Jumat, 05 Agustus 2011

Memaknai Saat Kematian ; Saat Tuntasnya Misi Kebaikan

Ya. Pagi ini. Saat saya melakukan aktivitas yang rutin selepas subuh. Ditengah perenungan-perenungan diri atas apa yang dikerjakan kemarin. Tentang makna-makna hidup yag harus diresapi lalu digenapi dengan menuntaskannya menjadi perbaikan dan kebaikan nyata. Terdengar lirih dari tempat perenungan saya, pengumuman di masjid yang mengabarkan bahwa pagi ini diantara tetangga kami telah usai usianya. Ia wafat. Menjadi mulia bagi saya karena takdir mengakhiri usianya di bulan suci. Ramadhan. Di hari kelima. Jum’at tepatnya.

Saya. Berkali-kali. Juga teramat sering mendengar berita kematian seperti itu. Saat fajar mulai terbit di ufuk. Entah di rumah atau dimana saja. Dan berita seperti itu memberi kita fakta sederhana yang juga rumit. Bahwa usia kita, tidak ada tawar menawar untuk dipercepat terlebih ditangguhkan. Apapun alas an yang melatarinya.

Saya mencoba sedikit meraba dan membawa imajinasi saya untuk bisa merasakan perasaan orang-orang terdekat si mayit. Yang baru saja pergi meninggalkan mereka untuk menunggu pertemuannya kembali dari keterpisahan sementara. Bahwa imajinasi saya memvisualisasikan, tentang kepergian si mayit, orang-orang terdekatnya seringkali tidak siap jiwa. Apa sebab? Kemungkinan yang pertama adalah, kepergiannya begitu tiba-tiba. Kedua, kepergiannya dirasa terlalu cepat. Apapun sebab ketidakterdugaan atas kematian orang-orang yang kita kasihi, memberikan kenyataan bahwa ada sesuatu yang akan hilang untuk masa mendatang hingga selamanya, yang ia gantungkan pada orang yang dikasihinya itu. Yang baru saja wafat. Dan ia besar kekhawatirannya kepada siapa lagi tempat bergantungnya. Saya. Lebih cenderung apa yang ia khawatirkan ialah tidak adanya kebaikan lagi yang ia konsumsi kelak dari orang yang mengasihinya itu. Bukan harta, ungkapan kata, status, dan beragam kebutuhan lainnya. Yang Nampak secara kasat mata memang demikian. Tapi dibalik semua itu senyata-nyatanya tersimpan kemurnian atas nama kebaikan saja. Begitu. Sebab semua orang bias saja memberi apa saja, tapi kesan yang dierima oleh penerimanya boleh jadi tidak merasakan apa-apa melainkan sebuah pemberian saja. Meski kebaikan juga. Tapi faktanya, tidak terlalu berkesan baginya. Mau tau apa kata kuncinya? Cinta.

Maka, kita sering melihat dan termasuk saya tentunya, bahwa kerabat, tetangga dan orang-orang yang pernah berhubungan dengannya(mayit) hanya bias dan sebatas berempati atas kepergiannya. Berbelasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkannya. Tapi tidak demikian bagi orang-orang yang dicintainya. Istrinya. Suaminya. Anak-anaknya. Dan orangtuanya. Mereka merasakan jauh lebih kehiilangan karena telah hilang dan pergi belahan jiwanya. Tulang rusuknya. Tempat bergantungya menerima kebaikan. Karena apa? Karena telah pergi orang yang mencintainya. Yang dengan cintanya intens memberik beragam kebaikan bagi diri mereka.

Saudaraku.,

Satu kesimpulan yang pagi ini saya mau bagikan kepada Anda dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Bahwa apa yang saya pahami atas perenungan ini. Jadilah orang baik-baik. Yang punya setumpuk beragam kebaikan yang siap didistribusikan kepada siapa saja. Sebab kebaikan sangat identik dengan memberi. Tapi tidak identik dengan materi. Maka kebaikan saudara dekat dengan keshalihan. Berarti dalam hal ini saya secara implisit juga mengajak bagi diri saya dan kita semua, untuk sampai pada puncak keshalihan yang tidak pernah punya ukuran. Namun setidaknya bisa diukur dengan perasaan. Bukan. Bukan perasaan saya dan Anda seorang saja. Tapi orang lain. Seberapa banyak hati yang merasakan kenyamanan atas kehadiran orang shalih dan seberapa banyak perasaan yang kehilangan atas kepergian orang shalih, seukuran itulah keshalihannya. Tapi kita juga tidak pantas menjustifikasi hanya demikian ukurannya. Sebab Allah yang punya hak menilai keshalihan seseorang. Sedang kita, hanya punya cirri-cirinya saja.

Sekali lagi. Bahwa kita yang berazam untuk sampai pada puncak keshalihan karena kita punya beragam tumpukan kebaikan yang siap didistribusi, maka pastikan ia terdistribusi pada siapa saja. Sebab yang primer adalah kemampuan kita memberi atas nama kebaikan. Persoalan siapa penerimanya ia jadi persoalan sekunder. Tapi kelak pastikan ketika diri telah memutuskan lebih rinci kepada siapa kebaikan diberikan secara kontinyu, rawatlah ia dengan berusaha membuatnya terus bertumbuh. Berikan perhatian yang membuatnya merasa nyaman. Dan sirami dengan kasih sayang yang melembabkan hatinya yang tandus. Terus. Teruslah berikan kebaikan padanya. Sampai ia bergantung menikmati kebaikan-kebaikan yang kita berikan. Hingga saat usai usia kita kelak. Muncul mendung di hatinya. Pekat. Sangat pekat. Hingga gerimis di hatinya tumpah ruah juga di wajahnya. Dan seisi rumah jadi basah hingga ke lantai-lantainya. Agar apa? Agar orang yang kita berikan kebaikan itu, yang sejatinya kita cintai, muncul benih kerinduan yang akan jadi bunga rindu setelah kuncupnya tertiup sepoi memori tentang kebaikan kita. Agar juga rindunya itu, menuntun tangan manisnya menuju tempat kita menunggu. SYURGA.

Dan aku berkomitmen dan mengupayakan seperti itu kelak kisahku.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut