Kamis, 12 Agustus 2010

Rekaman Ade - Ary Fiktif ; Lakon apa lagi ini ?

Saya terheran-heran dengan berita bahwa ternyata Polri dan Kejaksaan Agung tidak punya rekaman percakapan Ary Muladi dengan Ade Rahardja (Deputi Bidang Penindakan KPK) dalam dugaan kasus suap dari Anggodo Widjojo melalui Ary. Persis petang tadi, berbuka saya ditemani dengan berita-berita yang miris itu. Waduh, gimana jadinya penegak-penagak hukum itu ternyata membohongi siapapun yang menghuni negeri ini. Termasuk pak Presiden berarti ya. Waah, gawaat tuh.


Kalau yang dimiliki penyidik itu CDR (Call Data Record), yang diyakini bahwa nomor itu adalah punya Ade dan Ary yang pernah saling komunikasi lewat telepon, apa bisa kuat ya dijadikan bukti? Apa bener keduanya berkomunikasi soal suap-menyuap? Bisa jadi kan bukan bicara itu pak. Waduh. Teng..teng..teng.

Saya memandang hal demikian adalah soal yang besar. Soal integritas. Soal kapasitas penegak hukum kita yang meski telah melakukan upaya-upaya reformasi di level struktur dan birokrasi, namun boleh jadi belum mereformasi pada level integritas masing-masing individu di dalamnya. Yaitu pada kapasitas yang menjadi tuntutan para penegak hukum. Kalau value keadilan, transparansi, akuntabel, dan menjunjung tinggi kesetaraan merupakan nilai-nilai yang melekat pada institusi penegak hukum, maka tuntutan penghuninyalah untuk memiliki kapasitas diri yang lebih besar dari nilai-nilai tersebut. Atau jika tidak minimal setara. Ilustrasinya begini. Bagaimana jadinya jika masjid dengan institusinya adalah DKM, lalu kemudian perilaku tidak mencerminkan "kedewanan yang mensejahterakan masjid?"

Soal integritas ini bagi saya begitu penting. Sama pentingnya dengan nilai-nilai itu bisa mewujud di negeri ini. Apa sebab? Penegak hukum itu kan mengayomi bidang hukum di negei ini. Bagi dirinya sendiri, saya, Anda dan Kita semua. Tidak terkecuali. Nah, dalam hal ini apa yang pernah dinyatakan kepolisian bahwa Penyidik Bareskrim memiliki rekaman komunikasi antara Ade dan Ary, lalu kini ternyata menyatakan tidak ada, kemudian apa lagi skenario-skenario yang akan dilakoni di panggung sandiwara bangsa ini? Saya, Anda dan kita semua kini telah melihat satu fakta lagi. Fakta tentang "pengayom hukum" bangsa ini telah menodai dirinya sendiri dan bangsanya. Entah apa yang menjadi maunya, bangsa ini semakin hari semakin dilucuti kehormatannya. Dikikis kebesarannya. Dan menjadi kerdil. Duh.

Saya kira para pembangun bangsa ini kini berujar, dan menyatakan kekecewaannya yang sangat mendalam. Bahwa jerih payahnya membangun keperkasaan bangsa ini harus kembali ringsek karena ulah-ulah seperti ini. Masyarakat yang masih optimis dengan bangsanya ini, dengan para pengambil kebijakan negeri ini, sekarang harus kembali menghela nafas panjangnya kembali. Entah sikap bijak seperti apa yang akan dilakukan. Bersabar atau Kembali Marah. Lalu tumpah ruah lagi ke jalan. Berjibaku dengan deru-deru jalanan. Mengais kesempurnaan bagi bangsanya sendiri yang ia huni. Yang hingga kini tak kunjung berhenti dari praktek dagang sapi. OOh..negeriku. Kapankah engkau bisa begitu mempesona bagi diriku. Yang membuatku begitu hangat dan nyaman dengan selimut langitmu Indonesia? Entahlah

Foto: http://nasional.kompas.com/read/2010/08/12/16555912 Polri.Tak.Mau.Disebut.Melecehkan.DPR

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut

Arsip Blog