Jumat, 20 Agustus 2010

Surat “Cintaku” Untukmu Saudaraku


u.p : Saudaraku yang Kucintai karena Allah

Saudaraku

Takdirku bertemu denganmu memberikan fakta bahwa Allah menyimpan serangkaian hikmah di dalamnya. Bagi siapapun yang sudah memahaminya dan meresapinya, maka beruntunglah. Sebab “sesuatu” atau hikmah itu adalah barang hilang bagiku, bagimu dan bagi kita semua. Sebagai mukmin. Jikapun kini belum lagi dipahami dan dirasakan, itu cuma soal waktu. Kelak Allah akan tampakkan ia dihadapan kita. Sejelas-jelasnya. Seterang-terangnya. Tapi, semoga saja kita tidak merugi. Rugi karena boleh jadi kita sulit mengkap segala hikmah. Yang asasinya, itu untukmu dan juga untukku. Dan boleh jadi pula kita pula yang tidak berkeinginan mencarinya. Atau berusaha memohon padaNya, karena kesulitan diri kita. Perilaku kita. Semoga saja tidak.


Saudaraku,..

Saat-saat kita begitu dekat dengan Allah. Begitu rindu padaNya. Juga rasulNya. Adalah saat-saat yang paling sulit untuk diulang. Kemarin, pada apa kita rindu? Kini, pada apa kita rindu? Apakah sama? Boleh jadi ya, boleh jadi tidak. Dan Esok kita tidak tau. Yang bisa kita lakukan hanya berharap, lalu berusaha,lalu berdo’a, agar saat-saat itu bisa kembali kita rasakan sesering mungkin. Sesering kita mengedipkan mata. Sesering kita menghela nafas. Sesering pula kita saat melupakan Allah dan Rasul. Agar saat-saat lupa itulah kita bisa menggantinya dengan kerinduan. Rindu bermunajat. Rindu bermesraan denganNya. Di pojok-pojok masjid. Di mihrab-mihrab tempat peraduan. Dan antara kita dengan Allah tak lagi “terhijab”. Leluasa untuk mengharap segala kebutuhan kita setelah lelah menjalankan perintahNya. Lelah memenuhi syariatNya. Dan muaranya ialah penghambaan kita yang luhur dan ikhlas. Sehingga kita bisa dengan yakin memohon syurgaNya. Kampung halamanku dan juga dirimu.

Saudaraku..

Upaya-upaya selalu mengingat Allah dan RasulNya sesering mungkin begitu sulit apabila kau dan aku tidak sama-sama mengupayakannya. Upaya sendiri-sendiri memberikan celah kosong yang besar bagi setan untuk menggagalkannya. Sebab mereka tidak sendiri. Tidak pula mau sendiri. Begitupun dengan kemampuannya. Pengetahuannya tentang “kisah-kisah” nenek moyang kita. Juga tentang diri kita. Memberikan informasi yang jelas tentang detil-detil hidup kita. Yang dengannya ia tau betul dimana letak kelemahan kita. Yang dengannya pula ia jadikan celah untuk mempengaruhi kita. Agar diriku dan juga dirimu, jadi “tentara-tentaranya”. Lalu? Ya. Ia menyesatkan saudara-saudara yang lainnya. Jadi sebab “terhijabnya” antara ia dengan Tuhannya. Kemudian? Ya. Bertambah kembali tentaranya. Tentunya kita tidak sama sekali berharap untuk berada diantaranya. Tapi, bagiku, boleh jadi pun bagimu, tidak cukup jika begitu. Hanya harap-harap kosong lalu diam. Setidaknya usaha masing-masing kita ialah memperkaya dan memperkuat kemauan. Memperbesar “volume”nya, dan menumpahkannya jadi nyata. Fakta. Amal. Itu. Harapku. Sebab kemauan adalah jembatan antara harapan-harapan kita dengan kenyataan. Maka, harapku kita bisa sama-sama memperluas jembatan itu dan memanjangkannya, lalu kita sama-sama bisa sampai diperbatasan itu dengan selamat dan dalam kondisi baik. Karena perbatasan itu begitu dirindukan mereka. Para Perindu Syahid. Bukan. Bukan itu yang ia rindukan. Allah. Ya. Allah. Semoga begitupun aku dan dirimu. Sama rindunya. Apa perbatasan itu? Kematian. Maka, mari bersama-sama saudaraku. Menjemput saat-saat itu dengan sesering mungkin mengingat Allah dan RasulNya. Menjalankan perintah dan tuntunan rasulNya bersama. Agar kita bisa saling menutupi celah setan itu. Agar kita pula bisa bersama-sama mengharap dan merindu bersama tentang janji cintaNya, Syurga. Lalu, sama-sama mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Untuk perjalanan kita kelak yang abadi. Sebab kematian adalah muara kita. Bahkan takdir itu telah ditentukanNya sebelum kita sama-sama lahir lalu hidup.

Saudaraku..

Aku dan pun dirimu pasti tak mau berangkat dengan tangan hampa. Sungguh siapapun tiada rela dengan itu. Kini yang bisa kulakukan dan boleh jadi dirimu juga, hanya bisa menangis saat-saat kematian itu teringat. Lalu? Sudah. Selesai. Tapi esok? Begitu sulit untuk sesegera mungkin untuk banyak beramal. Harapku adalah takdir kita bertemu adalah sebagaimana para sahabat rasul dahulu bertemu. Ingati Allah, Rasul dan juga kematian. Karena, hakikat persahabatan karena iman, begitu pahamku. Ukhuwah karena cinta, begitu setauku. Karena kini aku berinteraksi denganmu, begitulah definisi cintaku.**

Mohon Maaf Lahir Batin

Erwinnomic Katalisator

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut

Arsip Blog