Minggu, 22 Agustus 2010

Cina Telah "Bangun" ; Kapan ya Indonesia..??

Biarkan saja Cina tertidur. Jika ia bangun, maka akan mengguncang dunia.
(Napoleon Bonaparte)


Melihat perkembangan Cina memberikan satu fakta bahwa kini ia telah bangun. Entah karena apa ia bangun. Tapi yang dikira-kira jadi sebab ia bangun bukan karena dibangunkan. Tapi dirinyalah memang merencanakan kapan dan harus melakukan apa ketika ia bangun. Dan apa yang dikemukakan Napoleon Bonaparte 200 tahun lalu itu memang melampaui sejarahnya. Juga dirinya sendiri. Sisi-sisi potensi leading ekonomi sudah diamati Napoleon sejak dulu. Dan kini. Benarlah ia. Cina benar-benar menjadi penentu sekaligus pesaing ekonomi yang diperhitungkan. Ia jadi industri sekaligus jug ajadi pasar yang paling potensial. Jumlah penduduk terbanyak itu memberikan ruang bagi korporasi untuk merebut pasar seluas-luasnya. Keberhasilannya dalam menekan dampak krisis dan tetap bertumbuh positif meskipun dalam angka pertumbuhan yang memang tidak besar. Tapi secara kontekstual dimana negara-negara dunia sedang mengalami guncangan hebat akibat krisis global tahun 2008 lalu, Cina unjuk gigi disana. Dan saat ini Cina menempati posisi ketiga ekonomi terkuat di dunia, setelah Amerika Serikat dan Jepang. Meskipun program restrukturisasi masih perlu dilakukan di sana-sini. Namun siapapun tidak bisa memungkiri bahwa Cina banyak diprediksikan akan me-leading ekonomi dunia.

Sebut saja James Kynge, seorang jurnalis yang memaparkan rahasia keberhasilan ekonomi Cina dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina. Ia memprediksikan bahwa tahun ini (2010) akan menggeser Jerman menjadi eksportir terbesar di dunia setelah menggeser Amerika Serikat di peringkat kedua. Dan apa yang diprediksikan memang benar-benar menunjukkan riak-riak akan hal itu. Dalam bukunya pun diawali dari penguasaan Cina atas perusahaan besar di Jerman, Phoenix. Dimana sisa-sisa baja yang masih tertinggal segera dikirim ke sana, Cina.

Mari melihat fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Agar lebih mudah meraba, apa benar Cina akan menguasai ekonomi dunia kelak. (Rahasia Sukses Ekonomi Cina, James Kynge)

1. Cina menaikkan anggaran militernya, diperkirakan setidaknya enam kali lipat dari anggaran 1991-2004.
2. Cina telah menggeser AS sebagai eksportir terbesar kedua di dunia, dan diprediksikan pada 2010 akan merebut tempat pertama dari Jerman.
3. Pada 2006, Cina memiliki surplus simpanan bank terbesar di dunia—hampir $180 miliar.
4.57 persen perusahaan di kawasan Asia Pasifik percaya bahwa 10 tahun lagi, Cina akan menjadi pasar konsumer terbesar di dunia, menggeser AS.
5. Cadangan devisa Cina adalah yang terbesar di dunia—mencapai $1 triliun lebih.
5. Pada 2006, Cina merupakan ekonomi terbesar kedua setelah AS, dan diperkirakan pada 2050 akan menjadi nomor satu di dunia.

Pada kwartalan akhir tahun 2009, Cina mencatat mengalami pertumbuhan mencapai 10,7%. Keberhasilan penguatan fundamental ekonomi Cina terbukti dengan kemampuannya keluar dari resesi ekonomi pertama kali dari negara-negara dunia pada tahun 2008 lalu. Dan kelak ini bisa menggeser Jepang, terbaik kedua ekonomi dunia. Tahun lalu pun Cina membukukan PDB dengan petumbuhan sebesar 8,7 %. Seketika dunia bertanya-tanya, darimana dan faktor apa yang menjadi sebab pertumbuhan itu.

Mesin utama dari pertumbuhan PDB China adalah investasi: Menurut NBS Investment Bulletin terakhir, pada investasi 2009 atas aset-aset tetap mencapai total 2,25 miliar yuan (US $ 329,64 juta) lebih dari 67 persen PDB. Ini adalah tingkat pertumbuhan yang lebih dari 30 persen, hampir 3,5 kali pertumbuhan PDB. Investasi itu terkonsentrasi di daerah perkotaan, yang mana bagi China adalah terdiri dari hanya 40 persen dari total jumlah penduduk, tetapi merupakan lebih dari 86 persen dari total investasi. (www.erabaru.net)

Fakta-fakta angka di atas menggambarkan boleh jadi benar memang Cina akan menguasai perekonomian dunia kelak. Pertumbuhan fundamental ekonomi yang melampaui dari ekspektasi dalam negeri maupun negara dunia. Apa yang menjadi faktor penentu pertumbuhan itu banyak memang. Salah satunya adalah eksekusi besar-besaran membunuh mati para koruptor sebanyak 4000 orang sejak 2001 hingga 2005. Kemudian, stimulus fiskal pemerintah Cina untuk menekan dampak resesi itu nampaknya efektif.

Dan kini, apa yang bisa diserap oleh Indonesia?

Setidaknya dua faktor yang mengemuka itu bisa dijadikan benchmarking project bagi rencana-rencana pertumbuhan perekonomian Indonesia. Kemauan yang besar dibarengi dengan konsistensi untuk memberantas korupsi dalam negeri tetap harus ditingkatkan dan dijaga. Kemudian, pengamatan yang detil mengenai celah-celah ekonomi yang bisa dibangkitkan dan menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional tentu harus segera menjadi prioritas pemerintah. Pemberian stimulus fiskal yang efektif dan memperkuat ekonomi riil. Sebab prestasi Indonesia yang mampu tetap bertumbuh di tengah krisis adalah karena pilar ekonomi sektor rill. Kedua hal ini setidaknya cukup untuk jangka pendek. Agar terlebih dahulu Indonesia bisa memperkuat fundamental ekonominya sejak dini, hingga kelak memperkuat pilar ekonomi dalam jangka panjang.

Namun, nampaknya riak-riak kontradiksi atas faktor itu mulai muncul. Konsistensi pemerintah memberantas korupsi kembali dipertanyakan. Setelah memberikan remisi dan grasi bagi 58.234 narapidana. Diantaranya 330 narapidana kasus korupsi dan 11 orang langsung bebas. Termasuk Aulia Pohan. Besan Pak Beye (meminjam sebutan Wisnu Nugraha). Lemahnya konsistensi ini juga setidaknya memberikan dampak secara tidak langsung terhadap tata kelola ekonomi dalam negeri. Banyak aset-aset bangsa ini dikuras lalu menguap begitu saja, tidak kembali. Lalu, dana stimulus fiskal yang pernah dikucurkan pemerintah pada awal tahun 2009 lalu dengan besaran Rp 71,3 triliun nampaknya juag tidak memberikan efek yang sangat signifikan. Terbukti dengan kalapnya pemerintah ketika saat-saat menjelang tahun 2010, dimana perjanjian ACFTA akan berlaku. Dan Indonesia? Cenderung tidak siap. Entah karena apa. Barangkali memang tidak mempersiapkan diri. DPR mengusulkan review dan moratorium atas perjanjian itu, hingga industri dalam negeri dalam keadaan siap bersaing. Waaahhh..

Akhir dari hal itu semua, adalah sisi emosional bangsa ini. Secara agregat. Secara nasional negeri ini tidak punya kemauan kuat soal membangun ekonomi bangsanya sendiri. Barangkali segelintir oran yang masih konsisten mengkaji, memahami, dan mengimplementasi faktor-faktor pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dan celah lemahnya kemauan itu sangat fatal. Ekspektasi-ekspektasi ekonomi tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun. Dan dengan apapun Sebab kemuan itu definisi yang tepat adalah sebagaimana Anis Matta menyatakannya, jembatan antara harapan dengan kenyataan. Dan akankah Anda, Saya dan kita semua punya kemauan itu? Saya tidak tau. Yang saya tau bahwa saya, Anda dan kita semua sedang menumbuhkan dan menjalankan lebih konsisten mengenai kemauan itu. Atau jika tidak, biar kutumbuhkan kemauan itu. Untukku dan juga untukmu. Semoga saja.



Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut

Arsip Blog