidak perlu terlalu repot untuk mengurusi kepentingan manusia. Jikapun ada konsep pemenuhan kebutuhan sosial ekonomi, itupun diasumsikan pada cara-cara yang keliru dan gegabah. Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nation, mengatakan bahwa memenuhi kepuasan pribadi atau individu secara terus-menerus pada akhirnya akan memenuhi kepuasan masyarakat secara umum atau terpenuhinya kebutuhan kolektif. Inilah yang ia sebut sebagai Invisible Hand.
Diantara kegagalan ekonomi konvensional dalam mewujudkan pemerataan kemakmuran adalah disebabkan karena pandangan-pandangannya terhadap dunia (worldview) yang sekuler telah mengilhami mekanisme-mekanisme ekonomi yang sama sekulernya dengan pandangan tadi. Meskipun sejak beberapa kali tertimpa krisis sehingga sedikit mengubah tujuan ekonominya ‘agak’ lebih humanis, tetapi dilakukan dengan cara-cara (positivisme) yang sama sekali tidak mengarah pada kemakmuran itu. Oleh karenanya, jika ilmu ekonomi konvensional saat ini juga tidak ada niatan untuk mengubah pandangan hidup terhadap dunianya, maka mimpi-mimpi kemakmuran hanya ada dalam tidur-tidur yang panjang. Sedang ketika ia bangkit dari tidurnya, barulah tersadar bahwa ironi-ironi ekonomi ada diantaranya. Dan jika ilmu ekonomi konvensional benar-benar ‘keras kepala’ akan hal itu, maka bukan lagi menjadi proses berfikir yang panjang untuk mengembangkan ilmu ekonomi yang lain yang ‘dirinya’ mengakomodasi nilai-nilai sosial dan menjadi jalan terwujudnya kemakmuran dunia. Ilmu ekonomi sederhana yang ditujukan untuk manusia-manusia sederhana. Ilmu ekonomi islam.

Share:

Translate

Pengikut