Kerangka Konseptual Akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi..

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?

Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba.

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri

sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin.

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money).

Selasa, 27 Juli 2010

Overview SET 9th FoSSEI JABODETABEK 2010

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

:)Salam Ekonom Rabbani:)

Sharia Economist Training (SET) 9th FoSSEI JABODETABEK 2010

Latar Belakang

Proses regenerasi dalam perjuangan sosialisasi ekonomi syariah tentunya akan melibatkan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Mahasiswa adalah generasi muda yang menjadi penerus perjuangan dari para pionir bangsa yang telah lebih dulu mempertaruhkan dirinya untuk mengharumkan dan menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia dalam segala bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Pesatnya perkembangan ekonomi Islam di Indonesia, tentunya perlu diimbangi dengan sumber daya insani yang mapan yaitu para ekonom-ekonom muslim yang cerdas, profesional dan berakhlakul karimah.

Atas dasar pemikiran di atas maka Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam JABODETABEK menggagas suatu rangkaian acara bertajuk SET (Sharia Economist Training ) dengan tema “Tempa diri menjadi Ekonom Rabbani”. Rangkaian acara ini diharapkan dapat memberikan sebuah penyadaran bagi generasi muda untuk senantiasa memahami perannya sabagai agent of change yang siap membangun dan mengembangkan perekonomian syariah dalam rangka mewujudkan perekonomian yang makin baik lagi.

Landasan Qur'ani

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS AL Imran : 110)

Tujuan

1. Sebagai gerbang awal memasuki wilayah FoSSEI
2. Sebagai sarana pembentukan idealisme untuk menciptakan kader
yang berpotensi dan tangguh dalam menjalankan dakwah EkonomiIslam.
3. Membangun individu dan kelompok yang mandiri dan profesional.
4. Memberikan pemahaman untuk memperjuangkan Ekonomi Islam
5. Membangun kepribadian muslim dan muslimah yang loyal dan
istiqomah.
6. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan.
7. Mencetak kader-kader FoSSEI yang syamil mutakamil yang akan
berperan di KSEI, komisariat, regional ataupun nasional.

Pelaksanaan

Hari. tanggal : Jum'at - Ahad, 30 Juli - 1 Agustus 2010
Waktu : 09.00 - selesai
Tempat : Kampus STEI SEBI Sawangan - Depok. Kampus Depok: Jl. Raya Parung-Ciputat, Bojongsari - Depok, Jawa Barat - Indonesia

Tema

"Tempa Diri Jadi Ekonom Rabbani"

Konten Kegiatan
1. Materi
2. Diskusi
3. Games
4. Outbound
5. Observasi
6. Pentas Seni

Materi


1. Peran Pemuda Dalam Dakwah Ekonomi Islam
2. Ekonomi Islam Sebagai Sebuah Sistem Hidup
3. Public Speaking Method
4. Serba-Serbi Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI)
5. Ekonomi Islam Solusi Pembangunan Indonesia

Perlengkapan

- Individu

1. Alat tulis

2. Nametag Ukuran 15 cm x 15 cm

( Nama, Asal Kampus, No. Telpon dan Foto 4 x 6 cm )

3. Alat Sholat, Al Qur’an dan Al Ma'tsurat

4. Pakaian secukupnya

5. Baju Lapangan (siap kotor)

6. Susu sachet 1/orang & roti

7. Slayer

8. Makan siang (harus nasi & air minumnya)


- Kelompok

1. Tikar/ Karpet 2

2. Senter 2

3. Lilin 5 Buah

4. Gelas & teko 2


Penugasan

- Individu

1. Menulis Essay dengan tema : “ Ekonomi yang Ideal”

2. Mencari 5 Artikel/ Berita tentang perkembangan ekonomi islam 3 bulan terakhir ini

3. Hafalan surat al baqarah: 275,276, dan 278

4. Melaksanakan standar ibadah harian, yaitu:

- Dhuha Min 2 rakaat /hari

- Tilawah minimal 5 lembar/hari

- Tahajud minimal 2 rakaat/hari

- Al ma'tsurat wajib pagi&petang

- Shalat berjamaah


Petunjuk Teknis

1. Masing-masing KSEI mengirimkan delegasi atau peserta sebanyak antara 5 - 12 orang.
Pengembalian formulir maksimal tanggal 29 Juli 2010 ke Komisariat masing-masing. atau bisa
dikirim via email ke shariaeconomist@gmail.com
2. Masing -masing Peserta membayar kontribusi sejumlah Rp. 50.000 dan pembayaran pada:
maksimal tanggal : 29 Juli 2010
No Rekening : 004 7051 364 BSM cab. Pondok Indah a.n Muna Arifah. Konfirmasi transfer
ke 0852 2665 9272

Rute Keberangkatan (tanggung jawab masing-masing KSEI)

1. Dari Lebak Bulus, naik angkot nomor 106 jurusan Lb. Bulus - Parung. Turun di PLN
Sawangan. Cari Gg. Pondok Rangga, masuk sekitar 200 m.
2. Dari Ciputat, naik angkot nomor 29 jurusan Ciputat - Parung. Turun di PLN
Sawangan. Cari Gg. Pondok Rangga, masuk sekitar 200 m.
3. Dari Terminal depok, naik angkot nomor 03 jurusan Depok - Parung. Turun di PLN
Sawangan. Cari Gg. Pondok Rangga, masuk sekitar 200 m.
4. Dari Terminal Baranangsiang, naik Bis Pusaka jurusan Parung. Kemudian Naik
angkot no 106 turun PLN Sawangan. Cari Gg. Pondok Rangga, masuk sekitar 200 m.
5. Dari YASMIN, naik pusaka Pusaka jurusan Parung. Kemudian Naik
angkot no 106 turun PLN Sawangan. Cari Gg. Pondok Rangga, masuk sekitar 200 m.

for more info :

Hani (08989804977)
Fahmi (08987745084)

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

a.n

-HPD SET 9th FJ 2010-
Share:

Senin, 26 Juli 2010

Ekonomi Internasional Umar ibn Al Khattab (Tinjauan Normatif Islami ASEAN – China Free Trade Agreement 2010)

Tahun 2010 ini merupakan babak baru bagi perdagangan ASEAN – Cina yang diantara anggota-anggota negara akan berupaya meraih pasar bagi produk-produk domestik mereka. Hubungan multilateral ini memiliki manfaat bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menandatangai perjanian ACFTA karena adanya kelonggaran fiskal antara negara yang satu dengan yang lainnya. Setidaknya ini akan punya dampak untuk menstimulus gairah perekonomian di setiap negara meskipun masih saja ada persoalan-persoalan rumah yang mesti diselesaikan untuk memaksimalkan perdagangan bebas ini.
Share:

Peperangan Dual Banking System 2010 (warming up series to ‘duel’ series)

Sistem Perbankan Pasca Krisis 2008

Runtuhnya sektor keuangan dunia yang dimotori oleh keuangan Amerika Serikat memperlihatkan kembali ketidakstabilan dan kebobrokan capitalism economics dimana pada setiap aktivitas ekonomi selalu hanya bermotif menggelembungkan keuntungan meskipun dengan cara-cara yang sama sekali tidak memperdulikan dampak secara makro. Krisis yang berawal dari terlalu ekspansifnya pemerintah AS dalam memberikan kredit KPR kepada siapapun tanpa terkecuali debitur yang sangat berisiko tinggi ini telah meruntuhkan sektor keuangan AS dan setidaknya tiga dari lima bank investasi terbesar menyatakan diri bangkrut. Lehman Brothers bangkrut september 2008, Bear Sterns dan Merril Lynch terpaksa diambil alih oleh bank lain. Sementara Morgan Stanley dan Goldman Sachs meskipun masih bisa bertahan tetapi berubah menjadi bank komersial. Begitu pula American International Group (AIG) yang juga merasakan kerugian yang sangat besar. Dan pada akhirnya harga minyak pun anjlok.

Sektor keuangan Indonesia ternyata juga jadi tempat ‘bermukimnya’ dampak kehancuran ekonomi global yang titik ledaknya berasal dari Amerika Serikat. Negara adidaya itu memang memiliki kedigdayaan ekonomi yang hingga beberapa dekade belum ada Negara atau system yang kemudian meruntuhkannya dan menggantikan dengan system ekonomi yang sama sekali baru. Krisis ekonomi yang bersumber dari defaultnya subrime mortgage ini memperlihatkan bahwa krisis akan selalu terjadi layaknya sebuah siklus. Hanya saja keteraturan waktunya yang kemungkinan tidak akan pernah sama. Tetapi pada suatu waktu krisis pasti terjadi.
Berdasarkan laporan ekonomi Bank Indonesia, dampak yang benar-benar terasa dan nyata adalah besarnya penarikan dana asing dari instrument keuangan domestic dan mengetatnya likuiditas keuangan domestic yang disebabkan ketatnya pula likuiditas global. Ini tentu sangat berdampak pada rentannya kepercayaan masyarakat terhadap ketahanan bank secara nasional. Nasabah tampaknya sudah memahami betul bahwa kondisi yang buruk saat itu bisa saja mengakibatkan dana simpanan menjadi sulit dicairkan atau bahkan bisa saja terancam hilang. Maka, jika melihat pula yang dilakukan pemerintah adalah membuat PERPPU (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) nomor 3 tahun 2008 dengan mengamandemen UU LPS yang mengatur kriteria dan persyaratan cakupan dana pihak ketiga (dana nasabah penyimpan) yang sebelumnya hanya menjamin hingga Rp. 100 juta, menjadi Rp 2 Miliar. Dan setidaknya peraturan ini mampu meredakan gejolak ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank. Terlepas dari dugaan perubahan peraturan yang dilaporkan BPK beberapa saat lalu hanya untuk kepentingan rencana bail out Bank Century yang likuiditasnya melorot karena dirampok pemiliknya. Tetapi secara fundamental BI mengklaim perbankan yang merupakan bagian dari instrumen keuangan tetap berada pada posisi yang cukup stabil, mengingat peraturannya perbankan dilarang menginvestasikan dana nasabahnya pada instrumen yang berisiko tinggi.

Lain hal dengan perbankan syariah yang saat itu baru-baru saja menjajaki pertumbuhannya. Sebab sudah ada lima bank pada akhir 2008 yang telah beroperasi dengan status Bank Umum Syariah (BUS) setelah lama menginduk dari bank asalnya masing-masing. Dengan didukung Unit Usaha Syariah (UUS) yang dimiliki bank umum konvensional sebanyak 25 UUS dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sebanyak 139 bank, membuahkan hasil yang menggembirakan di tengah terpaan krisis global. Perbankan syariah secara nasional terkategori aman dan tahan terhadap krisis. Ini dibuktikan dengan sumbangsihnya terhadap negara dalam bentuk penyerapan tenaga kerja yang bekerja di bank syariah sebanyak kurang lebih 6.609 orang dan pembiayaan mencapai Rp. 38,199 triliun dimana fokus utamanya adalah untuk menggenjot sektor riil dengan basis pembiayaan yang relatif menguntungkan dan didasarkan pada prinsip keadilan diantara dua pihak, selain tentunya sesuai syariah dalam mekanisme yang jadi landasan fundamental.


Warming up Dua Sistem Perbankan

Dengan disadari atau tidak bahwa perbankan yang secara nasional masih didominasi oleh perbankan konvensional, mulai muncul riak-riak ketidakpercayaan masyarakat dengan system perbankan yang satu ini. Mengingat apa yang terjadi beberapa saat setelah krisis, bank-bank sangat ketat likuiditasnya. Ada LDR (Loan Deposit Ratio) yang melebihi 100% dari dana pihak ketiganya memberikan sinyal kekhawatiran mengenai posisi likuiditas yang sehat bagi bank. Khawatir jika kredit kembali macet maka dana-dana nasabah terancam hangus terutama diluar plafon penjaminan.

Rentannya perbankan nasional ketika itu menjadi momentum kembali diliriknya bank syariah yang meskipun telah lama berdiri beberapa bank tetapi ketertarikan masyarakat akan keuntungan bunga yang besar dari bank konvensional mengalihkan mereka dari perbankan syariah. Ini pula saat dimana perbankan syariah yang dilaporkan Bank Indonesia tahan terhadap terpaan krisis menjadi ‘teladan ekonomi’ secara agregat. Sebab skema pembiayaan yang menjadi basisnya bermuara pada sektor riil. Dimana krisis yang sering dirasakan Indonesia tidak terlalu berpengaruh secara fundamental terhadap ekonomi nasional dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang disumbangkan dari sektor riil cukup signifikan memproteksi dampak krisis yang besar. Begitupula dengan perbankan syariah. Karena tidak melakukan penyertaan di sektor keuangan dalam jumlah yang sangat besar dan berisiko, maka dampaknya pun hampir tidak dirasakan.
Share:

Kamis, 22 Juli 2010

Menanggapi Indeksasi Return Sektor Riil pada Pricing Perbankan Syariah //

Barusan di Forum Riset Perbankan Syariah (FRPS) Bank Indonesia yang di selenggarakan di Universitas Sriwijaya Pelembang. sebenarnya cuma ada lima pemakalah. tapi diantara hasil riset yang cukup menjadi isu penting bagi saya adalah hasil riset yang dilakukan oleh Bank Indonesia kerjasama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. kurang lebih tentang indeks return sektor rill pada perbankan syariah. Tepatnya saya tidak tau. Karena dalam booklet Bank Indonesia tidak dicantumkan.

sebenarnya saya juga tidak terlalu mengerti pembahasannya seperti apa detailnya. Apa menentukan interval return dalam equivalent rate pada produk bank syariah baik produk penghimpunan dan pembiayaan. Tapi kalo diamati sepertinya pada produk pembiayaannya. pada tawaran return yang akan diberikan jika unit usaha pertanian dan pertambangan mau mengajukan pembiayaan atas usahanya itu. Ini memang jadi sorotan bagi saya pribadi. sebab margin produk selama ini menjadi banyak perbincangan di kalangan prkatisi dan akademisi ekonomi syariah.

Keputusan bersama putra-putra bangsa ini untuk membentuk institusi keuangan dan perbankan syariah di negeri ini juga pastinya tidak bisa menghindari segala tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Terjadinya Dual Banking System (sistem Perbankan Ganda) pada perekonomian indonesia ini juga punya tantangannya sendiri. tantangan persaingan. tantangan inovasi produk dan pengembangan teknologi untuk memberikan layanan perbankan yang mudah dan murah juga menawarkan return yang menjanjikan. belum lagi tantangan bank syariah dalam menawarkan produk pembiayaan untuk tentunya mendapatkan return dari selisih equivalent rate pembiayaan dikurangi equivalent rate penghimpunan, yang disebut spread. Bagusnya dalam sistem perbankan syariah negative spread adalah hal yang tidak mungkin terjadi pada masing-masing bank syariah. Nah, yang dilakukan selama ini oleh bank syariah dalam pricing produknya, melakukan benchmarking terhadap interest rate pasar atau minimal mengacu pada suku bunga BI. dengan pertimbangan kompetisi antar bank untuk menarik nasabahnya untuk menyimpan dana di banknya. Maka, mau tidak mau. Suka tidak suka, bank syariah sebagai rival baru bagi bank konvensional secara langsung terpengaruhi tingkat suku bunga yang ditawarkan bank konvensional. Mengingat, floating nasabah bangsa ini, meskipun negeri muslim, masih hitung-hitungan soal berapa yang didapat jika menyimpan dananya di bank. Huuhh...membingungkan. Resah saya.

langsung saja deh. Saya sebenarnya mengungkapkan ini karena dalam forum tadi tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada pemakalah. Sudah dua kali angkat tangan, mata moderataor pun tak kunjung "melihat" tanganku yang mungkin terlalu kecil ditambah posisi sedang duduk. Jadi mungkin tidak terlalu tinggi diantara penanya lain. Ahaay.. Jadi melimpahkan rasa penasaran saya. Saya coba tulis saja yang saya rasakan, pikirkan dan ....(apa ya). Sedih. Ah tidak juga. Karena katanya senin baru akan diposting di webnya MES. Jadi nanti bisa komentar disana. Tapi untuk sekarang kegelisahan ini harus segera dihempaskan. Karena langsung mau tidur. ga enak jika tidur membawa luka di hati saya. (Ah alay banget sih..ha).

pertanyaan yang rencana saya tanyakan.

mengingat bahwa dalam kaidah atau tepatnya tips dalam akuntansi. Bahwa jika bagi industri apapun baik bank, manufaktur atau sewa. Jika menginginkan fleksibilitas interval return atau keuntungan yang diinginkan. Maksudnya agar keuntungan itu bisa secara leluasa ditentukan sendiri oleh industri, maka tekan segala fixed cost seefisien mungkin. Maka, akan semakin fleksibel dalam menentukan margin keuntungan. Nah, apakah adanya indeksasi ini yang nantinya akan menkategorikan equivalent rate produk pembiayaan bank syariah akan mempengaruhi secara negatif pada fleksibilitas tersebut? Karena bagi saya nantinya akan jauh ke depan, harusnya persaingan antar bank syariah pada interval return itu dalam pricing produknya. AAhhhh.. sayang sekali.

Tapi sejauh ini riset itu benar-benar menyentil keingintahuan saya tentang pricing yang seharusnya dilakukan oleh institusi perbankan. Agar equivalent rate yang ditentukan nanti juga kompetitif. Kemudian juga tidak mengarah pada eksploitasi. Dan agar nantinya kekhawatiran-kekhawatiran margin yang diperoleh dari transaksi pembiayaan tidak terkategorikan sebagai riba.

Allahku Yang Maha Baik, Izinkan kuteruskan tulisan menjadi lebih komprehensif. Amin. Next essay.
Waallahu alam bish showab
Share:

Rabu, 21 Juli 2010

Celaka Jika ‘Buta’ Dalam Kegelapan


Apalagi kecelakan yang paling mengerikan selain dari butanya nurani dalam kegelapan yang sedang menimpa atas suatu negeri. Negeri yang gersang ini hampir mengenaskan karena tidak hadir kembali sosok pahlwan yang mau menyalakan lilin dan mempertahankan kontinuitas cahaya lilin itu agar bisa selalu menyinari dalam gelap. Kegelapan negeri ini terlalu pekat. Pekat laiknya kopi yang terlalu banyak komposisinya. Pahit rasanya. Cuma sebagian kecil yang menyukainya. Itupula banyak faktor. Ada yang tidak sanggup membeli gula. Ada pula yang memang sedang mengidap penyakit diabetes. Hampir tidak ada yang benar-benar menyukai pahit melainkan karena keterpaksaan saat meminumnya. Begitu pula negeri ini. Tidak ada yang senang terus-menerus dalam gelap. Tidak tentu arah. Tidak menentu tujuan. Dan lambat dalam hal apapun. Cuma secercik cahaya yang bisa menuntun langkah kaki agar tetap bisa melangkah.

Lantas bagaimana jika buta dalam gelap? Dalam dirinya saja sudah tidak terarah. Terlebih dalam kondisi gelap gulita. Kecelakaanlah akhirnya.

Ini yang membuat kita semakin geram jika kegelapan negeri ini ternyata dipimpin oleh orang-orang yang ‘buta’. Analoginya sederhana. Jika kita berada dalam ruangan yang gelap. Kemudian penuntun kita ternyata buta penglihatan fisiknya. Harus kemanakah kita? Tidak ada aktivitas yang bisa lakukan kecuali selalu mencela kegelapan dengan menghujat-hujat perusahaan listrik. Begitulah kita hari ini. Hampir jika negeri ini meredup lebih gelap dari sebelumnya, kita semua bingung harus melakukan apa. Tetapi setidaknya kita bisa menuntut kepada para ‘masinis’ kereta panjang negeri ini agar bisa selalu menuntun kita sebagai masyarakat untuk tetap selalu optimis meski dalam gelap. Inilah yang sepertinya kita sepakat meskipun tidak memutuskannya lewat konsensus, bahwa negeri ini ternyata tidak dituntun oleh masinis yang mau menuntun penumpangnya untuk berada pada jalur yang benar. Tampaknya memang belum tepat juga jika dianggap tidak mau. Sebab kemauan yang melahirkan kinerja bermula dari pemahaman. Mungkin tepatnya masinis itu belum atau bahkan tidak pernah tau kemana penumpang ini harus dituntun. Sehingga sekalipun menuntun, tapi kadang menjerumuskan.

Ada satu kegeraman yang membuat dada meradang. Seolah aliran darah ini mengalir sangat cepat sehingga terasa muncul riak-riak emosional. Pagi ini (Rabu, 17 Februari 2010). Sesaat setelah membaca halaman demi halaman media massa nasional. Di pojok kiri bawah halaman 6 Harian Republika. Ada berita yang nyentil menurut saya. Berita tentang Batam yang PemKotnya berencana mengenakan pajak kepada PSK (Pekerja Seks Komersil) singkatan umumnya. Kepanjangan bagiku PSK itu (Pekerjaan Sangat Kotor). Bagaimana mungkin PAD (Pendapatan Asli Daerah) bisa bersumber dari bisnis illegal yang memang tak akan pernah legal? Bukankah ini sinyal pembenaran praktek seks bebas di pulau yang tidak jauh dari Singapura ini? Hhhhuuuh. Mengapa sangat tergiur dengan potensi pendapatan daerah yang akan bisa diserap sedang dampaknya pula jauh lebih besar dari besaran anggaran yang bisa diserap? Secara normatif tujuan yang benar harus dilakukan pada proses-prose yang benar pula. Agar tujuannya benar-benar terwujud. Ternyata secara statistik juga tercatat rapi berapa jumlah PSK yang beredar di Batam itu. Ditambah hitung-hitungan yang akhirnya keluar angka Rp 6,4 miliar per tahun sebagai angka potensi pajak yang akan diterima. Begini redaksinya. “Jika nilai pajak Rp 150.000, dikalikan 1.200 PSK, kali 30 hari kali 12 bulan, PAD yang bisa didapat Rp 6,4 miliar,” kata dia(Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Riki Syolihin). Luar biasa. Fasih benar retorikanya. Cermat pula hitungannya. Memang ‘layak’ jadi anggota dewan. Geli harusnya kita. Tampaknya tahu betul dimana saja PSK itu beredar. Dan agenda yang cukup ‘cemerlang’ juga untuk mensurvei PSK yang menduduki kota Batam. Tapi statistik orang-orang miskin dianggap sampingan. Katanya di Teluk Panda ada 40 Bar yang di dalamnya terdapat masing-masing 30 PSK. Jeli juga ternyata ketika membedakan mana yang PSK dan yang bukan (karyawan pengunjung atau yang lainnya).

Apa jadinya negeri ini jika semua itu terjadi. Sudah gelap, dituntun oleh orang buta pula. Dan sepertinya memang negeri ini semakin mencemaskan. Sebagaimana kecemasan Asro Kamal Rokan. Yang Ia sangat cemas bahwa bangsa ini selalu dan tampak sedang menyakiti dirinya sendiri. Cemas pula Aku sebagai putra bangsa ini. Cemas jika telah ‘halalnya’ negeri ini untuk di azab karena zina dan riba sudah akut pada penyakit bangsa ini.

Share:

Menciptakan Sebab Diberikannya Diutusnya“Burung dan Sarang Laba-Laba”

Kudongakkan kepala, dan kulihat kaki beberapa orang. Aku berkata,”Wahai Nabi Allah, andaikata mereka melongokkan pandangannya, tentu mereka akan melihat kita. ”Tutur Abu Bakar. Rasulullah saw mengatakan ,”Diamlah wahai Abu Bakar. Dua orang, dan yang ketiganya adalah Allah. Dalam riwayat yang lain,” Apa perkiraanmu wahai Abu Bakar tentang dua orang, sedang yang ketiganya adalah Allah?” Tanya Rasulullah.

Dialognya menyejarah. Dialog itu terjadi saat keduanya berada dalam gua Tsur yang merupakan awal proses hijrahnya Rasulullah bersama Abu Bakar setelah ada perintah dari Allah SWT. Cuma itu yang bisa rasul katakan kepada sahabat dekatnya. Karena selain tidak ada lagi yang dapat menolongnya, tidak ada pula wilayah kemungkinan yang mampu menghindarinya dari kejaran Quraisy. Sebab sudah ada pengepungan di sekeliling gua itu. Maka yang mereka punya cuma Allah. Tuhannya.

Siapa yang saat ini tidak merasa terkepung dengan segala kemunafikan-kemunafikan dunia. Yang mengakibatkan usaha-usaha penjernihan diri selalu menghadapi kendala. Lingkungan saat ini yang sebagaimana kita pahami adalah ironi. Paradoks dengan maksud diciptakannya manusia. Lingkungan tidak lagi mendukung keberlangsungan hidup yang serasi dan selaras dengan perintah tuhan. Sebab ia menyimpan potensi merusak. Tidak lain juga karena manusianya yang menimbulkan potensi itu.

Ada kekhawatiran yang membuat kita jadi rumit menghadapinya. Bahwa kerja-kerja perbaikan diri kita selalu ditambah dengan kerja-kerja menghadapi hambatan bahkan penolakan. Pastinya disetiap usaha itu selalu saja ada awal yang mengharuskan kita mereduksinya terlebih dahulu. Baru kemudian melesat dalam memperbaiki diri dan memproduksi kebaikan-kebaikan. Maka kaidah dalam kebenaran saat ini adalah sulit. Apalagi sendirian untuk selalu dalam kebenaran. Maka hadirnya ‘pihak lain’ mutlak dibutuhkan. Baik keluarga, teman, atau siapapun yang mau selalu dalam kebenaran. Tetapi hakikatnya setiap kita butuh Allah. Dimana pertolongannya akan betul-betul terasa saat tidak ada lagi yang punya peran mendukung kebenaran. Karena memang diantara rangkaian aktivitas kita, Allah punya peran yang penuh akan hasilnya. Maka memang benar adanya bahwa setiap kita hanya dituntut untuk memproduksi usaha bukan hasil. Tetapi muara produksi itu juga harus tervisualisasikan. Agar ketersesuaian antara tujuan dan usaha bisa terwujud.

Yang saat ini mendesak ialah menghadirkan sebab turunnya pertolongan Allah. Meskipun pada hakikatnya Ia selalu merahmati hamba-hambaNya. Tetapi persoalan yang dimaksud adalah kesinambungannya perlindungan Allah dalam hal-hal yang berada diluar kendali kita sebagai manusia. Dimana kekhilafan punya kemungkinan besar untuk terus berulang dilakukan. Hal inilah yang sama-sama tidak kita kehendaki. Maka dari itu kita perlu menciptakan sebab-sebab yang memungkinkan diberikannya perlindungan kepada kita ketika dalam keadaan lupa atau terhimpit.

Nampaknya cuma selalu memperbaiki ketaatan dan terus menerus taat dengan perintah Allah-lah yang dengannya akan jadi sebab turunnya pertolongan Allah. Pertolongan yang terjadi seperti saat Rasul dan Abu Bakar berada dalam gua. Maka ketika kafir Quraisy mencari jejak-jejak keberadaan rasul, Allah membuat ‘tabir’ yang seolah ‘menghijab’ logika mereka. Yang dalam benaknya mengangggap cukup yakin bahwa tidak mungkin ada seseorang di dalam gua sedang sarang laba-laba dan burung berada tepat di mulut gua Tsur saat itu. Itulah yang banyak kalangan bahkan mengkategorikannya sebagai mukjizat. Walaupun ada pula yang tidak. Tetapi terlepas dari itu, yang jelas itu wujud ‘campur tangan’ Allah bersama orang-orang yang selalu komitmen dalam kebenaran. Dan sejatinya dalam pesona Rasulullah yang jadi pemicunya. Kelayakan untuk meraih pertolongan ‘spesial’ itu timbul dari dalam diri Rasulullah. Keluhuran, kemuliaan, dan kepatuhan kepada Rabbnya.

Ini pula nampaknya yang akan mereduksi pemahaman bahwa karakter seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungan dalam porsi yang besa dengan mengabaikan variable lain. Dan mungkin pernyataan James Allen, seorang ahli psikologi kepribadian, bahwa lingkungan itu representasi dari karakter seseorang yang paling berpengaruh di dalamnya ada benarnya juga. Karena menurutnya jika lingkungan yang membentuk kepribadian seseorang maka hilanglah kemerdekaannya.

Yakinilah diantara rangkaian aktivitas amal kita setahun lalu akan jadi pemicu hadirnya pertolongan-pertolongan Allah di masa mendatang. Dengan syarat, ikhlas disertakan dalam amal-amal itu. Maka hari ini adalah momentum tepat untuk kembali berpijak dengan lebih yakin bersama kebenaran. Meski sendirian. Saat ini dan setahun kedepan adalah masa dimana kita selalu bersama Allah setiap saat dengan intensitas yang jauh lebih besar. Agar cinta kita kepada Allah bisa berbalas dengan lebih terasa. Dan agar kita bisa menghadirkan diantara perjalanan hidup kita, turunnya ‘sarang laba-laba dan seekor burung’ sebagai wujud telah terbalasnya cinta kita dalam bentuk pertolongan. Semoga

Share:

Sabtu, 17 Juli 2010

Perjuangan Kita dan Perjuangan Mereka Disana


KNRP - Human Right Watch mendesak Israel agar segera mencabut pemboikotan yang dilakukannya atas Gaza. Terutama terkait bahan-bahan pendidikan yang sangat dibutuhkan murid-murid di Gaza. Hingga hari ini, murid-murid Gaza kesulitan belajar karena media belajar mereka, termasuk buku pelajaran, buku tulis dan berbagai peralatan belajar seperti kertas, pinsil maupun pulpen, sulit ditemukan di Gaza.


Duhai saudaraku,

Saat ini ada hal yang harus kita semua ingat, bahwa kelesuan dalam berjuang, kejumudan dalam menjaga konsistensi amal, kebosanan ketika menjalani aktivitas yang produktif adalah petaka paling berbahaya yang boleh jadi ia merupakan pintu untuk memungkinkan kita keluar dari kesadaran pada makna hakiki sebuah perjuangan. Karakteristik perjuangan selalu akan menimbulkan kelelahan fisik, kerumitan berfikir dan timbulnya konflik-konflik. Memang selalu begitu kaidahnya. Hampir tidak ada dalam sebuah perjuangan itu kemudian ditemukan keasyikan-keasyikan duniawi. Kesenangan-kesenangan nafsu. Karena sekali lagi tabiatnya memang begitu.

Duhai saudaraku,

Bergabungnya kita dalam sebuah jama’ah jangan kemudian hanya mau memanfaatkannya saja dengan tanpa menerima segala risiko pengorbanan yang harus dipikul. Ketergabungan kita sekarang adalah takdir Allah yang kelak kita harus yakini bahwa Ia akan menampakkan apa hikmah di balik segala keletihan yang sama-sama kita rasakan saat ini.

Yakinilah saudaraku, setiap kita di sini adalah pilihan diantara manusia lainnya. Dimana Allah memilih kita sebagai punggawa agamaNya. Risiko pemilihan itu pasti ada.

Saudaraku, Jangan kemudian pengorbanan pendahulu-pendahulu kita demi mempertahankan dan menyebarluaskan Islam dengan bentuk wajah Ekonomi disepelekan begitu saja. Disadari atau tidak mereka menyimpan begitu banyak harapan agar kelak setelah masa ‘istirahat’ itu telah tiba ‘panji’ ini harus terus digenggam dengan teguh hingga Allah mentakdirkan masa bumi ini berakhir.

Wahai saudaraku,

Potongan berita di atas cuma sedikit dari banyaknya potret tekanan musuh Allah kepada pejuang-pejuang Islam. Embargo ekonomi dan pemboikotan itu nyata mereka hadapi. Konteks aktivitas mereka disana dan aktivitas kita di sini saat ini adalah sama. Sama- sama berjuang. Sama-sama berusaha memperkaya diri dengan motif bukan untuk kepentingan pribadi dan sesaat. Tapi untuk Islam. Untuk mewujudkan agama ini kembali mengulang takdir kejayaannya seperti dulu.

Wahai saudaraku,

Hampir selalu begitu masalah kita. Tidak ada gejolak apapun di sekitar kita, tetapi intensitas kejumudan kita sangat sering. Apa masalahnya? Apa yang kemudian membuat kita sangat letih padahal hakikatnya kita tidak melakukan apa-apa. Sekalipun kita melakukan sesuatu apakah itu yang patut dibanggakan di hadapan Allah. Amal yang besar pun tidak. Amal yang ikhlas pun diragukan. Sebab selalu setelah amal itu dilakukan, selalu pula kita tidak mampu memaknainya.

Saudaraku,

Menyadari amal kita terlalu sedikit harusnya membuat kita semakin bersemangat untuk mengkapitalisasinya menjadi lebih banyak. Lebih ikhlas dan lebih memberikan kemanfaatn kepada banyak orang. Seperti pengorbanan dalam beramal mereka disana. Di Palestina. Di wilayah yang disucikan Tuhan. Karena kita ditakdirkan untuk menerima dunia akhir zaman ini dengan segala kekacauannya. Ditakdirkan pula kita memperbaikinya dengan Islam. Dan ditakdirkannya pula kita menjadi punggawa umat yang mempertemukan mereka dengan kampung halamannya, syurga.

Share:

Memang Para Syuhada Itu Selalu Mengagumkan


Diantara kekaguman para pengagum ialah pada pesona tokoh yang dikaguminya. Ada latar yang mendasari yang juga jadi alasan mengapa ia sangat mengagumi tokoh itu. Sebab itu adalah pesona sang tokoh. Dan kaidah umumnya adalah bahwa sang tokoh telah memenuhi segala syarat dan ciri-ciri yang sengaja atau tidak telah dipersyaratkan bagi sang pengagum untuk kemudian menjadi bagian dari kehidupannya untuk senantiasa dikagumi. Maka, ‘konsekuensi’ positif yang logis adalah pengagum akan serta merta menjadikan tokoh yang dikaguminya itu sebagai cermin untuk menjadi ‘benchmark (patokan) nilai’ dalam melakukan tindakan-tindakan fisik, pemikiran dan emosional. Dan pengagum yang benar itu selalu mendasarkan nilai itu tetap pada kemurnian nilai ilahiah. Dimana ciri dan syarat yang dipersyaratkan tadi tidak berada di luar dari nilai-nilai robbani ketuhanan). Banyak motif memang diantara para pengagum itu mengagumi berbagai tokoh.Bisa bagian dari potret diri di masa depan yang diinginkan. Bisa juga karena secara unik memang tokoh itu telah melampaui keunikan-keunikan manusia pada umumnya. Atau juga karena sang tokoh terlalu banyak memberikan efek kebaikan kepada siapapun meskipun sang pengagum tidak secara langsung mengkonsumsi kebaikannya. Tapi dalam kaitannya dengan keuniversalan nilai, maka bagi siapapun yang menjadi entah sumber kebaikan, atau perantara kebaikan, atau juga penikmat kebaikan atau bahkan pengamat kebaikan, maka siapapun kita dan seperti apapun kita dan dalam golongan apapun kita, kita meyakini juga membenarkan, juga mengagumi jenis apapun kebaikan itu. Sebab ia(kebaikan) lahir dari nilai universal yang dimiliki semua manusia yang dianugerahi oleh Sang Maha Baik. Yang Rahmat kebaikanNya jauh melampaui bulir-bulir kebaikan lainnya.

Ada satu kesepakatan universal yang diakui meskipun tanpa ditetapkan melalui konsensus secara formal. Bahwa diantara kekaguman terbesar kita dalam sejarah kemanusiaan ternyata sepakat mengagumi para manusia-manusia mempesona yang rela menjadi tumbal dari tegaknya kemerdekaan dan kebenaran. Menjunjung tinggi cita-cita kemaslahatan orang banyak di atas kepentingan dirinya sebagai seorang manusia yang sarat keinginan dan nafsu pribadi. Entah bagi hartanya, jiwanya dan juga keluarganya. Itulah yang sama-sama kita rasakan bahwa begitu mempesonanya sang tokoh dengan segala pengrobanannya. Menganggap bahwa nyawa merupakan kekayaan dan sesuatu yang sangat berharga bagi diri siapapun, dan kemudian ke-berhargaan itu diserahkan sebagai ‘mahar’ bagi kebenaran juga kemerdekaan adalah tindakan yang melahirkan pesona bagi dirinya dan memancarkan pesona kekaguman bagi sang pengagum. Itu sebabnya kita benar-benar kagum dengan para pahlawan, yang dalam ‘bahasa robbani’ jauh lebih mulia disebut sebagai para syuhada. Ya. Syuhada. Orang yang berhasil mati dalam kemuliaan perjuangan. Yang melatari perjuangannya dengan ikhlas. Kemurnian dan kebersihan dari kepentingan duniawi. Makanya mereka diberi gelar sang Syuhada. Segelintir orang dari umat yang selalu ada tiap zaman ada dan akan tetap dinantikan bentuk kematiannya hingga akhir zaman. Karena itu kita kagum. Sebab itu kita merasakan pesonanya sangat mengagumkan. Dan akan selau begitu perlakuannya bagi sang syahid. Dikagumi. Dimuliakan. Bahkan diabadikan dalam sejarah meskipun takdir zaman telah dihentikan. Kemuliaannya melampaui zamannya dan anak cucunya. Akhirat. Seperti kerelaan berkorban bagi Abu Dujanah yang memiliki nama lengkap Sammak bin Kharsyah Al Khazraji Al Bayadhi Al Anshari dalam berbagai peperangan. Diantaranya adalah perang Badar, Uhud dan Yamamah. Sampai-sampai keinginannya dalam berjuang membuat ia satu-satunya orang yang berani memegang pedang Rasulullah sebagaimana maksud fungsinya. Dan penambah pesonanya ia menerjang pasukan musyrik sembari bersyair,” Aku telah berjanji kepada kekasihku (Nabi), ketika aku berada di bawah pohon korma. Aku tidak akan memilih di barisan belakang. Aku akan menerjang pasukan musuh dengan pedang Allah dan pedang RasulNya. Atau juga pesona Hamzah bin Abdul Muthalib. Sang paman nabi. Yang menjaga nabi dari gangguan musyrikin Makkah dan salah satu pemimpin barisan saat muslimin melakukan tawaf di sekeliling ka’bah untuk menyatakan keislaman mereka secara terang-terangan. Juga ada Ja’far bin Abi Thalib. Kakak yang terpaut 20 tahun dari adiknya, Ali bin Abi Thalib. Yang kemuliannya tidak hanya di dunia. Tetapi juga mencapai negei akhirat. Rasul mengabarkan bahwa Ja’far masuk ke dalam syurga dengan terbang bersama para malaikat. Di Palestina juga ada Izzudin Al Qosam. Syaikh Akhmad Yasin yang lumpuh. Dan yang baru saja syahid di Dubai. Mahmoud AL Mabhuh.

Dalam kondisi apapun. Miskin, cacat, kaya, atau keterdesakan. Para syuhada selalu dikagumi
Share:

Gerakan Kepahlawanan

isefsebiCopy of Logo SSP

Ternyata pahlawan itu ada di sini. Saat semua orang mencari-cari keberadaannya ia muncul di tempat yang boleh dibilang ‘asing’. Entah apa penyebabnya. Tapi kaidah umumnya sepertinya memang begitu. Pahlawan itu sebelum kemunculannya berada pada rumah ‘pembinaan’ yang menjadi taman ilmu mereka untuk kelak akan hadir di tengah carut-marut masyarakat. Saat dimana tak lagi ada yang sanggup menghadapi berbagai problem-problem kemanusiaan.

Para pahlawan saat ini sedang berada pada tahap di’tata’ kepribadiannya. Dikelola potensinya. Dan diarahkan afiliasinya.

Mereka memang tidak dikenal banyak orang. Dan dipikr-pikir memang tak perlu dikenal siapapun. Karena mereka punya komitmen bahwa yang harusnya dirasakan masyarakat adalah amal dan karya mereka, bukan kepopuleran mereka. Pada hakikatnya amal dan karya tidak perlu tahu lebih jauh siapa yang ‘memproduksi’ nya. Dan pahlawan pada umumnya secara konsisten beramal bagi orang lain sembari sangat yakin bahwa ia akan populer diantara makhluk-makhluk langit. Terutama Allah sebagai penciptanya.

Kaidah lainnya para pahlawan itu tidak ‘berserakan’. Tidak sendirian. Tidak pula mau selalu sendirian. Mereka terkapitalisasi dalam satu ikatan. Ukhuwah. Ikatan persaudaraan yang dilandasi pada nilai-nilai hakiki. Bukan kepentingan apalagi bermaksud merusak nilai kepahlawanan saudaranya. Persaudaraan ini dirindukan banyak orang. Persaudaraan ini dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai anugerah Allah yang paling besar setelah keimanan. Dan karenanya ia sulit untuk diwujudkan jika tidak dilandasi keimanan kepada Allah.

Setelah para pahlawan disatukan dengan ikatan persaudaraan. Dan setelah ter’visualisasikan’ tujuan atau visi bersama mereka mengikatkan diri dalam satu jama’ah pergerakan. Yang amalnya jadi amal kolektif (amal Jama’i). Dimana nilai kepahlawanan masing-masing mereka terpetakan menurut peran unggulannya. Sehingga yang tampak bukan lagi pesona sang pahlawan, tapi telah nampak pesona bangunan jama’ah gerakan kepahlawanan. Yang juga dapat kita simpulkan pesona itu memancar dari bangunan Islam yang bahan dasarnya adalah nilai-nilai kepahlawanan para pahlawan.

Maju terus para pahlawan. Agar umat ini bisa bangkit dari tidur-tidur panjang yang melenakan. Dan kelak Allah akan bangkitkan kita dengan kemuliaan sebagaimana pahlawan-pahlawan-Nya. Amin
Share:

Kepastian Hukum Memastikan Ekonomi Yang Kondusif

Kisruh para penegak hukum belakangan ini setidaknya memberikan ekspektasi negatif terhadap perekonomian Indonesia. Iklim investasi terpengaruh karena investor mengalami kekhawatiran ketidakpastian hukum yang sedang terjadi. Ya, walaupun ini menurut beberapa kalangan dampak ini jangka pendek sifatnya dan dalam waktu-waktu kedepan iklim investasi akan normal kembali.

Pengamat Ekonomi Cides Umar Juoro mengatakan kalau kolusi merajalela tentu saja banyak pelaku usaha akan sangat khawatir. Artinya jika ingin mendapatkan proyek harus berbuat curang terlebih dahulu. Ini sangat tidak baik. Ia juga menegaskan pula bahwa target Rp 2.100 triliun investasi setiap tahunnya bisa saja tidak tercapai jika permasalahan ini tidak diselesaikan. Karena 85 persen rencana investasi akan datang dari swasta, sementara pemerintah hanya 15 persen. Ini demi menunjang pertumbuhan ekonomi tujuh persen dalam jangka lima tahun mendatang. ”Kepastian hukum akan sangat mempengaruhi target pencapaian (Republika, 6 Nov 2009).

Kolusi yang belakangan merajalela sejatinya pasti akan mempengaruhi kondisi ekonomi dalam jangka panjang. Jika pembenahan aparatur negara tidak segera menjadi agenda bersama pemerintah, maka persoalan ini akan menambah daftar penghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Elemen-elemen pembangun ekonomi negeri ini sesungguhnya juga berharap agar pertumbuhan positif ekonomi Indonesia di tengah kemerosotan ekonomi negara-negara maju bisa secara bersama dijaga. Mengingat IMF sudah secara resmi menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang mampu tumbuh posistif ketika dampak krisis melanda negara-negara di dunia.

Ini memberikan sinyal baik pada hakikatnya. Bahwa jika kekisruhan ini dijadikan momentum kesadaran bersama untuk mempercepat reformasi birokrasi, kita semua sangat yakin bahwa tanda-tanda kebangkitan bangsa ini semakin jelas. Impian komponen bangsa ini tidak lagi jadi khayalan semata. Dengan satu syarat inti, yaitu lakukan akselerasi reformasi. Agar kepastian hukum negeri ini mendukung dengan pasti pertumbuhan ekonomi.

Share:

Memahami Berarti Memaafkan


Bersama kesabaran ada kaidah bahwa kita sesungguhnya punya daya tahan pribadi dalam soal menerima sesuatu sebagaimana ia adanya. Dan sebagian besar kesempitan jiwa adalah karena kita mengukur dunia bagaimana kita adanya. Ada subjektifitas di ranah itu. Melihat sekeliling dengan kaca mata seorang perfectionist. Tidak ada yang salah memang soal kaca mata itu, karena satu waktu kita perlu mengenakannya untuk keperluan tertentu. Tapi disini soal tepat penggunaannya dengan teap tidaknya dalam hal waktu

Kaidah memahami sesuatu itu apa adanya adalah wilayah kemapanan kita soal pemaafan. Memenangkan diri dari syahwat pembenaran diri yang terlalu dini. Karena semua tercipta dari proses-proses dan tahapan-tahapan. Dan dapat dibenarkan dalam sayriat kita bahwa kemaslahatan umat lebih didahulukan ketimbang syariat yang sifatnya cabang.

Karena proses tarbiyah kita relatif cukup lama, maka tuntutannya adalah semakin murni fitrah kita sebagai manusia. Proses tarbiyah tidak membentuk kita menjadi dan memiliki sifat layaknya malaikat yang selalu beribadah kepada Allah. Tapi tarbiyah adalah proses pemurnian sifat kita agar kebaikan-kebaikan diri mendominasi dibandingkan keburukan. Maka urutannya adalah semakin luas peta pemikiran kita semakin lapanglah dada kita. Karena kita tahu dan cerdas, maka kita yang harus paham. Paham bahwa orang-orang di sekeliling kita ternyata masih berada pada pemikiran jahil. Tuntutan memahami lebih diprioritaskan ketimbang memaksakan kehendak pribadi agar masyarakat melakukan begini-dan begini. Maka ketika dalam dakwah Rasulullah yang sedemikian besar penolakan dan perlawanan terhadap diri beliau, ada tawaran dari Malaikat Jibril untuk memusnahkan kaumnya dengan langkah praktis. Tapi keluhuran beliau berbicara lain. Beliau tetap berdakwah dengan penuh kasih sembari sangat yakin bahwa suatu saat mereka (kaumnya) akan sadar apa yang beliau sampaikan. Mereka pada saat itu hanya belum memahami apa sebenarnya maksud diutusnya Rasul dan kebenaran fakta risalah dari Rabbul Alamin. Berarti ada ruang pemaafan dalam hal dakwah beliau terhadap kaumnya yang menolak dikarenakan ada ketidakmengertian saat itu.

Untuk saat ini maafkanlah mereka karena ketidakmengertian maksud kita. Tindakan yang semoga menjadikan kita lebih mulia di hadapan ALlah. Tindakan yang membuahkan semakin besar kesabaran kita. Maafkanlah.

Share:

Semangat Perubahan

“Kau Mulai jemua berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”

Pernyataan itu berupa penegasan, bahwa kini ternyata kita semakin merasa jemu, jumud, dan jenuh dalam rangkaian perjuangan karena selalu kalah dalam soal menjadi sang juara. Karena ada kenyataan yang menjelaskan sepertinya apa yang kita lakukan tidak berbuah apa-apa. Ada aharapan 7yangh tidak terpenuhi dari apa yang sudah kita lakukan. Tidak ada yang berubah antara sebelumnya dengan kesudahannya.

Stephen R Covey menyatakan bahwa kunci menuju kemampuan untuk berubah adalah perasaan tak berubah tentang siapa anda, bagaimanakah anda, dan apa nilai anda.

Jadi tahapan yang kita lewati sudah benar. Kesadaran bahwa sesungguhnya kita tak berubah adalah momentum yang teapt untuk melompat menuju perubahan.

Jumud, jenuh dan ketidakberartian adalah sifat mental atau emosional kita uyang mesti diatasi dengan semangat itu. Bara panas yang tidak akan pernah redup bahkan mati. Karena kaidahnya sudah begitu. Prosesnya harus seperti itu. Dan karena kaidah dan proses adalah langkah-langkah yang harus dilewati, maka lankah itu adalah SEMANGAT PERUBAHAN>

Share:

Mahasiswa Sebagai Analis Normatif Reformasi Ekonomi

Ekonomi Indonesia belakangan benar-benar tidak dapat diacuhkan begitu saja oleh masyarakat. baik masyarakat politik, ekonomi, pendidikan dan sosial. Mahasiswa sebagai masyarakat pendidikan yang mencoba menyederhanakan semua aspek ketatanegaraan dalam suatu ilmu pengetahuan yang lengkap harus mengawal proses reformasi ekonomi yang liberal tak bermoral dan ekonomi kapitalisme menuju perekonomian yang berkeadilan juga mensejahterakan. Ekonomi yang porsi pertumbuhannya diperbesar pada ekonomi riil, yaitu pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama keberlangsungan operasi pasar modal dan pasar uang harus memiliki aset dasar (underlying asset) yang riil. Sehingga agregat pertumbuhan ekonomi mampu dikapitalisasi dari sektor rill dan keuangan. Mengawal proses reformasi ekonomi itu butuh waktu cukup lama dan membutuhkan kos yang tidak sedikit. Interval antara proses itu juga membutuhklan orang-orang besar yang mengusungnya. Orang-orang yang dengan sangat sadar bahwa reformasi itu perlu kekuatan wacana perekonomian negara dan global untuk dapat menggantikan sistem perekonomian yang lama (konvensional). Kaidahnya mahasiswa harus betul-betul menyadari bahwa untuk “melahirkan” orang-orang besar sebagai pengusung reformasi ekonomi tidak semata-mata puas atas perolehan prestasi akademik di perguruan tinggi, tetapi ukurannya adalah sejauhmana pengetahuan itu mampu ditransformasi menjadi gagasan/ide pada semua lingkup perekonomian (perbankan, lembaga keuangan, unit moneter dan fiskal). Setidaknya ada tiga tahapan yang penulis susun berdasarkan prioritas pelaksanaan. pertama, mewacanakan miniatur ekonomi islam pada semua instrumen ekonomi. Tahap ini adalah tahap dimana mahasiswa berpartisipasi dalam merancang mekanisme ekonomi islam dalam lingkup negara dan global agar penerapannya semakin nyata bahwa ekonomi syariah merupakan opsi terakhir mengatasi kekacauan ekonomi modern (economic chaos). Wacana miniatur ini dapat didukung dengan semakin intensnya penelitian, pengembangan, dan pengawasan insidental perekonomian saat ini untuk dijadikan metode penerapan ilmu ekonomi islam. Pada wilayah inilah peran mahasiswa untuk mampu menjaga dan mengawasi implementasi ekonomi yang merupakan kebijakan pemerintah agar tidak melewati dari wacana ekonomi yang disusun.

Kedua, proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam pribadi mahasiswa pengusung ekonomi Islam. Sehingga antara wacana perekonomian yang islami dengan perilaku/karakter pengusungnya tidak ada gap yang terlalu lebar. Karena sistim ekonomi ini (ekonomi Islam) sangat agung yang diciptakan oelh Yang Maha Agung. Maka ilmu yang agung dan mulia ini harus diterapkan oleh orang-orang yang memiliki kadar keagungan diri maksimal (insan Kamil) dengan menjadikan ukuran maksimalnya adalah seperti agungnya Rasulullah saw. Hal ini penting karena ekonomi islam tidak hanya soal penjelasan atas akad- akad dalam ekonomi, halal-haramnya suatu komoditas, dan penerapan atribut-atribut keislaman dalam perekonomian. Tetapi ada nilai keadilan di dalamnya. Ada keagungan Islam pada setiap interaksi dan transaksi. Ada pertanggungjawaban hakiki yang pasti dilewati. Yang konsep ekonomi lain tidak memiliki laiknya ekonomi Islam. Pada akhirnya, disamping pembinaan pemikiran (fikriyah) saat ini, juga pada saat yang bersamaan porsi pembinaan kerohanian Islam (ruhiyah) harus ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi sebelum pembinaan lainnya agar mahasiswa muslim tidak menjadi penghalang (hijab) atas keagungan Allah dalam Ekonomi Islam. Agar semua umat manusia tahu bahwa setiap kita berasal dari Allah Yang Maha Esa, hidup karena Allah Yang Maha Penyayang, dan akan kembali kepada Allah Yang Maha Adil. Amin

Wallahualam
Share:

Translate

Pengikut