Minggu, 15 Mei 2011

Polusi Riba Di Langit Ekonomi (Lamunan Seri I)

Saya agak terheran-heran dalam memikirkan hal ini. Apa sebab yang jadi hulu ekonomi dunia begitu menyiksa sebagian besar orang sedang segelintir orang lainnya bisa mengakses harta begitu mudah. Dengan cara yang ia mau. Ya. Sangat mudah. Semudah orang-orang yang berkecukupan menjadi miskin kembali. Semudah orang-orang miskin menjadi fakir, dan begitu mudah karenanya menjadi kafir. Tak lagi berfikir soal akidah. Barangkali yang dipikirkannya, akankah esok dapat makanan. Dari kubangan-kubangan, tumpukan-tumpukan sampah. Sisa makanan orang-orang yang merampas harta mereka.

Terlintas pula dalam pikiran. Apa memang begitu takdir Tuhan. Menjadikan dunia ini berwarna dan beragam dengan mentakdirkan sebagian menjadi miskin sedang sebagian lainnya kaya dengan segala kemegahannya. Yang dengannya pula ada kesepakatan sosial bahwa harus ada dua strata itu. Kaya dan miskin. Kaya tidak akan pernah ada dalam definisi ekonomi jika tidak ada kemiskinan. Begitupun sebaliknya. Lalu, saya pikir, bukankah semua orang punya kesempatan dan peluang yang sama? Dengan jumlah putaran waktu dan peluang yang sama untuk bisa mengakses ekonomi lebih baik lalu bisa cukup dalam soal harta. Tapi mengapa begitu? Lintasan pikiran mencoba menjawab, bahwa kesempatan dan peluang memang sama, namun masing-masing individu hanya mendapat sebesar usahanya. Begitu. Meski sama-sama lelah berharap. Tapi yang lelah berusahalah yang bisa meraih. Sebab cita-cita ekonomi, harapan ketercukuan harta, dan kemudahan akses ekonomi masih berada di dunia harapan. Belum jadi nyata di dunia fana. Senyata-nyatanya. Dan jembatan antara dunia harapan ekonomi dengan dunia nyata ekonomi adalah kemauan dalam berekonomi. Barangkali. Tapi saya membenarkan.

Lantas apakah statisik kemiskinan sekarang murni karena atas kelemahan sebagian orang yang tidak punya semangat berekonomi? Apa benar orang-orang terkaya di dunia mendapat harta sesuai besaran usahanya? Lalu keduanya memang layak mendapatkan harta secara sah tanpa perlu saling iri dibalut rasa dengki. Sedang diantara mereka tidak saling menghujat karenanya. Boleh jadi benar, boleh jadi tidak. Menelisiknya mudah. Lihat saja seberapa besar usahanya dan semangatnya dalam berekonomi. Kalau ternyata besar usahanya, besar semangatnya, besar pula pengharapannya kepada Tuhan yang dicurahkan dalam bait-bait do’a, namun tidak memperoleh yang sebagaimana mestinya, pasti ada yang salah. Kalau rezeki Tuhan tidak pernah salah kirim, lantas mengapa sebagian besarnya mesti menerimanya di kubangan-kubangan? Sebagian lain di comberan. Tergopoh-gopoh menyeret tubuh di jalanan. Harap ada orang kaya yang mau ulurkan tangan, padahal cuma recehan. Kenapa begitu.? Ataukah Tuhan punya definisiNya sendiri soal kekayaan? Kaya hati, kaya jiwa, kaya pikiran misalnya. Tapi bukankah syariatnya menjelaskan bahwa kefakiran begitu dekat dengan kekafiran? Rumit. Bagi yang tidak mau melamun mungkin berhenti di sini. Yakin saja rezeki itu ada. Cukup dengan uraian doa-doa di mihrab. Menafikan doa di pasar-pasar. Simak ayat Al Baqarah 155 :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah 155)

Kalau memang benar adanya begitu, bahwa Allah bermaksud menguji hamba-hambaNya, apakah begitu cara yang jadi sebabnya. Kemudian, mengapa masa keemasan dan ketercukupan ekonomi pernah jadi sejarah terpanjang di dunia? Masa islam khususnya. kekhalifahan gemilang dahulu. Dimana pusat-pusat ekonomi dunia, pengetahuan, dan kepemimpinan dunia pernah jadi peristiwa dalam cerita-cerita sejarah. Hingga Umar bin Abdul Aziz tak habis pikir soal zakatnya yang tidak ada lagi mau menerima karena ratanya kesejahteraan.

Kalau memang benar adanya begitu, bahwa Allah bermaksud menguji hamba-hambaNya, apakah begitu cara yang jadi sebabnya. Kemudian, mengapa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-bnuah-buahan sekarang terjadi tidak sebagaimana dahulu yang saya tau. Sebagaimana pada masa Nabi Yusuf as yang mengalami paceklik selama tujuh tahun. Pasca seorang raja bermimpi melihat tujuh sapi betina gemuk yang dimakan tujuh sapi betina yang kurus. Dan tujuh bulir gandum yang hijau sedang tujuh lainnya mongering, lalu Yusuf as menta’bir mimpi itu dengan menerangkan bahwa agar negeri itu (Mesir) menanam seperti biasa selama tujuh tahun, lalu biarkan ia disimpan dan sedikit saja yang dimakan. Karena akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, dan hanya bisa makan makanan yang disimpan. Begitu. Atau seperti kelangkaan gandum karena paceklik pada masa Umar bin khattab, lalu ia mengatasinya dengan mengimpor dan menstimulus permintaan rakyatnya. Yang ini juga rumit.

Pernahkah berfikir bahwa kemiskinan yang disepakati ekonomi modern berasal dari sistemnya sendiri? Bukan murni ketentuan Allah. Yakin saya adalah murni dari Allah memang ada diantaranya. Tapi, bisakah meyakini bahwa banyak harta yang terampas secara sengaja? Dan ekonomi modern menyatakan bahwa itu hanya soal biasa. Dengan bangga Darwinisme ekonomi berpidato di podium kapitalisme menerangkan kaidah bersama metodenya tentang kekuatan orang-orang kuat atas orang-orang lemah. Siapa yang punya semua perangkat-perangkat kekuatan dialah sang penguasa ekonomi. Sedang sisanya biar saja jadi budak. Sesekali diberi tunjangan tak apalah, tapi jangan keseringan, nanti kecanduan. Katanya. Dan celakanya yang jadi budak juga tidak pernah mau menempatkan derajatnya di tempat yang lebih tinggi. Dengan harga dirinya. Dengan konsistensi menjaga diri dari meminta-minta. Atau dengan ketulusan hatinya dalam bersabar dan memperkuat kesabaran. Karena hulu-hilir ujian yang berganjar kebaikan dan pahala disitu. Sampai Allah menentukan takdirnya lagi. Bersama kemuliaan. Dan celakanya memang itu. Banyak budak hitam kini, tapi tidak seputih hati budak hitam dahulu. Bilal. Yang memilih mau mati hanya dengan keimanan mengesakan Tuhan. Tanpa pikir-pikir panjang menjamah laranganNya. Apalagi merabanya.

Gerakan ekonomi modern dengan sistemnya kini setau saya muncul bersama gerakan pencerahan (renaissance) akibat bosan dengan pandangan gereja yang kolot-kolot. Dimana para sarjana seperti Robert of Courcon (1152-1218), William Auxxerre (1160-1220), St.Raymond of Pennafore (1180-1278), St.Bonaventure (1221-1274), St.Thomas Aquinas (1225-1274), menyatakan bahwa keuntungan atas pinjaman diperbolehkan. Dan membedakan interest(bunga} dengan usury (riba ; definisi mereka). Bunga dalam hal ini diperbolehkan menurut mereka. Padahal sama saja. Gerakan ekonomi modern memang nyata berhasil menetaskan benih-benih kejahatan lainnya selain riba. Keserakahan meraup keuntungan, membawa petaka pada perilaku ekonomi secara kolektif. Dan begitu singkat prosesnya, keserakahan menimbulkan penipuan, spekulasi, perampasan dan suap. Rumit akhirnya sekarang. Karena benangnya sudah kusut. Harus memulai darimana.

Next post

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut