Minggu, 07 Agustus 2011

Bening Iman


Perenungan pagi ini saya lakukan tidak terlalu dengan sebagaimana biasanya. Duduk sambil menikmati fajar di ufuk atau sekedar merebahkan badan di tempat tidur sambil melihat-lihat cahaya lampu. Tidak seperti itu. Saya hanya melakukan aktivitas rutin seperti rutinitas hari libur akhir pecan. Bersih-bersih kosan tempat saya tinggal sementara di Solo selama kurang lebih satu bulan. Ya. Seperti di rumah saja. Kemudian bersih-bersih pakaian dan sedikit bercengkerama dengan sepupu. Bercanda sampai tawa kami renyah merekah. Sembari aktivitas itulah perenungan saya lakukan. Lebih tepatnya bermula dari lintasan-lintasas pikiran saja. Tapi, sejenak saat-saat tertentu saya tidak sadar diri, dan diam sejenak. Ternyata sampai melamun. (ahhh…kata saya dalam hati).

Ini murni saat “atmosfer” kota solo yang sekarang saya singgahi. 3 hari belakangan cuaca sangat dingin. Tiap kali sahur dan shalat subuh jaket jadi penghangat badan. Kemudian dengan komunitas islami disini. Dimasjid-masjid terdengar murottall Al Qur’an dan paginya terlantun salawat. Apa yang saya pikirkan soal cuaca dingin ialah soal pernyataan sahabat Rasulullah saw yang mahir berperang dan kerap kali memenangkan peperangan tiap kali ia menjadi panglima perang. Ya. Khalid bin Walid. Entah apa yang memuat namanya terlintas dalam pikiran saya. Dan apa kaitan dengan cuaca dingin yang sekarang saya rasakan. Dalam sirah tercatat bahwa ia pernah berkata demikian; “ Berjaga-jaga pada sebuah malam dingn, di tengah deru peperangan,lebih aku sukaii daripada di sisi seorang gadis di malam pengantin.” Saya mencoba memvisualisasikan logika apa yang membuat Khalid berperangai demikian.

Bersama seorang gadis di malam yang dingin. Berdua saja. Terlebih di malam pengantin, memang tidak ada yang salah. Memang tidak pernah salah. Sebab akad nikah telah menghalalkan diantara keduanya. Tapi Khalid punya alas an yang melatarinya berkata demikian. Ia punya gambaran jiwa yang akan dirasakan oleh jiwanya ketika lebih memilih berjaga di malam yang ingin di tengah peperangan. Dan saya yakin, bukan perang yang disukai Khalid dalam hal ini. Sebab ia mengkomparasikannya dengan keintiman bersama seorang gadis. Dan dalam bahasa perbandingan selalu terbanding dua variable yang sejenis. Tapi tiadak sederajat. Untuk itulah ia diperbandingkan. Lalu apa variable lainnya? Kalau kata kuncinya adalah keintiman, maka objek apa yang dibandingkan Khalid sebagai tandingan berbeda derajat dengan seorang gadis? Saya menjawab yakin, Allah. Ya. Allah azza wa jalla.

Tidak ada kebahagiaan di dunia ini yang menyamai saat-saat keintiman bersama Allah. Saat munajat, saat bertaubat dan saat mengupayakan dan menjaga taat. Dan ia lahir dari benih iman. Percaya bahwa hanya Allah sebaik-baik pembalas segala kebaikan dan ketaatan. Dan Khalid lebih memilih “intim” bersama Allah meski di malam yang dingin. Dan harus berjaga semalaman. Dalam deru peperangan.

Demikian pula lintasan pikiran saya menuntun ada satu peristiawa sejarah kenabian Rasulullah saw, setelah mendengar Salawat yang menyambut kedatangan Rasulullah saw bersama Abu Bakar RA di Madinah, oleh pengikutnya yang Anshar dan muhajirin. Imanlah yang kemudian dijaga Rasulullah saw dan siap disemaikan di hati komunitas madinah sebagai bagian dari strategi “defensif’ mempersiapkan pasukan dan komunitas muslimin untuk kembali lagi pada suatu waktu demi membebaskan kota Mekkah. Iman pula yang kemudian menyatukan kaum muhajirin dan Anshar sebagai kemanunggalan komunitas islami di madinah. Dan karena iman pulalah dua suku yang bertahun-tahun bertikai, lantas kemudian bias rukun hidup damai berdampingan. Aus dan Khazraj.

Saya semakin tidak sampai pada logika bagaimana iman itu benar-benar mengubah cita rasa jiwa manusia yang terkesan paradoks dengan kesenangan duniawi. Bahwa Khalid lebih memilih berkorban atas nama iman dibandingkan dengan kesenangan dan keintiman bersama seorang gadis. Atau juga kaum anshar yang rela menampung suadaranya yang muhajirin yang datang tidak membawa apa-apa selain sehelai kain di badan. Lantas bahkan ada yang merelakan salah satu diantara isteri-isterinya untuk diceraikan kemudian dinikahi oleh salah seorang sahabat yang muhajirin.

Diujung perenungan saya, faktanya adalah , ada iman di dalam dada mereka. Dan Allah menjadi tujuannya.

Dan kini tentang yang saya rasakan. Yang baru saja sempat terisak karena begitu rindunya dengan orangtua. Ibu khususya. Bahwa perginya saya ke Surakarta, juga sedikitnya membawa egoisme pribadi dengan dalih mencari ketenangan lingkungan, pikiran dan perasaan. Alasan penelitian memang alasan saya pergi ke Surakarta. Dan logis. Tapi selebihnya ada bauran kepentingan pribadi disana. Disini memang nyaman. Tenang. Santun masyarakatnya, kental nuansa islaminya. Tapi disana. Saya sadar banyak tuntutan. Di rumah, di msayarakat. Banyak tuntutan yang tidak tertunaikan. Tidak lagi bisa membantu ibu di rumah yang mengurangi bebannya mengurus keluarga. Sudah dua ramadhan saya tidak membantu DKM masjid dan becengkerama dengan jamaah. Dan bebeapa waktu yang cukup lama saya tidak menunaikan kewajiban saya menjadi bagian yang intens mengelola dan berjuang bersama orang-orang terbaik yang dulu kami semua dilahirkan dari rahim pembinaan yang sama. Alumni Rohis SMA. Ini terlintas setelah seorang teman yang menanyakan kehadiran saya pada agenda akhir ramadahan nanti. Lewat sms. Persis dengan saya sedang menulis tulisan ini. Dan semakin menambah isak batin saya. Walhasil, rindu ini memang menuntut pertemuan segera. Kalau ini cinta, maka raga harus bertemu. Dan saya harus pulang lebih cepat dari sebelumnya. Dan atas nama iman, saya memilih menunaikan hak orang-orang yang saya cintai. Ibu dan Orang-orang terbaik.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut