Rabu, 04 Agustus 2010

Bagaimana Warga Depok Menghadapi Redenominasi Rupiah..??

Slide 4 (foto : Kompas, 4 Agustus 2010)
Heboh. Itu kira-kira yang terjadi sesaat Bank Indonesia setelah mendapatkan Gubernurnya lalu dengan sangat cepat mewacanakan redenominasi rupiah. Penyederhanaan sebanyak 3 digit ini banyak dikhawatirkan menyebabkan ketidakstabilan moneter. Ah, tapi bagi saya tidak terlalu. Sebagai mahasiswa ekonomi (akuntansi), asal sosialisasi dan penjelasannya komprehensif kepada seluruh masyarakat, maka sejatinya tidak terlalu bermasalah. Sebab, kebijakan ini menurut saya agak di luar kebijakan moneter yang memang seharusnya dilakukan BI. Ini soal teknis saja.

Tetapi bagi saya yang menjadi sorotan kepada Bank Indonesia, adalah pada prioritas yang harus dikerjakan BI. BI yang kini superbody, secara fungsional pada sistem perekonomian adalah bertugas menjaga kestabilan moneter, memperkuat nilai mata uang rupiah, dan pengawasan perbankan. Nah, kalau terpilihnya bapak Darmin Nasution belum lama ini, kemudian sudah mewacanakan hal yang demikian, nampaknya memang perlu masyarakat kritisi. Sebab, prioritas yang jauh lebih mendesak kini adalah, upaya memperkuat rupiahnya, bukan pada penyederhanaan sisi “akuntansi”nya saja.

Tugas BI menjaga kestabilan moneter pada dasarnya adalah memeberikan ruang kondusif bagi sektor riil untuk berkembang. Dikotomi antara keduanya sudah lama terjadi hingga kini. Nilai transaksi sektor moneter bisa dilihat data komparasinya dengan transaksi sektor riil. Padahal, pertumbuhan ekonomi bangsa ini ditumpu oleh sektor riil. Karena muara dari sistem moneter yang stabil adalah terjadinya pertumuhan di sektor riil, maka bagi saya yang jauh lebih menjadi prioritas utama Bank Indonesia kini adalah mengarah pada yang demikian. Hingga tidak lagi terjadi dikotomi antara keduanya. Namun, nampaknya jika fundamental ekonomi tidak mampu menjelaskan rasionalisasi tersebut, maka dikotomi tetap saja akan terjadi. Lihat saja kurva IS - LM. (aha..) kurva itu fiktif, tidak pernah sama sekali mencapai titik equilibrium (keseimbangan), bersinggungan saja tidak mungkin.

Bank Indonesia menjadi lebih berwibawa apabila mampu membawa sektor moneter pada kesatabilan yang sustainable dan memberikan (sekali lagi saya katakan) ruang kondusif bagi sektor rill untuk semakin ekspansif.

Saya sebagai mahasiswa ekonomi syariah secara teori mencoba memberikan tips-tips kepada warga depok dalam mendukung mata uang kita (rupiah) agar tetap kuat dan kredibel di mata internasional.

1. Rupiah setidaknya berpengaruh dalam jangka panjang oleh meningkatnya ekspor yang atraktif. Ekspor itu bermula dari adanya kemauan masyarakat dengan dukungan pemerintah untuk melakukan aktivitas perdagangan yang produktif. Artinya, semakin banyak industri kreatif, maka semakin atraktif industri dalam negeri secara agregat (makro).

2. Rupiah juga dipengaruhi oleh supply uang yang beredar di masyarakat. Maka, pastikan uang kita sedikit-sedikit dipergunakan pula untuk investasi. Atau jika menkonsumsi barang atau komoditas, pastikan selalu membeli produk dalam negeri. Ini akan memperkuat industri dalam negeri.

3. Sadari bahwa mata uang yang kini sama-sama kita pergunakan adalah fiat money. Dimana, antara nilai instrinsik dengan nilai nominal pada uang (ex : Rp. 100.000) ada gap yang sangat besar. nilai misalnya, Rp. 100.000, hanya tidak memiliki nilai instrinsiknya yang sebanding. (coba saja sobek, maka ia tidak akan ada artinya lagi). Uang tersebut di buat dengan sangat murah dan Bank Sentral meraup untung dari seignorage (selisih nominal dengan instrinsik) setiap pencetakan uang. Maka, pahami dan dukung wacana memback-up rupiah kita dengan cadangan emas yang Indonesia miliki. Maka rupiah akan menjadi stabil sebagaimana emas, dan juga tidak akan pernah melemah.

Semoga, peran-peran kecil kita akan mengguning dan akan mempercepat rupiah kita mencapai kestabilannya yang sebagaimana diharapkan. Dan kelak saya, Anda, dan kita semua warga depok bisa menjadi teladan dalam berekenomi. Karena akses kita terhadap ekonomi, begitu santun.

Waallahu alam

Erwin Setiawan

Mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah STEI SEBI Kampus Depok

Slide 4

"LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010"

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut

Arsip Blog