Minggu, 11 Desember 2011

Allah Jua Pada Akhirnya


Saya tidak sampai pada logika untuk menemukan dimana lagi segala ungkapan jiwa ini dilabuhkan. Pada kejenuhan-kejenuhannya, pada kelelahan-kelelahannya, dan pada kesempitan-kesempitannya. Berharap-harap ada satu tempat yang memberikan ruang secara bebas agar jiwa ini bisa mengekspresikan ungkapannya setelah beberapa waktu tertahan dan terus menumpuk. Apa saja. Baik tempat, situasi, bahkan boleh jadi orang lain yang kapasitasnya mau memberikan waktunya untuk sesaat mendengar ragam ungkapan jiwa orang yang mau meretas jalan ke syurga.

Namun di tengah pencarian itulah, ada yang sesaat terlewatkan. Ada yang terlupakan. Bahwa ada Allah ‘di sana’. Yang kerap dilupakan meski Ia Maha Memperhatikan setiap waktunya. Saya pada akhir pencarian dari waktu ke waktu, sejak dulu, sudah merasakan bahwa tidak ada tempat labuhan jiwa paling tepat selain kembali bersama Allah mendialogkan segala urusan kehidupan. Kerumitan-kerumitannya, kekhawatiran-kekhawatirannya, dan ketidakmampuan raga jiwa menjalaninya. Bahwa pada akhirnya Allah jua-alah tempat dimana hati mencari labuhannya. Saya sudah tidak pada pengharapan atas dunia ini selain mengumpulkan serakan-serakan karunia syurga yang Allah turunkan sedikit ke dunia ini yang djanjikan bagi orang-orang yang beriman dan yang telah memenangkan keimanannya atas apapun. Lalu kemudian sesegera mungkin meretas jalan untuk pulang ke kampung halaman di mana karunia syurga yang sesungguhnya dijanjikan di ujung jalan kehidupan setelah usai menyelesaikan tiap episodenya dengan akhir yang ihsan.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut