Sabtu, 22 Januari 2011

Orisinalitas dan Kekontemporeran Gerakan Mahasiswa

Memasuki tahun baru 2011 sebagai tahun yang banyak memberikan harapan-harapan beserta peluang untuk dapat memperbaiki tata kelola pembangunan nasional merupakan kesempatan untuk berbagai elemen masyarakat dalam memberikan kontribusi dan karya yang akan dipahatkan di dinding sejarah Indonesia. Masyarakat sipil sangat memungkinkan meningkatkan “partisipasi politiknya” dalam menentukan arah strategis pembangunan dengan tetap konsisten menyuarakan aspirasi-aspirasinya dalam ruang-ruang mediasi dan audiensi. Khususnya mem”pressure” wakil rakyat untuk secara efektif merepresentasikan suara rakyatnya. Bagi birokrat, tetap menjaga profesionalisme dengan menghindari “mengemis-ngemis” proyek yang dimaksudkan memperoleh keuntungan semu, adalah bagian dari kontribusi dalam mengurangi gerusan citra birokrat yang korup dan mudah disuap. Yang pada akhirnya memperbaiki citra pemerintahan yang bersih. Begitupun dengan elemen bangsa yang lainnya, yang berperilaku sesuai dengan kapasitas dan tugasnya.

Mahasiswa; Dulu, Kini dan Nanti
Kilas balik sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia pada masa orde lama (pemerintahan Soekarno), tagline gerakan mereka adalah tata kelola pemerintahan yang baik dan mampu membawa kesejahteraan pada rakyat pasca kemerdekaan. Pasca peristiwa memilukan segenap bangsa Indonesia yang mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Sebab recovery (pembenahan) dituntut untuk memberikan kepastian dan jaminan kehidupan yang layak selain pendidikan. Maka, pada misi gerakan mahasiswa angkatan kemerdekaan adalah terkonsentrasi pada seperti apa format negara yang efektif merepresentasikan kedaulatan rakyat dan pada saat yang sama kesejahteraan sosial bisa mewujud. Sehingga pada zaman itu, perdebatan pemikiran sangat kental terjadi selain pada founding father bangsa ini. Sebab Indonesia pada saat itu belum memiliki ideology yang secara “baku” dianut dan menjadi pandangan sosial kemasyarakatn secara umum. Yang kemudian akan mempengaruhi corak pemerintahan politik, sosial , ekonomi dan budaya.

Era 66 pasca penggulingan Soekarno oleh mahasiswa yang dianggap tidak mampu mewujudkan kesjahteraan bagi rakyat, adalah era awal mula munculnya rezim orde baru. Gerakan mahasiswa yang mengharapkan adanya perubahan tata kelola pemerintahan yang baik (good government governance) dilimpahkan pada era ini. Harapannya bisa membawa misi mahasiswa, yaitu misi kesejahteraan rakyat. Itu saja. Tidak lebih. Dan singkatnya, kesejahteraan mulai menjadi perhatian pemerintah, sebagaimana yang tertuang dalam agenda dan program-program pemerintah. Alih-alih kesejahteraan ini sudah di teras kesempurnaan, banyak kalangan dari mahasiswa menilai bahwa ada kekecewaan baru yang tidak pernah diduga, bahwa dibalik rezim pembawa misi kesejahteraan ini ternyata punya potensi diktatorisme yang kuat. Kooptasi terhadap berbagai kegiatan pergerakan reformasi, “revolusi” dan gerakan perubahan lainnya dilakukan dengan kekuatan militer. Yang terjadi pada gerakan mahasiswa adalah tidak diperkenankannya kelompok-kelompok gerakan moril massif ekstra kampus, terlebih dalam menyuarakan aspirasi di jalan-jalan ibukota pemerintahan. Dengan adanya NKK/BKK sudah menjadi isyarat bahwa mahasiswa dianggap sebagai ancaman dalam mengganggu jalannya rezim pemerintahan Soeharto. Alhasil, rezim yang berkuasa selama kurang lebih 32 tahun, telah membuka keran hubungan diplomatik simpatik dengan luar negeri secara bebas aktif. Dan keran-keran hubungan spesial dengan lembaga-lembaga dunia (world bank, IMF, CGI, ADB, dan organisasi dunia lainnya) dibuka dengan mudahnya. Sehingga, pemerintahan yang cenderung korup dan praktek suap menyuap seolah jadi penambah bumbu kediktatoran rezim orde baru. Dan kooptasi yang dilakukan kepada mahasiswa, ternyata menajdi blunder bagi rezim ini. 32 tahun kooptasi ini telah memupuk misi gerakan politik nilai di kalangan mahasiswa. Meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan pada tahap-tahap yang relative menghabiskan jangka waktu yang panjang. Tapi, akhirnya rezim ini dipaksa melepas pakaian diktatornya sendiri. Setelah aksi unjuk rasa mahasiswa di jalan-jalan ibukota pemerintahan. Dan beberapa diantara mereka rela menjadi tumbal gerakan reformasi yang terjadi pada 1998 silam. Walhasil, gerakan reformasi berhasil menumbangkan rezim secara tidak terhormat, karena tidak ada penghormatan dari mereka kepada rakyatnya.

Fase kemerdekaan, sebelum tahun 1966. Adalah fase perdebatan ideology negara. Juga fase gerakan perwujudan kesejahteraan. Dalam fase ini ada demokrasi, tapi tidak membawa pada kesejahteraan. Ada kedaulatan rakyat, tapi tidak mampu mengisi, perut-perut yang lapar. Setidaknya dapat dicermati dari catatan harian Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa yang peduli dengan kondisi bangsanya saat itu. Miris karena hanya beberapa kilometer dari istana negara, masih saja ada rakyat yang terpaksa makan daun, karena tidak ada makanan yang bisa dimakan. Sedang, disana, di istana, tidak jauh dari dirinya bersama rakyat yang lapar itu, presiden sedang tertawa bersenang-senang bersama istri-istrinya. Maka, kita bisa menyerap dengan cermat, bahwa corak atau pola gerakan mahasiswa pada saat itu adalah murni sebagai gerakan sosial negara. Tidak ada motif-motif penggulingan kekuasaan untuk kemudian mengganti dengan afiliasi politik yang dianggap mahasiswa sebagai representasi aspirasi mereka.

Fase orde baru, masa kesejahteraan sudah sedikit membaik, tapi tidak memberikan kekecewaan di sisi lain. Rezim ini tidak demokratis. Diktator. Mengkooptasi seluruh elemen masyarakat, demi menjaga mahkota kekuasaan selama mungkin. Dalam hal ini tidak ada motif lain melainkan ambisi pribadi dan keluarga. Dan, masa ini kita pun bisa mencermati, bahwa gerakan mahasiswa yang mencapai klimaks pada 1998 adalah merupakan gerakan politik nilai. Dengan sedikit membawa alternatif kekuasan dan penguasanya, sebagai harapan baru bangsanya. Tapi selepas itu, sebagian besar reformis kecewa. Bukan. Bukan kecewa. Menyesal tepatnya. Sebab, pada pra reformasi, reformis-reformis tidak mempersiapkan agenda pasca reformasi bersama tahapan pembangunan bangsanya. Boleh jadi karena begitu geram dengan rezim orde baru. Sehingga, pasca reformasi, kursi-kursi kekuasaan tidak diisi oleh reformis. Tetapi memberikan ruang dan peluang sebagai kesempatan bagi orang lain untuk memanfaatkan momentum. Dan kini, sebagian dari kita sedikit berfikir, apa sebenarnya agenda reformasi dan apa yang seharusnya dilakukan. Kita Cuma bisa berfikir, lalu hilang begitu saja. Lupa, karena sudah terjeda istirahat.
Masa transisi (reformasi – formasi) sebenarnya jangan dibiarkan terlalu lama berlangsung. Soal waktu sejatinya bisa ditentukan bersama oleh pewaris negeri ini. Menetapkan agenda bersama dalam jangka waktu tertentu, selain pada saat yang sama birokrat-birokrat “sisa” orde baru “dirumahkan” saja jika tidak ada niatan baik untuk menjadi bagian dari perubahan besar-besaran bangsa ini. Mengganti kursi-kursi itu dengan kursi yang agak lebih sederhana, dan orang yang siap bersabar memimpin dalam kesederhanaan. Hingga saatnya tiba nanti kesejahteraan telah mewujud, baru masing-masing kita bisa memperbaiki ekonomi pribadi sedikit lebih dari cukup. Masa transisi yang terlampau lama dalam mencari format negara yang ideal, adalah masa penuh kejumudan dan ketidakseimbangan. Seluruh lapisan masyarakat tidak mampu menentukan arah strategis kontribusinya bagi bangsa secara efektif, meskipun telah melakukan banyak hal. Namun, kecenderungan masing-masing kita adalah memiliki arah sendiri-sendiri dan tidak terikat pada simpul yang sama untuk mewujudkan agenda bersama.

Masa transisi yang belum diketahui kapan berakhirnya ini, sebenarnya memberikan peluang bagi siapapun untuk bicara banyak hal soal bangsanya dan masa depannya. Terutama mahasiswa. Dalam hal ini, mahasiswa adalah elemen masyarakat yang paling potensial memberikan kontribusi pemikirannya dalam menentukan formasi negara yang ideal. Latar gerakan dan kontribusi yang besar oleh mahasiswa muncul karena mereka lebih memiliki keikhlasan politik dibandingkan elemen bangsa lainnya. Bersih dari afiliasi politik yang terlalu berlebihan bersama niatan baik mahasiswa dalam mengaktualisasikan dirinya. Untuk bangsanya. Agar lebih sejahtera saja.

Dengan demikian kita bisa mencermati bahwa saat ini mahasiswa harus memiliki kapasitas diri sebagai pewaris bangsa yang siap menyetir bangsanya kelak menuju cita-citanya dengan melalukan perubahan tatanan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Mahasiswa kini tidak dituntut untuk menguasai dan melakukan banyak hal pada banyak bidang. Cukup menentukan salah satu diantara banyak bidang yang akan digeluti untuk kemudian sedikit lebih mencurahkan semua pemikiran dan kerja-kerja kontribusi sedini mungkin pada muara yang sama, masyarakat madani. Dan jikalau proses mewujudkan hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan cepat pada masa sekarang, maka pastikan semua mahasiswa dan elemen bangsa lainnya yang memiliki niatan atas perubahan bangsanya yang mewujudkannya pada diri mereka sendiri. Hingga kelak masyarakat madani yang dimaksud, tetap mewujud, meski tanpa proses yang terlalu sistematis. semoga
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut