Rabu, 14 September 2011

Replikasi Komunitas Madinah Pada Zaman Rasulullah saw di Indonesia ; Efektifkah?


Berangkat dari kegelisahan semua orang. Tentang lingkungan atau komunitas kolektif bangsa ini yang kian hari kian memunculkan nanar luka di hati warga bangsa. Entah apa yang jadi hulu dari ruwetnya problem bangsa ini. Seperti benang kusut, yang tidak tau harus diurai darimana. Tidak hanya menyajikan lakon-lakon “kebiadaban kaum elit”, politik maupun borjuis, yang bisa-bisanya menari di atas rintihan rakyat. Berpentas, bersandiwara, di panggung tempat rakyat secara massif menyepakatinya sebagai panggung kekuasaan untuk “menyambung” lidah rakyat agar keadilan dan kesejahteraan berkenan datang bertamu ke rumah-rumah mereka. Meski sejenak saja.

Hingga saat ini tidak ada formulasi yang cukup definitif tentang apa yang disebut sebagai pola bernegara yang dianggap efektif. Apa yang disebut sebagai tata sosial sebuah bangsa yang mengejawantahkan dan memberi ruang bagi terwujudnya cita-cita sosial warga negaranya, sejahtera. Jikalau mau lebih mendalam mengkaji sebenarnya apa yang dimaksud dengan sejahtera, definisinya, ciri-cirinya, karakteristiknya dan nuansa dalam sisi manusiawinya, maka formulasi interaksi politik sosial ekonomi juga akan dengan lebih mudah diformulasikan. Sebab, semua akibat di dunia ini dengan mudah sebenarnya kita menemukan sebab-musababnya. Di dunia ini banyak peristiwa yang terjadi cukup jelas hukum sebab akibatnya. Dan seandainya bangsa ini punya definisi yang pasti dan jelas mengenai kesejahteraan itu sendiri, maka persoalan format tata sosial juga akan lebih mudah didefinisikan. Pilihannya ada beberapa. Diantaranya adalah melakukan proses benchmarking terhadap komunitas bangsa lain. Pun dalam hal ini karena proses benchmarking sangat membutuhkan visualisasi yang harus jelas, maka kita bisa menemukan visualisasi yang cukup menggambarkan mapping keberhasilan sebuah bangsa masa lampau dalam menyajikan sejarah kesejahteraan mereka. Yang dengan itulah kita bisa meramu, memformulasi, dan menetapkannya sebagai definisi kesejahteraan bagi bangsa kita saat ini.

Memperhatikan satu komunitas (lebih tepatnya negara) yang telah membuktikan kemampuannya dalam memberikan kesejahteraan sosial politik ekonomi dan juga agama dengan pada saat yang sama telah menyedot sorotan perhatian sejarah dunia, berarti dalam hal ini ada kecenderungan kolektif umat manusia untuk kembali menyadari hakikat hidupnya. Sorotan tajam dunia terhadap komunitas Madinah pada masa kepemimpian Rasulullah saw sudah cukup menggambarkan bahwa komunitas Madinah telah membangun peradaban manusia yang lebih beradab. Lebih memanusiakan manusia, dan mengintegrasikan antara kenyataan dunia dengan kemanunggalan agama berketuhanan dalam hakikat hidup mereka. Selain memang dalam hal ini sorotan sejarah tertuju pada tokoh dibalik pembawa risalah tersebut, Muhammad bin Abdullah, Rasullullah saw. Dan Michael Hart memberi kehormatan dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh, dengan Muhammad saw sebagai tokoh nomor wahid di dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah dan masa-masa mendatang oleh sebab warisan nilainya yang fundamental dan bernilai luhur bagi peradaban manusia. Maka ada istilah “madani” yang disematkan pada beberapa istilah sebagai pendukung. Misalnya, masyarakat madani, insan madani, dan sebagainya. Yang menandakan satu cita-cita sosial dalam tatanan masyarakat bangsa.

Jika negeri ini menyepakati secara kolektif, pemerintahnya, kaum elitnya, masyarakatnya, tentang definisi kesejahteraan sebagaimana dahulu komunitas Madinah pada zaman Rasulullah saw menyepakati mengenai kesejahteraan, maka dengan demikian akan mempermudah dalam menentukan upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam mencapai kesejahteraan yang dimaksud. Tentu, hanya perlu mereplikasi tindakan-tindakan sosial kemasyarakatan komunitas Madinah dahulu yang bisa ditemukan dalam literatur-literatur sejarah maupun biografi tokoh-tokoh yang menjadi lakon dalam masyarakatnya. Kaidah dalam hal ini sebenarnya sederhana, seperti apa wajah peradaban yang diinginkan, maka ikutilah segala hal yang menjadi bahan dasar atau materi pembangun (arsitektur) peradaban tersebut. Jika seandainya, negeri ini sekali lagi benar-benar menyepakati konsep dasar apa yang disebut madani sebagaimana madani dalam kebenaran sejarah komunitas Madinah era Rasullah saw, maka harus ada sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama yang menjadi landasan utama dalam mengatur tata negara bangsa selayak madinah dahulu. Diperankan oleh orang-orang yang memang tidak jauh berbeda kapasitasnya. Digagas sebuah sistem berdasarkan landasan-landasannya. Dan dikonstruksi dalam format negara berdasarkan format negaranya. Dalam hal ini, memang pekerjaan rumahnya yang besar adalah hanya pada mengarahkan afiliasi pemikiran bangsa ini terhadap sistem dasar komunitas Madinah dan menumbuhkan komitmen kolektif sosial dalam menyepakati formulasi konsep cita-cita ke-madani-an suatu masyarakat. Karena yang menjadi konsep dasar komunitas Madinah zaman Rasulullah saw adalah seluruhnya dilandasi pada ajaran agama Islam melalui wahyu Al Qur,an dan As Sunnah, maka sejatinya dapat direplikasi pada semua jenis masyarakat, suku, bangsa. Oleh sebab, Islam itu sendiri diturunkan untuk umat manusia dan berlaku universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi dalam hal ini, dalam menentukan apakah efektif mereplikasi tatanan masyarakat Madinah zaman Rasulullah saw di Indonesia, tidak perlu repot-repot mengkaji persamaan-persamaan beragam bidang kehidupannya, sehingga dengan demikian baru lebih yakin akan lebih efektif. Lagipula, bangsa ini pun sudah punya modal besar dengan jumlah komunitas muslim terbesar di dunia yang dengannya sebenarnya bisa mengambil momentum dalam sejarah untuk bisa mewujudkan peradaban islam sebagaimana ia pernah mewujud pada era Rasulullah saw, Khulafaurrasyidin, dan era peradaban islam pada abad – abad ke 10 tahun masehi. Kita dengan demikian hanya perlu melipatgandakan keyakinan bersama bahwa kepemimpinan peradaban dunia dalam fasenya akan dipergilirkan kepada bangsa-bangsa mana saja, sedang Indonesia dengan demikian pula hanya perlu mengambil momentum kepemimpinan peradaban dunia ini dengan kepemimpinan Islam. Karena hanya dengan itulah Indonesia bisa menyelesaikan persoalan-persoalan bangsanya dan merubah kekerdilan kelemahan dalam raga jiwa menjadi kemuliaan kehormatan dalam jiwa raga. Sebagaimana karakteristik peradaban islam (Prof. DR. Raghib As Sirjani ) yang memiliki Universalitas, Bertauhid, Seimbang dan Moderat, dan mendapat Sentuhan Akhlak. Amin ya Rabb

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut