Kamis, 24 Juni 2010

Spirit Dakwah Seorang Syaikh


Karena da’wah bukanlah obral candu, perlu diuji ulang, cukup tajamkah telinga ini men-dengar krucuk perut yang hanya berisi angin. Cukup sensitifkah mata memandang seorang akh yang membisu dalam kelaparannya yang sangat dan isterinya yang gemetar menanti rizki yang datang dengan sabar. Masihkah ada waktu muhasabah sebelum tidur, menyusuri wajah demi wajah, adakah yang belum tersantuni. Atau menelisik kader yang hanya diberi sanksi, tanpa seorang pun tahu, tiga hari ini ia tak punya tenaga karena sama sekali tak dapat makanan.

(Ust. Rahmat Abdullah, Kedunguan Kasta Vs Komitmen Perjuangan, Untukmu Kader Dakwah)

Baru saja Aku kembali membaca sebuah buku saku yang cuma terdiri dari 138 halaman yang kubeli saat ramadhan dua tahun lalu. Buku itu memang baru aku baca satu kali seingatku sejak aku memperolehnya. Buku yang hampir jarang kusentuh melainkan hanya saat merapihkannya saja ternyata menyirami ‘ladang nurani’ yang sedang gersang dengan spirit dakwah. Sebab tuntutanku sekarang harus melampaui spirit yang biasa-biasa saja. Sebab jenjang tantangan dan masalah-masalah dakwah saat ini tidak boleh melampaui pemahaman harokah dakwah. Dan benar adanya apa yang disebutkan Einstein bahwa masalah tidak bisa dipecahkan pada tingkat pemahaman yang sama akan masalah tersebut. Berarti konsepsi pemikiran dan kepahaman akan problem tertentu mutlak hanya bisa dipecahkan dengan tingkat kepahaman yang jauh melampaui masalah tersebut.

Buku itu mengenang ‘serial’ kehidupan sang syaikh tarbiyah. Syaikh yang semasa hidupnya dicurahkan untuk kepentingan dakwah dan kemenangan dakwah. Alm KH Rahmat Abdullah. Cocok dengan namanya. Ia ditakdirkan Allah untuk menjadi perantara turunnya Rahmat Allah dalam berbagai bentuknya. Bagi anak muda atau mahasiswa sosok Ust Rahmat yang penuh kasih merupakan ‘ayah’ yang selalu menasehati anaknya agar selalu meng-‘asholah’kan dakwah. Agar nilai – nilai dakwah tidak di-‘susupi’ kepentingan duniawi. Nasehat lembutnya juga penyegar ‘relung hati’ siapapun yang mendengarnya. Sebagaimana Lukamanul Hakim yang selalu menasehati anaknya. Begitu pula Ust. Rahmat.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut