Sabtu, 04 September 2010

Bersama Rindu Menatap LangitMu

Ditemani semilir angin sejuk yang menghempas. Bersama kicau yang membahagiakan. Beralasan dipan menghangatkan. Syahdu bersama ayat-ayatMu menambah sedu. Semai hikmah buah tafakur darinya. Mengisi ruang hati yang berubah jadi rindu.

Ya. Begitulah pagi ini. Dengan segala Rahmat dan KaruniaNya. KEmbali menata hati dan diri. Harap rasa itu muncul lagi. Dengan lebih dahsyat. Agar bersamanya jiwa dan diri mampu terpacu dalam melahirkan kebaikan-kebaikan baru. Agar bersama geloranya menjadi latar dan alasan untuk tetap bertahan bersama kebaikan diantara problem-problem kehidupan. Dan lebih dari itu, agar hati hanya mau dan selalu rasakan itu. Yang sejatinya ia lahir dari bahan dasar cinta. Itulah rindu.

Itulah rindu. Ia ditadirkan jadi produk dari bibit cinta yang ditanam sedalam-dalamnya di hati. Kalau Anis Matta mengatakan bahwa cinta tidak punya definisi pasti. Atau juga memang tidak perlu dudefinisi. Tapi rindu pada hakikatnya adalah pada definisi yang tidak sembarang. TErlebih dipalingkan dari asasinya. Definisi yang membutuhkan objek itu butuh pembenaran dan pernyataan rindu untuk siapa ditujukan. Sebab ia akan jadi alasan produk diri apa yang akan dilahirkan. Begitupun dengan arah mana yang akan dicapai. Maka, kejumudan dan kegersangan jiwa sejatinya bermula dari pendefinisian rindu yang salah arah dan salah kaprah. Rasa kecewa berbaur dengan rasa sakit hati akan berubah jadi dendam dibalut niat-niat pembalasan yang menghancurkan. Karena harapan yang digantungkan padanya tidak berubah jadi nyata. Cinta yang telah dicurahkan tidak berbalas. Hingga rindu yang dirasa, tidak membahagiakan jiwa.

Hakikat rindu yang membahagiakan. Yang menjadi bahan bakar mesin jiwa dalam memacu kebaikan-kebaikan. Yang saat ia disulut dengan percikan iman, akan jadi ledakan jiwa yang dengannya melibas membawa pesona bagi makhlukNya. Dan ia akan jadi ukuran seberapa dalam dan besar amal kebaikan. Sekuat jiwa mempertahankan rindu. Sekuat jiwa memperbesar rasa rindu. Selama dan sebesar itulah kebaikan jiwa akan tetap ada. Kalau objek yang dirindukan tak pernah mati, abadi, dan merupakan perkara yang besar, maka tak akan pernah mati amal-amalnya. Tak pernah remeh amal-amalnya. Tepat. Ia akan tak berujung. Tidak kenal ruang dan waktu. Ia hanya akan selesai ketika sudah tidak lagi rindu. Dan saat kerinduan itu usai, usailah amalnya, kewajibannya, kepatutannya. Dan kaidah yang mengusaikan rindunya itu, karena ia sudah menemui yang dirindunya, Tuhannya, Allah. Begitulah.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut