Sabtu, 03 Agustus 2013

Para Pendukung Kudeta Militer

Kudeta militer yang dilakukan Jenderal Abdul Fattah As Sisi pada 3 Juli 2013, mendapat dukungan dari beberapa kalangan, baik personal maupun pejabat negara. para pendukung kudeta antara lain :

1. Muhammad Al Baradei, pemimpin tokoh oposisi, Grand Mufti Al Azhar, Ahmad Thayib, Paus Kristen Koptik, Tawadros II. Selain itu kudeta juga didukung oleh partai Salafi An Nuur, dengan pertimbangan untuk menghindari konflik. Sementara partai salafi lain menolak kudeta atas presiden Mursi.

2. Kelompok Tamarod (pemberontak), yaitu para demonstran yang terdiri dari golongan posisi sekuler, gerakan kiri, Kristen dan Syiah.

3. Basyar Assad, Presiden Suriah, yang telah membantai sekitar 90.000 warga sipil Suriah. Dalam pernyataannya, Basyar mengatakan, " Apa yang terjadi di Mesir adalah jatuhnya politik Islam. Ini adalah bukti bahwa siapapun di dunia yang mencoba untuk menggunakan agama untuk kepentingan politik atau faksi, pasti akan jatuh."

4. Presiden Amerika, Barrack Obama. Pada 1 Juli 2013 sebelum kudeta, Obama mengatakan: " Komitmen AS ke Mesir bukan kepada individu-individu atau partai. Komitmen kami pada proses. Kami mendukung pemerintahan yang demokratis, (Tapi) demokrasi itu buan sekedar (menang) pemilu, tapi juga bagaimana pemenang pemilu bisa bekerjasama dengan kelompok oposisi." Bagaimana Obama disebut komitmen kepada proses, sementara dia mendukung kudeta militer yang jelas-jelas merupakan proses politik paling buruk?

5. Raja Abdullah dari Saudi. Dia adalah pemimpin negara Muslim yang paling cepat memberi ucapan selamat atas keberhasilan kudeta militer 3 Juli 2013. Seolah pernyataan Raja Abdullah ini sudah satu paket dengan agenda kudeta militer itu. Raja Abdullah berkata: "Atas nama saya sendiri dan orang-orang dari Kerajaan Arab Saudi, saya ucapkan selamat pada kepemimpinan Mesir pada titik kritis dalam sejarahnya. Dengan demikian, saya memohon kepada Allah untuk membantu Anda untuk memikul tanggung jawab diletakkan di bahu Anda, untuk mencapai harapan rakyat dari Republik Arab Mesir." Abdullah juga memuji angkatan bersenjata Mesir,"Pada saat yang sama, kami sangat berjabat tangan dengan pemimpin angkatan bersenjata, yang diwakili oleh Jenderal Abdul Fattah As Sisi, yang berhadil menyelamatkan Mesir saat kritis ini dari terowongan gelap. Terimalah salam kami kepada Anda dan penghormatan yang mendalam untuk saudara-saudara kita di Mesir dan rakyatnya, dan berharap stabilitas yang mantap atas Mesir dan keamanan."

6. Syaikh Abdullah bin Zayid An Nahyan, Menteri Luar Negeri Uni Emirates Arab (UEA) menyatakan pernyataan diplomatik, bahwa masyarakat Mesir akan mampu melalui masa kritis ini dan mencapai masa depan yang aman dan sejahtera. Tidak lama setelah kudeta, tanggal 9 Juli 2013, UEA dan Saudi memberikan bantuan 8 miliar dolar kepada Pemerintahan Adli Mansour yang menggantikan posisi Mursi.

7. Syiah dan Israel. Kedua golongan ini sangat menyambut baik kudeta militer 3 Juli 2013. Harian Maaref Israel menurunkan headline dengan gambar Jenderal Abdul Fattah As Sisi yang tengah menginpeksi pasukan, "Selamat datang kepada As Sisi, pahlawan kami yang telah mengembalikan Mesir dari pangkuan gerakan Islam, untuk kembli kepada pangkuan kami," kata harian Yahudi itu. 

8. Emir Qatar memberikan ucapan selamat, setelah terpilih presiden pengganti Mursi, Adli Mansour. "Qatar akan terus menghormati kehendak Mesir dan orang-orang di seluruh spektrum," kata departemen luar negeri Qatar. 

9. Perdana Menteri Irak, Nuri Al Maliki, melalui juru bicaranya, Ali Al Mausawi, menyatakan selamat atas Presiden Mesir, Adli Mansour. Dia juga memandang pentingnya kerjasama bilateral ke depan, pelaksanaan penilu dan rekonsiliasi nasional.

10. Kalangan sekuler, liberal, kiri, Syiah, Kristen dan lainnya di luar Mesir. Termasuk kalanagan serupa di Indonesia, yang diwakili media-media sekuler.

Para pendukung kudeta militer rata-rata kaum Islamphobia yang meliputi golongan militer, sekuler, liberalis, kiri, kirsten koptik, Syiah dan Yahudi Israel. Selain itu, para raja-raja monarkhi arab yang sangat ketakutan bila kehilangan kekuasaan akibat berlakunya sistem demokrasi yang menaikkan para Islamis ke tampuk kekuasaan. Tidak dilupakan, kudeta juga didukung sebagian faksi Salafi, Partai an Nuur, yang selalu bimbang dan tidak konsisten. Sebagai kaum Salafi, bukannya mereka taat Ulil Amri, malah mendukung pendongkelan kekuasaan.

Dalam pernyataannya pasca kudeta militer, Barack Obama merasa prihatin  dengan kudeta militer yang dilakukan militer Mesir. Obama mengatakan,"Tidak ada transisi menuju demokrasi tanpa kesulitan, namun pada akhirnya harus tetap setia kepada kehendak rakyat. Sebuah pemerintahan yang jujur, mampu, dan representatif adalah apa yang orang Mesir cari dan apa yang layak bagi mereka. Kemitraan antara Amerika Serikat dan Mesir didasarkan pada kepentingan dan nilai-nilai bersama, dan kami akan terus bekerja sama dengan orang-orang Mesir untuk memastikan bahwa transisi Mesir menuju demokrasi akan berhasil."

Pernyataan Obama ini sangat aneh, karena faktanya yang membiayai militer Mesir dengan bantuan dana 1,3 miliar dolar pada 10 Mei 2013 adalah Amerika Sendiri. Justru dengan dana itulah militer Mesir merasa punya tenaga(dan beban moral) untuk secepatnya merealisasikan permintaan Gedung Putih,, untuk menjatuhkan Presiden Mursi. Kata orang, "Tidak ada makan siang yang gratis."

oleh : AM Waskito
Air Mata Presiden Mursi, Pustaka al Kautsar, 2013
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut