Senin, 15 Agustus 2011

Terlalu Banyak Definisi

Apa yang kemudian kita lakukan. Pada dasarnya ia bermula dari lintasan-lintasan pikiran yang lewat. Dari neuron-neuron otak kita yang saling terhubung. Kemudian ia menjadi landasan berfikir, jika lintasan pikiran tadi beramplitudo besar dan berfrekuensi tinggi. Ya. Seperti gelombang. Ia hadir dan terjadi karena badai lintasan pikiran. Yang dengan demikian juga tampak harmoni gerakan yang indah. Susul menyusul. Oh tidak. Satu persatu. Berbaris rapi. Dan dahsyat. Maka, gerakan itulah wujud lahiriah dari apa yang disebut lintasan pikiran yang menjadi landasan berfikir. Sebagai muslim, kita memahaminya sebagai amal. Perbuatan baik. Ahsanu amala. Lantas atas gerakan-gerakan yang berulang itulah, karena amal-amal itulah, kebiasaan mewujud. Kebiasaan tersimpan. Dalam memori ingatan kita. Kalau ia sudah menjadi kebiasaan yang rutin, besar kemungkinan ia akan tertransformasi menjadi karakter. Tapi tidak ada proses yang tersimplikasi pada metamorfisis ‘kupu-kupu karakter’ dari ‘kepompong kebiasaan’. Kaidahnya ia harus teruji oleh waktu. Butuh waktu yang cukup lama. Dan hingga alam sadar kebiasaan yang terwujud di dunia nyata kembali ke asalnya darimana ia bermula. Ya. Ruang pikiran. Tapi dasar pikiran yang dalam. Sangat dalam. Alam bawah sadar. Maka dari karakter itulah potongan terkecil dari puzzle definsi. Akan menjadi definisi ketika ia sudah tersusun secara benar dari potongan karakter lain yang saling melengkapi. Tentunya dari potongan karakter masing-masing orang yang berkarakter sejenis.

Berbagai orang. Beragam pikiran. Melahirkan berbagai dan beragam definisi. Tertarik dengan hal ini karena peristiwa sosial memberikan isyarat bahwa di dunia ini semuanya penuh perbedaan. Beda definisinya, beda perilakunya. Dan berbeda akibatnya. Tapi kita juga sepatutnya tidak memaksakan satu definisi tertentu untuk dimanipulasi dan diseragamkan bagi semua orang. Sebab ada ruang aktualisasi diri pada masing-masing individu untuk menampilkan sosok manusiawi dirinya yang mengagumi definisi tertentu atau definisi orang lain yang ia kagumi. Bebas. Dengan batas. Apa batasnya? Agama, hukum negara, Undang-Undang, budaya, adat istiadat dan etik. Setidaknya itulah yang kemudian membatasi ruang gerak kita untuk mengaktualisasikan definisi yang kita yakini. Apa sebab? Sebab pada batasan itulah definisi yang tidak tertoleransi untuk dibenturkan dengan definisi kita yang bebas. Karena definisinya sudah pasti dan tidak ada ruang multiinterpretasi. Apa itu selayak defnisi yang diseragamkan? Tidak. Bukan. Ia dihadirkan untuk membatasi definisi yang terlalu bebas yang boleh jadi pada jangka panjang akan merusak keharmonian tatanan sosial karena boleh jadi pula semua yang di dunia ini sepenuhnya berbeda yang membuat tiap orang akan bergerak sendiri-sendiri menurut definisinya. Menjadi fatal ketika ia terjadi. Kita akan menjadi apa yang kita inginkan, bukan menjadi apa yang kita dan mereka yakini.

Kita memperhatikan beragam macam orang dan karakternya. Beragam macam sikap dan perilakunya. Beragam macam aktivitas dan kebiasaannya. Apa yang kemudian kita pikirkan ialah apa yang tidak mereka pikirkan. Boleh jadi. Atau mungkin juga sama. Tapi seringnya tidak. Sebab itu tadi, yang termaksud sebelumnya. Terlalu banyak definisi. Saya tertarik. Mungkin juga iseng. Ingin menyelami berbagai macam definisi orang atas perilaku mereka atau sikap mereka yang ditampakkan pada kita semua. Khususnya saya. Yang kali ini merenung dalam perjalanan dengan kereta.

Apa yang kemudian pelajar itu definisikan tentang hidupnya, sampai-sampai rela berangkat sebelum subuh mengumandang di langit buminya untuk pergi ke tempat ia menumpahkan segala macam keingintahuannya tentang dunia ini lewat dunia pendidikan? Kantuknya. Lesunya. Dinginnya. Sedang pada saat yang sama ia harus tetap mengurai lembar demi lembar tentang dunia yang ingin diketahuinya yang terangkum dalam buku-bukunya. Meski ia sendiri tidak pernah tau apa masa pendidikannya itu cukup untuk mengetahui tentang dunia ini seutuhnya.
Atau juga wanita itu. Apa pula definisi bagi hidupnya. Yang juga rela memanggul-manggul segala macam jenis sayuran dan buah-buahan dari pasar untuk ia jajakkan kembali di daerah tempat tinggalnya. Setiap dini hari, setiap hari. Beratnya. Letihnya. Keringatnya. Sedang ia harus tetap setia menjalani hari-harinya dengan rutinitas demikian. Meski ia tidak pernah tau apa rutinitasnya itu menjanjikan kesejahteraan di masa depan atau tidak.

Atau bahkan pengemis itu. Apa yang ada di benaknya yang melahirkan definisi bagi hidupnya. Yang tiap pagi, setelah waktu tidurnya sampai waktu tidurnya lagi, ia habiskan hanya dengan meminta-minta karena alasan papa. Lusuhnya. Dekilnya. Sengat bau badannya. Sedang ia harus rela setiap hari dijauhi dan diasingkan dalam kehidupan sosialnya. Meski ia tidak pernah tau apakah pekerjaannya itu dibenarkan agamanya atau tidak yang menjamin diterimanya sebagai amal soleh. Atau jangan-jangan ia tidak lagi mau beragama.

Juga tentang ia. Eh…ternyata saya. Apa pula definisi hidup bagi saya. Yang kerapkali memperhatikan satu peristiwa sedehana tapi besar kemauan untuk mendramatisasinya menjadi sesuatu yang luar biasa. Dimulai dengan pikiran-pikiran rumit, kemudian mendefinisikannya, lalu menyimpulkannya. Waktunya. Lamunannya. Hasilnya. Sedang saya harus kerapkali dirumitkan dengan logika-logika dunia yang disajikan banyak peristiwa. Tidak ada meski bagi saya. Karena saya yakin, selalu ada “logika langit” yang menjadi jawabnya. He…:)

Dan masih banyak lagi beragam macam orang yang saya perhatikan. Dan jika ada satu kesempatan berdialog dengan meraka, besar keinginan menyelami apa definisi bagi hidup mereka satu persatu. Karena kesempatan kali ini. Dalam perjalanan saya pulang ke Jakarta dari kota Solo, hanya bisa berdialog dengan seorang tukang jamu yang jadi “korban” dasar hatinya dengan terpaksa saya selami untuk menemukan apa mutiara yang menjadikannya tangguh melewati tahun demi tahun kehidupannya. Suka dukanya. Tentang definisinya atas apa saja.

Yah. Di dunia ini memang terlalu banyak definisi. Saya, Anda dan Kita semua, berhak mendefinisikan tentang apa saja di dunia ini. Tentang hidup itu sendiri, tentang semua peristiwa dalam perjalanan hidup, hingga tentang kematian yang mengusaikan hidup. Yang sejatinya akan hidup lagi di kemudian hari. Tapi pastikan, definisi kita, menjadi jalan dan perantara menemukan definisi paling hakikat dalam hidup kita. Untuk itulah, kita boleh sepakat untuk sementara waktu atas definisi apa saja.

Barangkali Anda cukup mengerutkan dahi pada tulisan saya kali ini. Mungkin sedikit bingung. Bisa juga memang bingung. Atau tidak jelas sama sekali. Yah. Demikianlah memang.. Saya hanya ingin menyajikan satu gambaran betapa proses berfikir punya urgensinya sendiri.. Bagi yang terbiasa berfikir, maka berfikirlah lebih mendalam lagi. Lebih dalam lagi. Sampai pada satu titik tertentu kita aakan menemukan makna paling hakikat di dunia ini. Saya tidak mau menyampaikannya disini. Dan sampai kapanpun. Tapi nikmatilah proses berfikir itu sampai Anda menemukan sendiri apa makna paling hakikat yang saya maksud. Tidak lain hanya untuk kita semua menyadari sejujur-jujurnya menerima hakikat itu. Dan masa pencarian hakikat itulah masa pengorbanan kita di alam jiwa untuk mau secara konsisten berkorban atas nama hakikat tersebut di dunia nyata. Dan saya yakin, ketika kita semua manusia di jagat ini menemukan makna paling hakikat itu, kita boleh sadar atau tidak. Yang pasti adalah telah terjadi ANGGUKAN SEMESTA. Yang membenarkan atas hakikat hidup kita semua.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut