Jumat, 30 September 2011

Beyond Accounting & Accountant


Dalam peran akuntansi sebagai fungsi fasilitas pengambilan keputusan (decision making facilitating function) bagi yang berkepentingan (stakeholders) terhadap kinerja keuangan manajemen suatu perusahaan terutama yang dianggap oleh barat lebih khusus ditujukan kepada para investor dan kreditor, bertahun-tahun semakin surut dari kepercayaan masyarakat pengguna laporan keuangan. Di Amerika sendiri, sebagai kiblat perkembangan dan konsepsi akuntansi keuangan tak luput dari ‘krisis akuntansi’ ini. Lebih tepatnya ialah merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap ilmu akuntansi yang menghasilkan output berupa laporan kinerja keuangan entitas bisnis terutama dan profesi akuntan itu sendiri. Apa sebab, bahwa sudah terjadi berkali-kali skandal rekayasa akuntansi yang merugikan public (pembaca laporan keuangan) karena menyajikan laporan keuangan yang fiktif pada beberapa pos-pos laporan keuangan. Menurut Albrect, 2003, menyatakan bahwa tingkat korupsi di Amerika per tahun mencapai 6% dari tiap total omzet perusahaan atau mencapai lebih dari US$ 400 billion. Yang sebagian besarnya dilakukan dengan cara rekayasa akuntansi. Kasus World Com yang menyembunyikan dana mencapai US$ 3,85 milyar juga dilakukan dengan rekayasa akuntansi. Kemudian skandal Enron Corporation, Merch menipu angka laba US$ 14 milyar, Adelphia Corp, Xerox Corp, melakukan kesalahan pembukuan US$ 6 milyar. Perusahaan entertain sekelas Walt Disney Corp juga melaukan over statement laba sebesar US$ 255 juta, AOL sebesar US$ 3,57 milyar, Vivendi Universal menipu sebesar US$ 1,5 milyar. (Republika, 27 Sept 2002).

Krisis akuntansi yang terjadi dalam dunia bisnis ekonomi terbukti dengan tidak dijadikannya akuntansi sebagai alat pengambilan keputusan yang utama bagi pengguna laporan keuangan, misalnya bagi investor, kreditor, dan public. Hal ini disebabkan akuntansi tidak menggambarkan secara rinci kinerja perusahaan yang merepresentasikan kebenaran dan bebasnya dari penipuan yang terjadi di dalam manajemen perusahaan. Tidak dijadikannya akuntansi sebagai informasi utama dalam pengambilan keputusan ini mengundang banyak pendapat dari pakar-pakar dari kalangan mereka sendiri. Mencoba menawarkan wacana baru dalam ilmu akuntansi dan pertimbangan-pertimbangan lain untuk kemajuan ilmu akuntansi yang lebih mempertanggungjawabkan kinerja keuangan perusahaan dengan nilai-nilai keluhuran sosial masyarakat. Sejalan dengan hal ini Professor Lee D. Parker, dari University of Adelaide, South Australia menyatakan bahwa akuntansi konvensional harus disempurnakan dengan menambah media, pertama, penilaian terhadap efisiensi manajemen. Kedua, pengungkapan terhadap kecurangan manajemen. Ketiga, penjelasan mengenai budget atau rencana kerja. Keempat, akuntasi harus semakin menghilangkan unsure alokasi dan akuntansi harus lebih scientific. Kelima, akuntansi harus menyajikan informasi yang relevan, tidak hanya informasi kuantitatif tetapi juga kualitatif.

Kritik tajam ialah pada perlakuan atas laba, atau dikenal dengan istilah manajemen laba (earning management).Selain mengkritisi dari segi ilmu akuntansinya, kritik juga tertuju kepada profesi akuntan. Sebab dalam hal ini unsur-unsur etika di kalangan mereka semakin longgar. Sebab akuntansi itu sendiri yang bebas nilai, maka kritik atas ilmu akuntansi juga dipengaruhi oleh perilaku akuntan, yang juga dipengaruhi oleh pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan. Pada pendapat ekstrem lainnya, akuntansi melalui profesi akuntan sangat rentan terhadap ‘pesanan’ penyajian laporan keuangan yang menguntungkan pihak berkepentingan dan merugikan public secara umum. Hal demikian membawa pada opini masyarakat yang menyatakan bahwa profesi akuntan tidak luput dari krisis akuntansi. Oleh sebab tuntutan masyarakat yang mengharapkan adanya kejujuran dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keberpihakan terhadap informasi public yang terpercaya. Harapan hadirnya profesi akuntan yang lebih jujur, beretika, dan independen adalah bagian dari upaya mengembalikan citra akuntansi di mata public agar akuntansi kembali dipercaya dan dapat menjadi alat pengambil keputusan ekonomi yang utama dengan tidak menyesatkan user laporan keuangan.
Maka dengan demikian, semacam ‘reformasi akuntansi’ mesti diwacanakan dan diwujudkan dalam praktek bisnis keuangan di dalam aktivitas transaksi ekonomi. Yang lebih mengedepankan tidak sekedar akuntansi saat ini. Yang dalam artian tidak sekedar sebagai fasilitas pengambilan keputusan atau informasi keuangan, tetapi lebih menjadi suatu pertanggungjawaban (accountability) atas kinerja keuangan manajemen. Tidak ada upaya-upaya perekayasaan keuangan yang fiktif atau bersifat alokasi yang menipu, penyajian secara tepat, jujur, beretika dan mengandung unsur keadilan dan kebenaran informasi keuangan bagi pengguna laporan keuangan (Financial Statement users). Tidak hanya pada semangat menginternalisasikan nilai-nilai ke dalam ilmu akuntansi terutama bagi profesi akuntan, tetapi juga mengkaji secara metodologis metode-metode perlakuan transaksi, pengakuan nilai ekonomi, hingga penyajian laporan keuangan. Sebab dalam earning management misalnya, sarat dengan pengaturan laba yang sering menyesatkan pembaca. Nilai yang tersaji tidak dalam gambaran yang actual sesuai kondisi perusahaan yang sebenarnya. Sifat akuntansi juga mengandung banyak taksiran (estimasi), pertimbangan (judgement) dan sifat akrual memberikan peluang bagi pengaturan laba ini. Dan beragam metode-metode dalam akuntansi lainnya, agar secara system juga aman dari rekayasa fiktif akuntansi, selain menambah nilai-nilai etik kepada profesi akuntan. Tom Lee sendiri sangat menganjurkan ‘cash flow accounting’ untuk menghindari earning management sebagai pencegah adanya penipuan dalam akuntansi. Oleh karena itu, diperlukan konsep baru yang menjadikan akuntansi sebagai lebih dari sekedar akuntansi, yang juga pada akhirnya akan mewujudkan lebih dari sekedar akuntan.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut