Sabtu, 17 Juli 2010

Mahasiswa Sebagai Analis Normatif Reformasi Ekonomi

Ekonomi Indonesia belakangan benar-benar tidak dapat diacuhkan begitu saja oleh masyarakat. baik masyarakat politik, ekonomi, pendidikan dan sosial. Mahasiswa sebagai masyarakat pendidikan yang mencoba menyederhanakan semua aspek ketatanegaraan dalam suatu ilmu pengetahuan yang lengkap harus mengawal proses reformasi ekonomi yang liberal tak bermoral dan ekonomi kapitalisme menuju perekonomian yang berkeadilan juga mensejahterakan. Ekonomi yang porsi pertumbuhannya diperbesar pada ekonomi riil, yaitu pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama keberlangsungan operasi pasar modal dan pasar uang harus memiliki aset dasar (underlying asset) yang riil. Sehingga agregat pertumbuhan ekonomi mampu dikapitalisasi dari sektor rill dan keuangan. Mengawal proses reformasi ekonomi itu butuh waktu cukup lama dan membutuhkan kos yang tidak sedikit. Interval antara proses itu juga membutuhklan orang-orang besar yang mengusungnya. Orang-orang yang dengan sangat sadar bahwa reformasi itu perlu kekuatan wacana perekonomian negara dan global untuk dapat menggantikan sistem perekonomian yang lama (konvensional). Kaidahnya mahasiswa harus betul-betul menyadari bahwa untuk “melahirkan” orang-orang besar sebagai pengusung reformasi ekonomi tidak semata-mata puas atas perolehan prestasi akademik di perguruan tinggi, tetapi ukurannya adalah sejauhmana pengetahuan itu mampu ditransformasi menjadi gagasan/ide pada semua lingkup perekonomian (perbankan, lembaga keuangan, unit moneter dan fiskal). Setidaknya ada tiga tahapan yang penulis susun berdasarkan prioritas pelaksanaan. pertama, mewacanakan miniatur ekonomi islam pada semua instrumen ekonomi. Tahap ini adalah tahap dimana mahasiswa berpartisipasi dalam merancang mekanisme ekonomi islam dalam lingkup negara dan global agar penerapannya semakin nyata bahwa ekonomi syariah merupakan opsi terakhir mengatasi kekacauan ekonomi modern (economic chaos). Wacana miniatur ini dapat didukung dengan semakin intensnya penelitian, pengembangan, dan pengawasan insidental perekonomian saat ini untuk dijadikan metode penerapan ilmu ekonomi islam. Pada wilayah inilah peran mahasiswa untuk mampu menjaga dan mengawasi implementasi ekonomi yang merupakan kebijakan pemerintah agar tidak melewati dari wacana ekonomi yang disusun.

Kedua, proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam pribadi mahasiswa pengusung ekonomi Islam. Sehingga antara wacana perekonomian yang islami dengan perilaku/karakter pengusungnya tidak ada gap yang terlalu lebar. Karena sistim ekonomi ini (ekonomi Islam) sangat agung yang diciptakan oelh Yang Maha Agung. Maka ilmu yang agung dan mulia ini harus diterapkan oleh orang-orang yang memiliki kadar keagungan diri maksimal (insan Kamil) dengan menjadikan ukuran maksimalnya adalah seperti agungnya Rasulullah saw. Hal ini penting karena ekonomi islam tidak hanya soal penjelasan atas akad- akad dalam ekonomi, halal-haramnya suatu komoditas, dan penerapan atribut-atribut keislaman dalam perekonomian. Tetapi ada nilai keadilan di dalamnya. Ada keagungan Islam pada setiap interaksi dan transaksi. Ada pertanggungjawaban hakiki yang pasti dilewati. Yang konsep ekonomi lain tidak memiliki laiknya ekonomi Islam. Pada akhirnya, disamping pembinaan pemikiran (fikriyah) saat ini, juga pada saat yang bersamaan porsi pembinaan kerohanian Islam (ruhiyah) harus ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi sebelum pembinaan lainnya agar mahasiswa muslim tidak menjadi penghalang (hijab) atas keagungan Allah dalam Ekonomi Islam. Agar semua umat manusia tahu bahwa setiap kita berasal dari Allah Yang Maha Esa, hidup karena Allah Yang Maha Penyayang, dan akan kembali kepada Allah Yang Maha Adil. Amin

Wallahualam
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut