Kerangka Konseptual Akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi..

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?

Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba.

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri

sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin.

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money).

Minggu, 29 September 2013

Prinsip Keadilan Transaksi Syariah

Yang dimaksud dengan prinsip keadilan dalam transaksi syariah adalah sebagaimana dijelaskan pada KDPPLKS yang diterbitkan oleh IAI. “Prinsip keadilan (‘adalah) esensinya menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya,(IAI, 2007, KDPPLKS par 17). Di mana implementasi keadilan dalam kegiatan bisnis yakni berupa aturan prinsip muamalah yang melarang adanya unsur riba, kezaliman, maysir, gharar, dan unsur haram(baik dalam bentuk barang maupun jasa). 

a. Riba
Esensi riba menurut IAI (2007), merupakan setiap tambahan pada jumlah piutang yang dipersyaratkan dalam transaksi pinjam-meminjam uang serta derivasinya dan transaksi tidak tunai lainnya, seperti murabahah tangguh; dan setiap tambahan yang dipersyaratkan dalam transaksi pertukaran antar barang-barang ribawi termasuk pertukaran uang (money exchange) yang sejenis secara tunai maupun tangguh dan yang tidak sejenis secara tunai. 

“Riba secara bahasa berarti tambahan, (Zuhaili, 2011, hlm. 306). Al Munir(1947) yang dikutip As Sa’adi(2008) mendefinisikan riba sebagai kelebihan dan tambahan. Al Halaby(1955) yang dikutip As Sa’adi(2008) mengatakan riba adalah suatu akad untuk mengganti barang yang sudah ditentukan tanpa diketahui sesuatu yang menyamainya dalam pandangan syara’, baik saat melakukan akad maupun dengan diakhirkan keduanya atau salah satunya. 

Dalam pengertian lain, Saeed (1996) yang dikutip Antonio(2001) secara linguistik, riba berarti tumbuh dan membesar. Antonio(2001) mendefinisikan riba sebagai pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Ibnu AL arabi Al Maliki yang dikutip Antonio(2001) dalam kitab Ahkan Al Qur’an menjelaskan bahwa riba secara bahasa adalah tambahan. Yang dimaksud riba dalam ayat Qur’ani yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah. 

Di antara kaum muslimin, terutama para ahli fiqh, tidak ada perbedaan dalam konteks haramnya riba. Sebab Allah SWT dalam Al qur’an Surat Al Baqarah ayat 275 secara jelas pengharaman terhadap riba. 

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…..”

Dalam ayat lainnya juga diterangkan haramnya riba. Ayat ini merupakan ayat terakhir dalam tahapan pengharaman riba. 

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba(yang belum dipungut).”(Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 278)

Dalam hadits Rasulullah saw dijelaskan tentang haramnya riba sebagaimana dalam hadits berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Said al Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda,”Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan(cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah(hadits riwayat Muslim no. 2971, yang dikutip Antonio, 2001, hlm.53)

Berdasarkan ayat al Qur’an maupun hadits yang menyatakan keharaman riba, Antonio (2001) menyatakan bahwa para ahli fiqh telah membahas masalah riba dan ditentukan jenis-jenis barang ribawi. Barang ribawi tersebut meliputi, emas dan perak(dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya), bahan makanan pokok seperti beras, gandum, dan jagung. Serta bahan makanan tambahan, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. 

Antonio (2001) mengelompokkan riba menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah riba utang-piutang dan kelompok kedua riba jual beli. Hal ini pun dipertegas juga oleh Zuhaili (2011) bahwa riba dibagi menjadi dua kelompok. Yakni riba fadhl dan riba nasi’ah sebagai riba dalam jual-beli, sedangkan riba qardh dan riba jahiliyyah sebagai riba dalam utang-piutang. 

Riba fadhl menurut Ibnu Qayyim yang dikutip Zuhaili (2011), yang merupakan riba dalam jual-beli, merupakan tambahan pada harta dalam akad jual-beli sesuai ukuran syariat (yaitu takaran atauu timbangan) jika barang yang ditukar sama. “Dapat juga riba fadhl  didefinisikan sebagai jual beli barang ribawi serupa dengan tambahan pada salah satunya, (Zuhaili, 2011, hlm. 309). 

Riba Fadhl merupakan “pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi,”(Antonio, 2001, hlm.41). Harta yang mengandung riba fadhl disebutkan dalam hadits. 

Dari Ubadah bin Shamait berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, terigu- dengan terigu, kurma dengan kurma, garam dengan garam harus sama beratnya dan tunai. Jika jenisnya berbeda maka juallah sekehendakmu tetapi harus tunai. (Hadits Riwayat Muslim) 

Riba Nasi’ah adalah “Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya,”(Antonio, 2001, hlm.41). Riba nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau suatu penambahan antara yang diserahkan sekarang dan yang diserahkan waktu kemudian. Zuhaili (2011) menambahkan bahwa menurut ulama Hanafiyah, riba nasi’ah didefinisikan sebagai penambahan waktu penyerahan barang, dan penambahan barang pada utang dalam penukaran dua barang berbeda jenis yng ditakar atau ditimbang, atau dua barang sejenis meskipun bukan barang yang ditakar dengan jenis yang sama, atau dengan jenis yang lain dengan tambahan sebagai kompensasi dari penangguhan penyerahan. 

Riba Qardh adalah “suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disayaratkan terhadap yang berutang,”(Antonio, 2001, hlm.41). Riba Jahiliyah adalah “Utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan,”(Antonio, 2001, hlm.41).

Mazhab Hanafi dan Hambali yang dikutip Santoso (2003) berpendapat bahwa terjadinya riba pada enam jenis barang yang disebutkan hadits dan segala macam yang dapat ditimbang dan ditakar baik berupa makanan atau bukan, harga atau bukan. Riba terjadi pada barang-barang yang dapat ditimbang dan ditakar. Santoso (2003) mengemukakan bahwa pendapat ini sulit untuk diterapkan. 

Dalam pendapat yang lain, mazhab Syafii yang juga dikutip Santoso (2003) bahwa illat pada keempat harta riba adalah makanan, sedangkan pada kedua harta adalah terbatas pada emas dan perak saja. Sehingga harta atau alat tukar yang bukan dari emas tidak termasuk harta riba.

b. Keazaliman
Menurut IAI (2007) mengenai esensi kezaliman (dzulm) adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, memberikan sesuatu yang tidak sesuai dengan ukuran, kualitas dan temponya. Mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya dan memperlakukan sesuatu tidak sesuai dengan posisinya. 

c. Judi dan Spekulatif (maysir)
Yang dimaksud dengan judi dan spekulatif dalam transaksi syariah adalah setiap transaksi yang bersifat spekulatif dan tidak berkaitan dengan produktifitas serta perjudian atau gambling. 

d. Ketidakjelasan (gharar)
IAI (2007) mendefinisikan esensi ketidakjelasan (gharar) dalam transaksi syariah adalah setiap transaksi yang berpotensi merugikan salah satu pihak karena mengandung unsure ketidakjelasan, manipulasi dan eksploitasi informasi serta tidak adanya kepastian pelaksanaan akad. IAI merinci bentuk-bentuk gharar sebagai berikut :

1. Tidak adanya kepastian penjual untuk menyerahkan obyek akad pada waktu terjadi akad, baik obyek akad itu sudah ada maupun belum ada.
2.  Menjual sesuatu yang belum berada di bawah penguasaan penjual.
3. Tidak adanya kepastian kriteria kualitas dan kuantitas barang atau jasa.
4. Tidak adanya kepastian jumlah harga yang harus dibayar dan alat pembayaran.
5. Tidak adanya ketegasan jenis dan obyek akad.
6. Kondisi obyek akad dapat dijamin kesesuaiannya dengan yang ditentukan dalam transaksi.
7. Adanya unsur eksploitasi salah satu pihak karena informasi yang kurang atau dimanipulasi dan ketidaktahuan atau ketidakpahaman yang ditransaksikan.

Santoso (2003) mengistilahkan gharar yakni yang pada sesuatu yang hasilnya tidak jelas, dapat atau tidak dapat. Ibnu Abidin yang dikutip Santoso (2003) menyatakan gharar adalah syak atau keraguan pada apakah komoditi tersebut ada atau tidak ada. Gharar khusus pada komoditi yang tidak diketahui spesifikasinya. Kedua pendapat tersebut merupakan pendapat mayoritas ulama. 

e. Unsur Haram
IAI (2007) menjelaskan bahwa esensi haram adalah segala unsur yang dilarang secara tegas dalam al Qur’an dan As Sunnah.

Share:

Kamis, 26 September 2013

Tujuan Muamalah Dalam Islam

Dalam syariah yang mengatur urusan muamalah memiliki tujuan-tujuan mengapa dalam interaksi antar sesama dalam urusan dunia perlu diatur sedemikian rupa. Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan Hulwati (2009), yakni pertama merupakan pengabdian kepada Allah. Kedua, berorientasi pada akhirat. Hal ini didasarkan pada Al Qur’an Surat Al Qashash ayat 77. Ketiga, harta yang diberikan Allah diberikan kepada orang-orang yang memerlukan. Dan keempat, tidak melakukan kerusakan di masyarakat. Sehingga, pada dasarnya hukum-hukum yang dijelaskan oleh ajaran muamalah adalah untuk menciptakan kemaslahatan bagi manusia dengan memperhatikan keadaan, waktu dan tempat.
            Hulwati (2009) menambahkan bahwa muamalah memiliki keistimewaan, di antaranya:
1.      Berdasarkan kepada gambaran (tasawwur) kehidupan yang jelas.
2.      Memberi kesejahteraan dan keadilan kepada semua pihak yang terlibat dalam perdagangan.
3.    Menegaskan konsep perkongsian untung dan rugi dan juga penagihan pendapatan dan kekayaan kepada semua lapisan masyarakat.
4.      Tasawwur keimanan yang jelas dapat mengawal bentuk aktivitas yang selaras dengan kelangsungan hidup manusia yang berakhlak dan bermartabat.
Menurut pendapat lain dikenal dengan maqashid syariah atau tujuan syariah yaitu yang merupakan konsep dari Asy Syatibi (1247-1388 M), terdiri dari tiga tingkatan, tingkatan darurat (dharuriyah), tingkatan memudahkan (hajiyah) dan tingkatan pelengkap(tahsiniyah). Dalam konsep maqashid syariah ini, Syatibi memperinci tingkatan darurat(dharuriyah) dengan mencakup pemeliharaan lima unsur pokok, yakni pemeliharaan agama(ad diin), jiwa(nafs), akal(aql), keturunan atau kehormatan(nasl) dan harta(al maal).
Zahrah (2008) mengatakan bahwa syariat Islam datang membawa rahmat bagi umat manusia. Oleh karena itu terdapat tiga sasaran hukum Islam (syariah), yakni sebagai berikut:
a.       Penyucian jiwa
“Hal ini ditempuh melalui berbagai ragam ibadah yang disyariatkan, yang kesemuanya dimaksudkan untuk membersihkan jiwa serta memperkokoh kesetiakawanan sosial,(Zahrah, 2008, hlm.543). Menurutnya, ibadah-ibadah tersebut dapat membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran(penyakit) dengki yang terdapat pada hati manusia. Sehingga, akan tercipta suasana saling kasih mengasihi.
b.      Menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam
Dalam Islam, setiap orang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum dan pengadilan. Tidak dibedakan status sosial masing-masing individu tersebut. Sehingga, penegakan syariah akan menjamin tiap individu untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya.
c.       Kemaslahatan(maslahah)
“Tidak sekali-kali suatu perkara disyariatkan oleh Islam melalui Al Qur’an maupun Sunnah melainkan disitu terkandung maslahat yang hakiki, walaupun maslahat itu tersamar pada sebagian orang yang tertutup oleh hawa nafsu,(Zahrah, 2008, hlm.548).
Atas dasar tujuan syariah itulah bahwa rincian-rincian yang dikemukakan Syatibi maupun Abu Zahrah juga merupakan tujuan dari muamalah itu sendiri. Oleh sebab muamalah adalah salah satu cabang dari syariah yang diatur oleh Islam berdasarkan sumber hukumnya, Al Qur’an dan As Sunnah. Karena muamalah yang dimaksud juga dalam arti sempit, seperti hubungan antar manusia dalam kaitannya dengan harta benda dan kekayaan, maka perlindungan terhadap harta(al maal) merupakan tujuan pokok dari muamalah dengan demikian.

Share:

Pemikiran Ekonomi Ibnu Khaldun

Riwayat Hidup 

Ibnu Khaldun yang bernama lengkap Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada awal Ramadhan 732 H atau bertepatan dengan 27 Mei 1332 M. Ibnu Khaldun mengawali pelajaran dari ayah kandungnya sendiri. Setelah itu, ia pergi berguru kepada para ulama terkemuka, seperti Abu Abdillah Muhammad Al-Arabi Al-Hashayiri, Abu Al-Abbas Ahmad Ibnu Al-Qushshar, Abu Abdillah Muhammad Al-Jiyani, dan Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ibrahim Al-Abili, untuk mempelajari ilmu pengetahuan, seperti tata bahasa Arab, Hadits, Fiqh, Teologi, Logika, Ilmu Alam, Matematika, dan Astronomi.

Ibnu Khaldun adalah anggota kelompok elit, baik karena keturunan maupun pendidikan. Pada tahun 1352 M, ketika masih berusia 25 tahun, ia sudah enjadi Master of The Seal dan memulai karier politiknya yang berlanjut hingga 1375 M. Perjalanan hidupnya beragam. Namun, baik di dalam penjara atau istana, dalam keadaan kaya atau miskin, menjadi pelarian atau menteri, ia selalu mengambil bagian dalam peristiwa-peristiwa politik dizamannya, dan selalu tetap berhubungan dengan para ilmuwan lainnya. Hal ini menandakan bahwa Ibnu Khaldun tidak pernah berhentu belajar. Di tahun 1375 M sampai 1378 M, ia mengalami pensiunnya di Gal’at Ibnu Salamah, sebuah puri di provinsi Oran, dan memulai menulis sejarah dunia dengan Muqaddimah sebagai volume pertamanya. Lalu sisa hidupnya dihabiskan di Kairo hingga ia wafat pada tanggal 17 Maret 1406 M.

Karya - Karya Ibnu Khaldun

Karya terbesar Ibnu Khaldun adalah Al-Ibar (Sejarah Dunia). Karya – karya ini terdiri dari 3 buah buku yang terbagi ke dalam 7 volume, yakni Muqaddimah (satu volume), Al-Ibar (empat volume), dan Al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun (dua volume).

Dalam Muqaddimah yang merupakan volume pertama dari Al-Ibar, setelah memuji sejarah, Ibnu Khaldun berusaha untuk menunjukkan bahwa kesalahan-kesalahan sejarah terjadi ketika sang sejarahwan mengabaikan lingkungan sekitar. Ia berusaha mencari pengaruh lingkungan fisik, nonfisik, institusional, dan ekonomis terhadap sejarah.

Akibatnya, muqaddimah utamanya adalah buku tentang sejarah. Namun, Ibnu Khaldun menguraikan dengan panjang lebar teori produksi, teori nilai, teori distribusi, dan teori siklus yang kesemuanya bergabung menjadi teori ekonomi umum.

Pemikiran Ibnu Khaldun

Teori Produksi

Pada satu sisi, manusia adalah binatang ekonomi. Tujuannya adalah produksi. Pada sisi lainnya, faktor yang utama adalah tenaga kerja manusia. Karena itu, manusia harus melakukan produksi guna mencukupi kebutuhan hidupnya, dan produksi berasal dari tenaga manusia.
Jika manusia ingin hidup dan mencari nafkah, manusia harus makan. Dan ia harus memproduksi makanannya. Hanya tenaganya yang mengizinkannya untuk tetap dapat makan:
“Semua berasal dari Allah. Namun tenaga manusia penting untuk ...[penghidupan manusia].” (QS. Al-Baqarah : 274)
            Setiap makanan memerlukan sejumlah kegiatan dan setiap kegiatan memerlukan sejumlah peralatan dan keahlian. Hanya melalui spesialisasi dan pengulangan operasi-operasi sederhanalah orang menjadi terampil dan dapat memproduksi barang dan jasa yang bermutu baik dengan kecepatan yang baik.

        Oleh karena itu, Ibnu Khaldun menganjurkan organisasi sosial dan produksi dalam bentuk suatu spesialisasi kerja. Hanya spesialisasi saja yang memberikan produktivitas yang tinggi; hal ini perlu untuk penghasilan dari suatu penghidupan yang layak. Hanya pembagian kerja yang memungkinkan terjadinya suatu surplus dan perdagangan antara para produsen.

        Sebagaimana terdapat pembagian kerja di dalam negeri, terdapat pula pembagian kerja secara internasional. Pembagian kerja internasional ini tidak didasarkan kepada sumber daya alam dari negeri-negeri tersebut, tetapi didasarkan kepada keterampilan penduduknya, karena bagi Ibnu Khaldun, tenaga kerja adalah faktor produksi yang paling penting. Karena itu, semakin banyak populasi yang aktif, semakin banyak produksinya.

        Sejumlah surplus barang dihasilkan dan dapat diekspor, dengan demikian meningkatkan kemakmuran kota tersebut. Pada pihak lain, semakin tinggi kemakmuran, semakin tinggi permintaan penduduk terhadap barang dan jasa. Kenaikan permintaan terhadap barang dan jasa ini menyebabkan naiknya harga-harga barang dan jasa tersebut, dan juga naiknya gaji yang dibayarkan kepada pekerja-pekerja terampil.

        Dengan demikian, Ibnu Khaldun menguraikan suatu teori yang menunjukkan interaksi antara permintaan dan penawaran, permintaan menciptakan penawarannya sendiri yang pada gilirannya menciptakan permintaan yang bertambah. Selanjutnya, ia berusaha memperlihatkan proses perkembangan yang komulatif yang disebabkan oleh infrastruktur intelektual suatu negara. Bagi Ibnu Khaldun, karena faktor produksi yang paling utama adalah tenaga kerja dan hambatan satu-satunya bagi pembangunan adalah kurangnya persediaan tenaga kerja yang terampil. Proses komulatif ini pada kenyataannya merupakan suatu teori ekonomi tentang pembangunan.

        Dengan demikian, Ibnu Khaldun menguraikan sebuah teori ekonomi tentang pembangunan yang berdasarkan atas interaksi permintaan dan penawaran, serta lebih jauh, tentang pemanfaatan dan pembentukan modal manusia.

        Teori Ibnu Khaldun merupakan embrio suatu perdagangan internasional, dengan analisis tentang syarat-syarat pertukaran antara negara-negara kaya dengan negara-negara miskin, tentang kecenderungan untuk mengekspor dan mengimpor, tentang pengaruh struktur ekonomi terhadap perkembangan, dan tentang pentingnya modal intelektual dalam proses pertumbuhan.

Teori Nilai, Uang dan Harga

a.    Teori Nilai
Bagi ibnu Khaldun, nilai suatu produk sama dengan jumlah tenaga kerja yang dikandungnya. Begitu juga kekayaan bangsa-bangsa tidak ditentukan oleh jumlah uang yang dimiliki bangsa tersebut, tetapi ditentukan oleh produksi barang dan jasanya dan oleh neraca pembayaran yang sehat. Neraca pembayaran yang sehat adalah konsekuensi alamiah dari tingkat produksi yang tinggi.

b.    Teori Uang
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa uang tidak perlu mengandung emas dan perak, tetapi emas dan perak menjadi standar nilai uang. Uang yang tidak mengandung emas dan perak merupakan jaminan pemerintah menetapkan nilainya dan pemerintah tidak boleh mengubahnya. Katakanlah, pemerintah mengeluarkan uang nominal Rp 10.000 yang setara dengan setengah gram emas. Bila kemudian pemerintah mengeluarkan uang nominal Rp 10.000 seri baru dan ditetapkan nilainya setara dengan seperempat gram emas, uang akan kehilangan makna sebagai standar nilai.

Dalam keadaan nilai uang yang tidak berubah, kenaikan harga atau penurunan harga semata-mata ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Setiap barang akan mempunyai harga keseimbangannya. Bila lebih banyak makanan dari yang diperlukan di satu kota,harga makanan menjadi murah.

 c.    Teori Harga
Ibnu Khaldun membagi jenis barang menjadi barang kebutuhan pokok dan barang mewah. Menurut dia, bila suatu kota berkembang dan selanjutnya populasinya bertambah banyak, harga-harga barang kebutuhan pokok akan mendapat prioritas pengadaannya. Akibatnya, penawaran meningkat dan ini berarti turunnya harga. Adapun untuk barang-barang mewah, permintaannya akan meningkatsejalan dengan berkembangnya kota dan berubahnya gaya hidup. Akibatnya, harga barang mewah meningkat.

Ibnu Khaldun juga menegaskan mekanisme penawaran dan permintaan dalammenentukan harga keseimbangan. Naik turunnya penawaran terhadap harga ketika barang-barang yang tersedia sedikit, harga-harga akan naik. Namun bila jarak antar kota dekat dan aman untuk melakukan perjalanan, akan banyak barang yang diimpor sehingga ketersediaan barang akan melimpah, dan harga-harga akan turun. 

Teori Distribusi

Harga suatu produk terdiri dari tiga unsur : gaji, laba, dan pajak. Setiap unsur ini merupakan imbal jasa bagi setiap kelompok dalam masyarakat : gaji adalah imbal jasa bagi produser, laba adalah imbal jasa bagi pedagang, dan pajak adalah imbal jasa bagi pegawai negeridan penguasa. Karenanya Ibnu Khaldun membagi perekonomian ke dalam tiga sektor : produksi, pertukaran, dan layanan masyarakat.

Teori Siklus

Bagi Ibnu Khaldun, produksi bergantung kepada penawaran dan permintaan terhadap produk. Penawaran tergantung kepada jumlah produsen dan hasratnya untuk bekerja, demikian juga permintaan tergantung kepada jumlah pembeli dan hasrat mereka untuk membeli. Hasrat untuk memproduksi adalah hasil dari motif-motif psikologis dan finansial yang ditentukan oleh permintaan yang tinggi dan distribusi yang menguntungkan produser, dan pedagang, dan karenanya pajak yang rendah dan laba serta gaji yang tinggi.

Variabel penentu bagi produksi adalah populasi serta pendapatan dan belanja negara, keuangan publik. Namun menurut Ibnu Khaldun populasi dan keuangan publik harus menaati hukum yang tidak dapat ditawar-tawar dan selalu berfluktuasi.

Produksi ditentukan oleh populasi. Semakin banyak populasi, semakin banyak produksinya. Demikian pula, semakin besar populasi semakin besar permintaannya terhadap pasar dan semakin besar produksinya. Dilain pihak, bertambahnya populasi memerlukan tambahan produksi agrikultur. Namun, bertambahnya populasi suatu kota menyebabkan bertambahnya produksi manufaktur dan penurunan produksi agrikultur secara absolut maupun relatif.

Kesimpulan

Ibnu Khaldun menemukan banyak pemikiran-pemikiran ekonomi yang mendasar beberpa abad sebelum kelahirannya “secara resmi”. Ia menemukan manfaat-manfaat dan perlunya pembagian kerja sebelum Smith dan prinsip nilai tenaga kerja sebelum Ricardo. Ia menguraikan teori populasi sebelum Malthus dan menandaskan peran negara dalam perekonomian sebelum Keynes. Ekonom-ekonom yang menemukan kembali mekanisme yang telah ditemukannya terlalu banyak yang bisa disebut.

Namun. Lebih dari sekedar itu semua, Ibnu Khaldun menggunakan konsep-konsep ini untuk membangun suatu sistem yang dinamis dan koheren. Dalam sistem ini, mekanisme ekonomi tidak dapat tidak membawa aktivitas ekonomi kepada fluktuasi jangka panjang. Karena koherensi sistemnya, kritik yang dapat dilancarkan terhadap kebanyakan konsep-konsep ekonomi yang menggunakan ide yang sama tidak dapat diterapkan disini.

Haruskah kita merevisi begitu banyak sebutan-sebutan Bapak-Bapak Penemu Teori-Teori Ekonomi dalam sejarah pemikiran? Ibnu Khaldun diklaim sebagai pendahulu bagi banyak pemikir Eropa, kebanyakan sosiolog, sejarawan dan filsuf. Namun demikian, walaupun ide-idenya sudah dikenal di Eropa sejak abad kesembilan belas, kelihatannya para penerusnya tidak akrab dengan pemikiran ekonominya.  
Share:

Senin, 23 September 2013

Krisis Ekonomi, Kita Bisa Apa?

Negara sedang demam dan flu. Sama dengan manusia, demam disebabkan oleh virus saat daya tahan tubuh melemah. Gejalanya adalah penurunan kurs rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan.

Ekonomi Indonesia terkena imbas pengaruh luar saat kondisi ekonomi nasional sedang lemah. Krisis ekonomi Eropa dan Amerika menurunkan permintaan komoditas Indonesia. Ekspor ke Eropa, China, dan India menurun nilai dan volumenya sejak tahun 2012.

Penurunan ekspor menyebabkan pendapatan pengusaha dan masyarakat turun serta berdampak penurunan pajak. Di lain pihak, impor tetap naik karena kenaikan permintaan BBM dan barang modal untuk investasi. Akibatnya, defisit perdagangan mencapai 6 miliar dollar AS untuk Januari-Juli 2013, dengan defisit neraca pembayaran hampir 10 miliar dollar AS.

Kebijakan dalam negeri yang populis, dengan tidak mengurangi subsidi BBM walaupun harga minyak mentah sudah di atas 100 dollar AS/barrel sejak tahun 2010, membuat subsidi mencapai lebih dari Rp 300 triliun per tahun. Pemerintah tidak mampu membangun infrastruktur dan justru menyebabkan defisit APBN yang besar karena impor BBM menggerus devisa. Dalam kondisi yang sulit ini, biaya rutin negara dalam APBN 2013 dan 2014, khususnya biaya pegawai, bunga, dan cicilan utang, tetap saja tinggi. Peluang melaksanakan pembangunan semakin kecil.

Situasi ini mengkhawatirkan pengusaha yang akhirnya kurang percaya terhadap rupiah. Kurs tembus Rp 11.000 per dollar AS, apalagi secara bersamaan Fed AS akan mengurangi stimulus dana murah karena ekonomi Amerika mulai membaik.

Tidak mudah

Penyelesaian setiap krisis tidak ada yang mudah, seperti minum obat pahit atau menjalani operasi, tetapi yang terpenting adalah belajar dari krisis agar kita tidak terperosok di lubang yang sama. Kita pernah krisis hebat tahun 1997-1998 yang memaksa pemerintah menerbitkan rekap-bond Rp 650 triliun dan kita harus membayar cicilan dan bunga hingga 20 tahun ke depan. Krisis tahun 2008 berskala lebih kecil dan bisa diatasi, kecuali bagi korban skandal Bank Century.

Krisis dengan solusi yang keliru sama dengan memberi pasien obat yang salah atau malapraktik, akibatnya fatal. Kebijakan yang keliru menyebabkan krisis tahun 1997 menjadi yang terparah di Asia Tenggara. Yang pertama, upaya mengatasi inflasi dengan menaikkan bunga sesuai dengan saran IMF justru berdampak buruk. Bunga Bank Indonesia yang naik terus justru mendorong inflasi karena biaya ekonomi naik dan produksi turun. Tahun 1998, BI Rate mencapai 60 persen dan inflasi melambung pada tingkat 77 persen. Pemilik deposito makin kaya, yang miskin makin susah. Situasi makin parah dengan pertumbuhan ekonomi negatif 15 persen.

Yang kedua dan paling fatal adalah kebijakan blanket guarantee: pemerintah menjamin semua dana nasabah di bank. Ini menyebabkan penyelewengan besar-besaran. Banyak bankir sengaja membangkrutkan banknya karena dijamin penuh oleh pemerintah. Ini meninggalkan beban Rp 650 triliun, yang bunga dan cicilannya harus dibayar anak cucu kita.

Selain saran keliru IMF, upaya juga berlebihan untuk menjaga rupiah. Padahal, rupiah tidak ke mana-mana karena tidak laku diperdagangkan di luar negeri. Rupiah hanya pindah dari bank ke bank dalam negeri karena bunga tinggi.

Tahun 2008, kebijakan blanket guarantee saya tolak keras walaupun didesak oleh Menko Perekonomian/Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia serta dunia usaha, khususnya perbankan. Pendirian saya jelas, kenapa Pemerintah Indonesia yang sedang kesulitan harus menjamin bank-bank asing, bank campuran milik investor dari Singapura/Malaysia, serta bank nasional yang kaya? 

Selain jaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan, pemegang saham dari bank tersebut seharusnya ikut bertanggung jawab. Untuk bank BUMN, karena pemegang saham adalah negara, negara turut bertanggung jawab.

Dengan sikap tersebut, disertai penghematan anggaran dan pengurangan subsidi BBM melalui konversi minyak tanah ke LPG dan menaikkan harga BBM pada Mei 2008 serta aturan monitoring devisa membuat kita dapat melalui krisis 2008 dengan baik. Hanya saja, tanpa sepengetahuan saya, Bank Century di-bail out tanpa dasar jelas.

Belajar dari krisis 1998 dan 2008, ada langkah-langkah yang harus kita tempuh.

Pertama, meningkatkan efisiensi. Terkait penyebab eksternal berupa imbas krisis Eropa dan Amerika Serikat, kita tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga efisiensi dalam negeri dan menjaga pasar yang ada, baik pasar ekspor maupun domestik.

Kedua, mengatasi defisit perdagangan. Meningkatkan ekspor tidak mudah dalam pasar yang sempit dan kompetitif. Fokus kita tidak pada bagaimana menjual barang, tetapi juga bagaimana penerimaan pembayaran dikelola dengan benar karena yang defisit adalah devisa. Selama ini ekspor berjalan, tetapi devisa disimpan di luar negeri. Kewajiban ekspor natural resources dengan L/C harus diperlakukan agar devisa masuk ke BI, seperti telah disetujui tahun 2008 yang kemudian dibatalkan Menteri Perdagangan.
Monitoring devisa keluar harus diperketat, seperti di Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat. Ini untuk memperbaiki neraca pembayaran dan hasil pajak.

Kurangi impor

Kita perlu mengurangi impor produk yang sebenarnya bisa kita produksi. Kita masih impor pangan, tekstil, hasil industri, dan BBM. Produktivitas harus ditingkatkan dan konsumsi diprioritaskan untuk produksi dalam negeri. Pengalaman 2008/2009 menunjukkan bahwa kita bisa swasembada beras.

Selain itu, perlu diselesaikan segera sejumlah proyek listrik 10.000 megawatt yang sudah terlambat tiga tahun. Program ini sebenarnya mudah, tetapi sayang tidak dijalankan serius dan sejumlah pihak takut mengambil keputusan. Jika ini terwujud, akan mengurangi impor BBM dan subsidi sewa diesel yang mahal. Selanjutnya, perlu segera didorong proyek listrik 10.000 megawatt tahap kedua agar tiga tahun lagi Indonesia masih benderang.

Begitu pula terkait dengan perizinan. Birokrasi kita masih rumit dan lamban, artinya biaya tinggi. Izin di kementerian dan urusan membangun listrik butuh waktu lama dan bertele-tele, padahal pengeluaran untuk subsidi sudah mencekik.

Untuk mengurangi defisit APBN yang bisa melebihi batas 3 persen GDP, tidak ada cara selain menghemat dan mengurangi biaya rutin negara berupa belanja barang dan modal yang tidak perlu seperti membangun kantor-kantor pemerintah baru dan perjalanan. Pembangunan sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur harus jalan terus.

Ketiga, mengurangi subsidi energi (BBM dan listrik) dengan penyesuaian harga lagi. Walaupun Juni lalu sudah naik, kenaikan itu belum cukup mengurangi defisit. Tahun 2005, BBM naik dua kali baru stabil. Memang akan berdampak pada tingkat inflasi, tetapi hanya sementara. Semua upaya penghematan harus diwujudkan, bukan dipidatokan.

Memperbaiki defisit perdagangan dan APBN akan otomatis memperbaiki neraca pembayaran karena kepercayaan dunia usaha akan baik. Pemerintah sudah mengeluarkan paket kebijakan bulan lalu, itu belum cukup, apalagi kalau hanya bersifat imbauan dan kebijakan moneter.

Beberapa kebijakan moneter kemungkinan justru akan berdampak negatif. Upaya menaikkan BI Rate, seperti pengalaman 1998, bunga dan inflasi kejar-kejaran ke atas. Begitu pula buy back saham, justru akan mendorong investor asing menjual saham. Buat apa melindungi investor asing di bisnis yang memang penuh risiko. Jika BUMN kelebihan cash, lebih baik diinvestasikan ke sektor riil. Lebih baik melindungi produsen tempe daripada investor pasar saham.

Kita tidak perlu bersikap seakan pasar saham adalah segalanya seperti pandangan orang Singapura dan Hongkong. Faktanya, kapitalisasi saham di Singapura mencapai 120 persen GDP, di Indonesia hanya 35 persen, 75 persen milik asing.

Melemahnya kurs rupiah mengakibatkan ada pihak yang rugi dan ada juga yang untung. Bagi eksportir atau daerah penghasil komoditas ekspor, justru akan naik pendapatannya dalam rupiah sehingga makin menyejahterakan. Bagi mereka dengan pendapatan tetap dalam rupiah, pendapatan riil akan turun karena inflasi.

Kenaikan BI Rate juga akan mendorong fund manager asing masuk ke SBI, yang bunganya dibayar dan dijamin BI/negara, untuk apa? Kalau dana SBI Rp 300 triliun dan kita harus membayar bunga tanpa bisa digunakan, sama saja kita dikuras.

Begitu pula pikiran dari beberapa pejabat bahwa krisis ini dapat diatasi dengan meningkatkan konsumsi. Hanya satu negara yang bisa melakukan, yaitu Amerika Serikat, karena bisa mencetak dollar untuk membeli barang dari luar. Di Indonesia, harus ada pendapatan baru konsumsi.

Belajar dari pengalaman, dalam setiap krisis yang harus diobati adalah penyebab bukan gejalanya serta obat yang paling tepat adalah peningkatan produktivitas dan penghematan. Semua perlu pengorbanan. Memberi obat yang keliru akan sangat berbahaya dan kita sudah belajar itu saat krisis tahun 1998. ●

oleh  : M. Jusuf Kalla | Wakil Presiden RI 2004 - 2009
Sumber : Kompas, 23 September 2013
Sumber foto : jusufkalla.info
Share:

Selasa, 17 September 2013

Akhlak Umar Bin Khattab Terhadap Harta

Berikut akan saya kutip beberapa akhlak Umar bin Khattab dalam memandang harta dan sikap-sikap terhadapnya. 

Terhadap Harta Rampasan Perang 

Umar bin Khattab terkenal sebagai seorang yang zahid yang paling keras untuk menjauhi harta. Jikalau Rasulullah saw memberikan kepada Umar harta hasil rampasan perang yang telah diperoleh Pasukan muslimin, Umar berkata,” Berikan kepada yang lebih miskin dari saya.” Namun Nabi berkata kepada umar,”Terimalah dan simpan kemudian sedekahkan.”

Begitu kuat zuhudnya, saat itu Umar bin Khattab mendapat bagian tanah di Khaibar, kemudian Umar pergi menemui Rasulullah saw, dan berkata kepada Nabi, “ Saya mendapat bagian tanah di Khaibar, yang sebenarnya belum pernah saya mendapat harta begitu berharga, tetapi apa yang harus saya perbuat dengan itu. “ Nabi berkata,”Kalau Anda mau pokoknya wakafkan dan sedekahkan dengan itu.” Maka oleh Umar, tanah itu disedekahkan kepada fakir miskin, kaum kerabat, membebaskan hamba sahaya, fi sabilillah dan kepada tamu. Diperkenankan juga orang untuk mengurusinya dan menikmati dengan sepantasnya atau memberikan kepada teman yang tidak ikut memilikinya. Umar berkata,” Yang tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan pokoknya.” Inilah sedekah pertama kali dalam Islam, dan inilah pokok pertama kali yang menjadi wakaf pertama di kalangan kaum muslimin. 

Saat itu, selepas penaklukan Jalula dan Hulwan, yang saat itu dalam kekuasaan  Persia, Sa’d bin abi Waqqas sebagai pemimpin pasukan mengirimkan harta rampasan perang ke Madinah bersama rombongan yang diantaranya adalah Ziyad bin Abi Sufyan. Setelah beberapa pemuka member isyarat agar Umar segera menyimpan harta rampasan perang itu di Baitul Maal, maka Umar berkata,”Sebelum malam tiba barang-barang ini sudah akan saya bagikan.” Barang-barang rampasan perang itu diletakkan di ruangan masjid dengan dijaga oleh Abdurrahman bin auf dan Abdullah bin Arqam. Esoknya, selepas Umar mengimami solat subuh dan matahari sudah mulai terbit, ia meminta barang-barang rampasan perang itu diperlihatkan. Namun setelah Umar melihat segala macam yakut, zamrud, berlian, emas dan perak, Umar menangis. Abdurrahman bin auf bertanya,” apa yang membuat Anda menangis Amirul Mukminin? Sungguh semua ini harus kita syukuri.” Umar menjawab,” Bukan ini yang membuat saya menangis. Demi Allah, jika Allah memberikan yang semacam ini kepada suatu bangsa, pasti mereka akan saling mendengki, saling membenci. Dan bila suatu bangsa sudah saling mendengki, permusuhan antara mereka akan berlarut-larut.”

Dalam kisah yang lain, yakni saat diperolehnya rampasan perang yang sangat banyak setelah menaklukkan jantung kekuasaan Persia, istananya, di Mada’in. Setelah seperlima harta rampasan perang dikirim kepada Umar di Madinah, ia begitu terkejut dengan begitu banyaknya rampasan perang itu. Ia menoleh kepada kepada orang-orang di sekitarnya seraya berkata,” Mereka orang-orang yang dapat dipercaya yang telah melaksanakan semua ini.” Ali bin Abi Thalib yang juga hadir pada saat itu menjawab,” Anda hidup sangat sederhana dengan menahan diri dari segala yang Anda rasa tidak baik, sehingga rakyat Anda juga begitu. Kalau saja aAnda mau menyenangkan diri tentu mereka juga akan demikian.” Melihat harta-harta tersebut yang begitu banyaknya Umar lekas menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Allah SWT,” Allahumma ya Allah, Engkau telah menghindarkan semua ini dari Rasul-Mu dan Nabi-Mu, padahal dia lebih  Kau cintai daripada aku, lebih Kau muliakan daripada aku, juga Engkau telah menghindarkannya dari Abu Bakar, yang lebih Kau cintai daripada aku, lebih Kau muliakan daripada aku. Maka jika semua ini akan Kau berikan kepadaku, aku berlindung kepada-Mu ya Allah, juga jangan sampai Kau berikan kepadaku untuk memuliakan aku.”

Pada akhir tahun 17 H, bencana kelaparan menimpa negeri-negeri di Arab. Dari ujung selatan hingga ujung utara, yang berlangsung selama Sembilan bulan. Telah rusak usaha pertanian dan peternakan, hingga penduduk mengalami beban hidup yang sangat berat. Setelah kelaparan saat-saat pada puncaknya, Umar disuguhi roti yang diremukkan dengan samin. Ia mengajak seorang badui untuk memakan roti itu bersama. Tiap kali menyuap roti, badui itu selalu menyuap yang diikutinya dengan lemak yang terdapat di sisi luarnya. Umar bertanya,”Tampaknya Anda tak pernah mengenyam lemak?” “Ya,”jawab orang badui itu. Saat itu umar bersumpah untuk tidak lagi makan daging atau samin sampai semua orang hidup seperti biasa. Sumpahnya itu ia tepati hingga masa paceklik berakhir. Dimana selama masa itu, Umar bin Khattab yang warna kulitnya putih kemerahan, pada masa kelaparan itu orang-orang sudah melihatnya sudah berubah menjadi hitam. Ia hanya menyantap minyak zaitun, dan lebih sering mengalami kelaparan, sehingga banyak orang yang mengatakan setelah melihat apa yang menimpanya itu : Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun abu ini kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin.

Meski menjadi seorang Khalifah, Umar bin Khattab tetap menjadi Umar yang sederhana, memandang bahwa dunia begitu remeh dan hal itu sudah menjadi tuntutan imannya. Suatu hari Umar pernah ditanya, dari harta Allah apa yang dibolehkan untuk dia, Umar menjawab,” Jawaban saya kepada kalian; Yang dianggap boleh dari harta itu buat saya dua pasang pakaian; sepasang untuk musim dingin dan sepasang untuk musim panas; itu yang saya pakai untuk menunaikan haji lalu dibalikkan untuk umrah; yang saya makan dan dimakan keluarga, seperti yang biasa dimakan keluarga Quraisy, bukan dari yang terkaya, juga bukan dari yang termiskin. Di samping itu saya adalah sama dengan Muslimin yang lain, yang saya peroleh sama dengan yang mereka peroleh.”


Pustaka : Muhammad Husein Haekal, Umar bin Khattab

Share:

Senin, 16 September 2013

DUL

KITA tentu tak menyangka bagaimana mungkin seorang bocah berusia 13 tahun sudah dilepas membawa mobil sendiri pada tengah malam.

Memang ia ditemani seseorang, tetapi ia juga masih terbilang bocah. Bukan mengemudi di dekat rumah dengan pengawasan orangtua, melainkan di jalan tol, menempuh jarak yang terbilang jauh. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu.

Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun setiap kali melihat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenarnya sangat khawatir. Tak dapat dipungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar.

Namun reaksinya sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif, yang satunya memberi materi dan servis tiada batas, sehingga menjadi amat liberal.

Di segmen atas anak-anak diberikan mobil, di bawah menuntut dibelikan sepeda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan menjadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapa-siapa maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan Dul mengirim sinyal penting bagi kita semua.

Business class
Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa menyaksikan keluarga-keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang baby sitter, duduk sedikit di belakang, tak jauh dari batas kelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Di masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga menunggu di business lounge, dan naik pesawat dengan tiket termahal.

Sayang sekali, cara makan anak-anak belum dididik layaknya kelas menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, makan tercecer di jalan, dan di atas pesawat memperlakukan pramugari seperti pembantunya di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pramugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-beradik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orangtua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantubaby sitter yang terlihat gelisah. Orangtua mereka umumnya adalah pemilik areal pertambangan, pedagang, atau ada juga seleb-seleb muda yang belakangan banyak bermunculan. Ayah dan ibu memilih tidur.

Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajarkan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video game, dari iPad yang dibawa anaknya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah. Kesulitan orangtua tentu bukan hanya berlaku bagi kelas menengah saja. Di taman kanak-kanak yang diasuh istri saya di Rumah Perubahan, di tengah-tengah kampung di dekat Pondok Gede hal serupa juga kami temui. Belum lama ini sepasang suami-istri menitipkan anaknya untuk sekolah di tempat kami, dan setelah mengecek status sosial-ekonominya, anak itu pun diputuskan untuk diterima.

Namun ada yang menarik, setelah diobservasi, anak berusia lima tahun itu seperti belum tersentuh orangtuanya. Ia seperti rindu bermain, motorik halus dan kasarnya belum terbentuk, jauh tertinggal dari teman-teman sebayanya. Setelah dipelajari dan orangtua diajak dialog, kami menjadi benar-benar paham pergolakan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita. Orangtua selalu mengatakan, “Saya bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anak-anak. Saya juga sering mengajak mereka berlibur”. Namun, anak-anaknya menyangkal semua pemberian itu.

Faktanya, anak-anak tak terbentuk. Sikap sosialnya, termasuk modal dasar yang disebut para ahli pengembangan anak sebagai executive function dan self regulation tidak terbentuk. Orangtua hanya fokus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, mereka juga harus pandai mengelola “air traffic control” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.

Executive function
Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah hanya fokus pada angka dan huruf, seakan-akan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.

Menurut berita yang saya baca, Dul ternyata sudah sejak Juni lalu tak sekolah. Saya tak tahu tentang kebenaran berita ini. Tetapi Minggu dini hari dia masih mengendarai mobil, mengantar pacar lewat jalan tol, tentu mengindikasikan anak itu (ini juga bisa terjadi pada anak-anak kita, bukan?) telah hidup dalam abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar. Studi-studi tentang executive function dalam child development antara lain banyak bisa kita temui dalam buku dan video yang diberikan psikolog-psikolog terkemuka, seperti Ellen Galinsky dan Debora Philip.

Mereka menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.

Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anak-anak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.

Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.

Ini pun sama masalahnya dengan orangtua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilan-keterampilan hidup, fokus dan selfregulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini.

RHENALD KASALI
Pendiri Rumah Perubahan
@Rhenald_Kasali

sumber foto : manado.tribunnews.com
Share:

Sabtu, 14 September 2013

Suriah Pekan Ini

Dunia bermain kata2 ttg ada tidaknya n siapa pemilik #chemicalweapons di #Syria yg bunuh 1429 warga pd 21 Agst lalu..

Pdhal, tdk dg #chemicalweapons pun rezim #Assad sdh bunuh lebih dr 100 ribu warga #Syria. Dg bom, sniper, bakar, siksa

Padahal, tdk dg #chemicalweapons pun rezim #Assad bunuh 1 bocah #Syria tiap 2 jam. Dg bom, peluru, belati, siksaan, pemerkosaan

Padahal, tdg dg #chemicalweapons pun rezim #Assad bantai hampir 2000 warga sejak pembantaian dg snjata kimia 21 Agst lalu di #Damascus

#Assad bilang kurleb 'gue kagak tahu menahu ada serangan kimia' wkt #US ancamkan mau serang #Syria
Kata #US'Awas ya gue serang nih..Eh, ga jadi deh. Tunggu prsetujuan Kongres. Eh, ga usah deh, sbb #Assad mau nurut #Russia serahkn snjata'

Kata #Russia: 'Ah, ga ada srangan snjt kimia. Eh, ada..tp yg pake si pemberontak. Eh, #Assad, kamu serahkan tuh snjata spy #US gak nyerang'

Dunia bersandiwara smentara Muslimin di #Syria trus dibantai. Disiksa. Diperkosa. Dihinakan. Pertanyaannya: Kemana Ummat?

Dlm sehari sj, Kamis 12 Sept kemarin, 104 warga #Syria dibunuh dg mortir, siksaan di penjara, tank, bom #Assad

104 org dibunuh dlm sehari di #Syria http://fb.me/1GTjLsIrg  @EatingMyPeaz

"Sesungguhnya setiap pendengaran, penglihatan, dan kalbu itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” [Al-Israa’:36]

10 minutes simulating the #Syria-n reality http://youtu.be/pNJ5adbtp40  via @Fsa_Media_Hub

Jumat 13 Sept, di #Idlib #Syria, rudal #Assad bunuh seorang ibu, 2 anak n bayi dlm kandungannya. @RevolutionSyria pic.twitter.com/Ye7PsEaGwm

by : @sahabatsuriah 

Share:

Pemimpin Itu Penuntun

Begitu rindu di dalam hati, tentang sang pemimpin yang begitu lembut, seteguh Abu Bakar Ash Shidiq. Jika mengharuskan untuk keras, tetap sepengasih Umar bin Khattab. Yang memiliki rasa malu, sepemurah ‘Utsman. Jika periang, sepemberani Ali bin Abi Thalib. Sedangkan pada hari ini, budaya kerja di negeri kita telah lama sakitnya, jiwa-jiwa yang terganggu oleh sikap pemimpin semakin bertambah jumlahnya,  rasanya kita memerlukan nasihat dari keempat sahabat tersebut. Dan kali ini perkenankanlah diri kita tercenung kembali  pada nasihat Imam Ali R.A :

“Jangan sekali-kali merasa bangga akan dirimu sendiri atau merasa yakin akan apa saja yang kaubanggakan tentang dirimu. Jangan menjadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu merupakan kesempatan terbaik bagi setan untuk menhancur-luluhkan hasil kebajikan orang-orang yang berbuat baik”

Kita sekarang ini sedang mengalami krisis iman, tauhid atau aqidah. Sebagian besar orang tidak lagi bergantung pada Allah SWT, dan tidak lagi bertawakal kepadaNya. Nyatanya, kebanyakan bertawakkal kepada jabatannya, bertawakkal kepada bisnisnya, bertawakal kepada ilmunya yg terbatas, bertawakal kepada anak dan keturunannya, bertawakal kepada masa depannya yg dengan sombongnya ia merasa yakin akan kesuksesannya. Kita semua lupa bahwa yang mengatur seluruh kehidupan manusia di dunia ini, yang mengatur semesta alam ini, adalah Allah SWT.

Oleh karena krisis iman seperti itulah, selain setiap diri memperbaiki dirinya menuju pribadi yang bertauhid, yang dirinya hanya menjadikan Allah SWT semata-mata tempat menggantungkan harapan, hadirnya pemimpin yg menjadi penuntun bagi kita semua dan masyarakat akan lebih memasyarakatkan nilai-nilai untuk mewujudkan masyarakat yang beradab dan berketuhanan sebagaimana Pancasila, UUD 1945 menjadi dasar bernegara kita.

Maka dengan demikian, hadirnya pemimpin yang diharapkan itu, hendaklak menjadikan Rasulullah saw sebagai tauladan, dimana sifat-sifatnya, terejawantah dalam kepribadiannya. Baik ia sebagai seorang pribadi dan juga ketika ia sebagai seorang pemimpin. Dengan demikian, syarat seorang pemimpin untuk dapat menjadi penuntun bagi masyarakatnya, paling tidak karakter dasar kepribadiannya sebagaimana sifat Rasulullah saw berikut :

Pertama, Shidiq (kejujuran). Jujur itu mencakup 3 hal, Pertama, shidqun niyyah (jujur niat). Hatinya jujur, Kalau sudah ada keujuran ini maka akan muncul ikhlas. Kedua, Shidqul kalaam (jujur dalam berbicara). Tidak akan berbicara kecuali yang benar, bahkan dalam bergurau sekalipun. Dilihat orang atau tidak, sikap jujur tetap ditanamkan, karena dimanapun dia merasa dilihat oleh Allah SWT. Kalau ini diterapkan maka akan muncul haibah (kewibawaan).

Kedua, amanah (tanggungjawab). Merasa bahwa umat ini menjadi beban bagi yang bersangkutan. Rasulullah SAW setiap shalat jamaah selalu melihat dan mengamati jamaahnya. Kalau dilihatnya ada jamaah yang tersenyum, Rasulullah ikut tersenyum, kalau ada sahabat yang memuram, Rasulullah bertanya kenapa merengut? Ada permasalahan apa? Saat itu jawabannya : “saya lapar ya Rasulullah”. Saat itu shalat nabi tidak dibuat panjang. Begitu pulang, Rasulullah menemui Aisyah isterinya : “Apakah kamu punya sesuatu hari ini? Aisyah menjawab : “saya tidak punyak apa-apa hari ini selain seteguk air ini”. Kemudian beliau menemui isterinya yang lain Hafshoh kemudian Ummu Salamah semuanya menjawab tidak punya apa-apa, karena paceklik pada waktu itu. Baru setelah itu Rasulullah menemui dan menawarkan kepada sahabatnya dan mengatakan : “ Siapa di antara kalian yang bisa menjamu tamu kita hari ini?” Dari sini tergambar bahwa terdapat kepekaan pada diri Rasulullah SAW, merasa bertanggungjawab atas umatnya. Inilah amanah Rasulullah SAW. Amanah dalam memikil bangsa dan negerinya pada waktu itu, amanah terhadap aqidah dan akhlak para sahabatnya dll.

Ketiga, Fathonah (kecerdasan). Seorang pemimpin harus cerdas, baik secara intelektual, emosional dan spiritual. Sebagaimana Rasulullah SAW juga cerdas ketiganya. Untuk menjadi penuntun bagi masyarakatnya, kecerdasan mutlak diperlukan. Oleh karena ia akan menjadi tempat bagi semua orang untuk ditanyakan terkait permasalahan-permasalahan.

Keempat, tabligh. Menyampaikan. Tidak lain adalah menyampaikan kebaikan dan mencegah dari keburukan (amar ma’ruf nahi munkar). Atas dasar sifat ini, sosok seorang pemipin yg ulama atau umaro yang ulama adalah keniscayaan. Menjadi Imam shalat bagi jamaahnya yang tidak lain adalah masyarakatnya, menjadi khatib dalam kesempatan-kesempatan khutbah untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi untuk menjernihkan hati yang sempit dari kecintaan terhadap dunia yang jelas kefanaannya.

Begitulah kurang lebih sosok pemimpin yang dirindukan, yang benar-benar menjadi pemimpin yang akan menuntun masyarakat kepada peradaban masyarakat yang beradab dan berketuhanan.

Sungguh kita semua adalah buronan maut. Bila kita berdiam diri niscaya ia akan menangkap, dan bila kita menjauh, niscaya ia akan menggapai. Ia mengikuti begitu dekat. Dan kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai di akhirat kelak. Semoga kecintaan diri kepada Rasulullah saw, kepada para sahabat, kepada para ulama, kepada para pemimpin yang amanah dan shalih, kepada orang tua, kepada istri yang shalihah, kepada anak yang soleh dan kepada seluruh orang-orang yang beriman, mampu menghantarkan diri untuk berkumpul kembali di syurganya Allah SWT, amiin.
Share:

Jumat, 13 September 2013

Memahami Orang Tua

Berbicara tentang keluarga tidak terlepas dari hubungan antara orang tua dan anak. Tapi kali ini saya tidak akan membahas keutamaan maupun idealnya, saya ingin menyoroti dari sudut pandang keluarga yang mungkin dipandang tidak ideal, entah karena perceraian, anak yang terlahir di luar pernikahan, orang tua yang lebih mementingkan karier ketimbang keluarga, dll.
Seorang anak tidak dapat memilih ia akan lahir dari rahim wanita yang diinginkannya, namun siapapun wanita yang mengandungnya tentulah mengalami hal yang sama yaitu : Pengorbanan. Bagaimana tidak, proses kehamilan adalah proses merelakan 1 tubuh seorang wanita menopang 2 jiwa, diawali dengan proses pembentukan antara sperma dan sel telur yang memberikan informasi kepada tubuh bahwa telah ada calon bayi dalam rahim. Saat ini janin sudah memiliki segala bekal genetik, sebuah kombinasi unik berupa 46 jenis kromosom manusia. Selama masa ini, yang dibutuhkan hanyalah nutrisi (melalui ibu) dan oksigen. Kemudian satu demi satu organ tubuh bayi di kandungan semakin lengkap dan siap untuk lahir. Proses melahirkan pun menuntut kerja keras seoranng wanita, menahan sakit, mengeluarkan energi besar mengeluarkan si buah hati. Tak selesai sampai di sini, tubuh mungil nan lemah seorang bayi masih sangat tergantung pada perawatan seorang wanita, yang kini telah kita panggil dengan sebutan Ibu. Ia menyusui, memandikan, memeluk dengan kehangatan, menggendong mengajak kita melihat dunia, memberikan pakaian, mengajarkan sedikit demi sedikit pengetahuan. Ialah Ibu.. Seorang wanita, dengan atau tanpa kekurangan yang dimilikinya ia tetap harus kita hormati. Karena ia adalah perantara Allah menurunkan kita di dunia, karena ia adalah perantara kita dapat mengenalNya..
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Bukhari)
Keistimewaan Ibu takkan muncul tanpa adanya Ayah. Karena kita adalah buah cinta dari mereka, maka tanpa kontribusi salah satu dari mereka, tidak akan ada kita di dunia.. Maha Besar Allah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan, salah satunya adalah untuk saling melengkapi. Kelebihan seorang wanita untuk melengkapi kekurangan seorang laki-laki, begitupun sebaliknya. Maka Allah mensyari’atkan pernikahan karena amanah mempunyai keturunan adalah tugas besar yang membutuhkan kerja sama antara perempuan dan laki-laki.. Jika secara biologis kita lahir dari rahim Ibu, maka secara psikologis peran ayah sangat menentukan. Karena segala kebutuhan ibu selama mengandung dan membesarkan kita dipenuhi oleh ayah. Ayah yang mengambil keputusan akan pola pengasuhan dan pendidikan terbaik untuk kita, ia relakan sebagian besar waktunya untuk bekerja, tidak lagi hanya untuk dirinya, tapi juga untuk kita, anak yang dicintainya. Maka Ayah adalah sosok yang berjasa mengantarkan kita hingga saat ini. Di dalam segala kebaikan yang saat ini kita punya, terdapat jerih payah ayah yang telah mengikhtiarkannya untuk kita..
Maka, siapapun Ibu dan Ayahmu. Hormatilah mereka… karena mereka tetap orang tua kita.
Lalu, bagaimana jika Allah takdirkan kita lahir dari keluarga yang tidak ideal seperti yang saya sebutkan di atas. Sekali lagi yang harus kita pahami, tak ada seorang pun anak yang bisa memilih dari keluarga seperti apa ia dilahirkan.. maka bukanlah suatu aib ataupun kesalahan kita jika saat ini kita berada di dalamnya. Tak ada alasan dengan segala hal yang dalam pandangan orang lain buruk, lantas berkurang hormat dan bakti kita kepada orang tua..
Anak yang lahir di luar pernikahan :
Memang sebuah kesalahan, bahkan dosa besar jika 2 orang yang belum menikah melakukan persetubuhan. Dan jika dari hubungan tersebut melahirkan seorang anak, maka tetap yang berdosa adalah 2 orang yang melakukan persetubuhan beserta perbuatan yang mereka lakukan. Bukanlah anak yang dilahirkan!
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi”  (HR. Bukhari)
Jika kita adalah anak yang dilahirkan dari hubungan haram tersebut, dan kita mendapati orang tua kita telah bertaubat dan sangat menyayangi kita dengan tetap membiarkan kita hidup, merawat dan mendidik hingga saat ini (padahal di luar sana, banyak orang yang demi menutupi rasa malu maka membunuh bayi yang dikandung dari hubungan terlarang ini. Anak yang tak berdosa menjadi korban). Maka tetap hormati kedua orang tua kita, tak perlu mengungkit masa lalu yang tentu akan menyakiti orang tua kita.. Kalaupun ternyata hanya salah 1 dari orang tua kita yang berkenan membesarkan kita (Ibu atau Ayah saja), tetap berbesar hatilah.. Yang salah adalah peristiwanya, yang gagal adalah peristiwanya, yang hancur adalah peristiwanya. Tapi jangan sampai membuat masa depan kita menjadi hancur karena dibayangi peristiwa yang telah berlalu..
Anak yang besar dalam keluarga yang bercerai :
Perceraian adalah perkara halal yang dibenci di sisi Allah. Meski seperti itu ada beberapa kondisi dimana perceraian menjadi solusi, jika pernikahan yang dipertahankan akan mendzolimi salah satu pasangan. Dalam pandangan anak, perceraian tentu akan merugikan, karena kita akan kehilangan keharmonisan keluarga, berkurangnya kasih sayang dari salah satu orang tua, dan mungkin saja pandangan masyarakat yang memandang sebelah mata. Sebagai seorang anak, cobalah kita memahami posisi kedua orang tua kita.. Jika sampai perceraian diambil sebagai keputusan akhir, setelah berbagai upaya mengembalikan keharmonisan keluarga dilakukan, maka percayalah bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Yang sekali lagi, jika dipertahankan maka akan mendzolimi salah satu dari kedua orang tua kita.
Jika kita merasa dirugikan dan sakit hati, maka kedua orang tua kita pasti sesungguhnya lebih sakit dibandingkan kita.. maka kehadiran kita justru harus memberikan semangat baru bagi mereka. Jangan menunjukkan kekecewaan maupun kesedihan di hadapannya. Tetap menghormati dan mendampingi kesepian mereka (setelah berpisah dari pasangan). Perceraian bukanlah akhir dari segalanya.. Pada setiap episode kehidupan kita, Allah terlibat di dalamnya. Perceraian kedua orang tua adalah ujian bagi kita, akankah tetap taat padaNya dan berbakti kepada kedua orang tua dalam keadaan suka maupun tidak suka akan ketetapanNya..
Hubungan antara anak dan orang tua, terlepas dari hubungan kasih sayang antar manusia, dapat kita lihat dengan dimensi lain, yaitu dimensi ketuhanan, dimana terdapat amal yang berkesinambungan, saling membutuhkan antara anak dan orang tua.
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud)
“Jika Anak Adam meninggal maka terputus ‘amalnya kecuali dari 3 (perkara) : Shodaqoh jariyah, ‘ilmu yang bermanfaat, dan anak Sholeh yang berdo’a baginya” (HR. Muslim)
Orang tua membutuhkan do’a anak – anaknya kelak sebagai amal yang tetap mengalir saat dirinya sudah meninggal.. dan seorang anak membutuhkan do’a dari orang tuanya sebagai do’a yang mustajab yang memudahkan segala urusannya di dunia. Maka saling mencintai, dan berkasih sayang antara orang tua dan anak adalah suatu rahmat, nikmat dan kekuatan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya.
Seorang Ibu yang berjuang melahirkan anaknya, dengan peluh dan darah… Dekat dengan kematian. Tapi tak ia pedulikan.. demi sang anak…
Seorang anak yang belajar mati-matian demi mempersembahkan prestasi dan kebanggaan pada kedua orang tua, ia tunda segala kesenangan sementara, demi orang tua..
Dan Allah letakkan kekuatan pada kecintaan kita kepada orang tua, juga Allah letakkan kekuatan pada kecintaan orang tua kepada anak. Maka saling mencintailah karena Allah.. Apapun kondisi orang tua kita, tak ada alasan untuk tidak menghormati dan berbakti kepadaNya. Mereka tetaplah orang tua kita.. Orang yang harus kita cintai setelah Allah dan rasulNya.

oleh : Intan Puspita Sari
Share:

Kamis, 12 September 2013

Belajar Menjadi Orangtua

Berumah tangga adalah pekerjaan besar, karena aktivitas membentuk generasi baru. Tetapi hampir tidak ada sekolah yang mendidik manusia untuk sukses berumah tangga. Oleh karena itu, tiap pribadi haruslah mempunyai semangat belajar yang tinggi mencerdaskan dirinya.
Membahas rumah tangga, artinya juga akan membahas tentang pendidikan anak… mengapa demikian? Karena kesiapan untuk menikah harus diikuti oleh kesiapan mempunyai keturunan. Dan kewajiban yang harus dilakukan kepada keturunan yang dimiliki bukanlah sekedar mengurus dan membesarkan, tetapi juga mendidiknya.
Seperti apakah prototype seorang anak yang dididik oleh keluarga muslim, berikut gambarannya :
 Anak Laki-lakiAnak Perempuan
  1. Menjadi hamba Allah yang bertakwa
  2. Menjadi calon suami yang baik
  3. Menjadi calon ayah yang baik
  4. Menjadi orang yang ahli di bidangnya / profesi
  5. Menjadi pendidik yang baik bagi anak dan istrinya
  6. Menjadi pengayom keluarga
  1. Menjadi hamba Allah yang bertakwa
  2. Menjadi calon istri yang baik
  3. Menjadi calon ibu yang baik
  4. Menjadi orang yang ahli di bidangnya / profesi

Gambaran anak tersebut menjadi pemacu bagi kita, para orang tua untuk terus belajar dan memantaskan diri. Karena dari tangan orang tua yang bertakwa insya Allah akan lahir anak-anak yang bertakwa.. karena dari tangan seorang ayah yang baik yang dapat mendidik seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi seorang ayah yang baik pula di masa depannya kelak.
Tentang nasehat-nasehat membentuk keluarga ideal ini dapat kita lihat dari kisah Lukman, seorang manusia biasa yang kemudian Allah angkat dirinya, Allah abadikan namanya, Allah ceritakan pola didiknya kepada anak-anaknya sebagai keluarga percontohan, selain kisah-kisah keluarga lain yang juga Allah contohkan, yaitu keluarga Imran, Ibrahim as, Ya’qub as, Daud as, Syu’aib as. Bagaimana Lukman mendidik anaknya dapat kita lihat dalam ayat-ayat berikut :
  1. Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya (Tsaran) dan ia menasehatinya: “Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (Qs Luqman (31) : 13)
  2. Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membawanya) sesengguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui.” (Qs Luqman (31) : 16)
  3.  Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (Allah).” (Qs Luqman : 17)
  4. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri ( Qs Luqman : 18)
  5. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai. (Qs Luqman : 19)
Dalam berumah tangga, ada indikator kebahagiaannya, diantaranya yaitu terdapat Sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Sakinah adalah ketenangan, ditandai dengan semakin rindunya kita untuk kembali ke rumah setelah beraktivitas, menjumpai orang-orang terkasih menghadirkan ketenangan. Mawaddah artinya kehangatan/ kasih sayang. Ditandai dengan adanya dorongan batin yang kuat dalam diri kita untuk senantiasa berharap dan berusaha menghindarkan pasangan kita dari segala hal yang buruk, dibenci dan menyakitinya. Sedangkan Rahmah artinya kelembutan hati dan perasaan empati yang mendorong seseorang melakukan kebaikan kepada pihak lain yang patut dikasihi dan disayangi. Jika ketiganya sudah terdapat dalam kehidupan berumah tangga, maka terperciklah keindahan syurga di dunia :)
Tetapi tidak selamanya keharmonisan keluarga berjalan seperti yang kita inginkan.. adakalanya redup oleh kesibukan maupun berbagai ujian kehidupan. Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk melejitkan kembali kekuatan cinta dalam rumah tangga.
  1. Temukan sumber cinta kita
  2. Cari tahu apa kebahagiaan terbesarnya
  3. Fokuskan energi kita untuk mewujudkannya
Sesekali, tanyakan pada pasangan kita apa yang dapat membuatnya bahagia? Dan ikhtiarkan semampu kita untuk mewujudkannya. Maka keharmonisan akan selalu terjaga. Saya teringat nasehat Guru Al-Qur’an saya, ketika itu beliau mengatakan bahwa hakikat hidup berumah tangga adalah kita saling memberi karena Allah. Tanpa diminta, seorang istri mencintai, melayani sepenuh hati, berbakti kepada suami. Tanpa diminta, seorang suami mencintai, menafkahi, melindungi istrinya. Tanpa diminta pun, jika ada yang tidak beres di dalam rumah, masing-masing akan berlomba-lomba dalam menyelesaikan masalah tersebut. Semangat memberi.. bukan ingin diberi. Jika kesadaran untuk memberi itu tertanam kuat dalam diri masing-masing, maka masalah rumah tangga akan dapat diminimalisir.
Ketika kedua pasangan sudah saling memahami, maka tantangan berikutnya adalah dalam mendidik anak. Ada 3 hal mendasar yang harus dipenuhi oleh orang tua kepada anak-anaknya, yaitu :
  1. Penerimaan. Terimalah anak-anak kita sesuai dengan perkembangan usianya. Pada usia kanak-kanak, mungkin anak-anak akan sangat sering menanyakan “Bunda mau kemana?”, “Ayah dari mana?” setiap kali kita pergi atau pulang ke rumah. Kita tak perlu kesal, karena itulah tabiat khas anak-anak. Pada usia 10-15 tahun, kita kelak tak akan menemui pertanyaan itu lagi. Ada fase-fase kehidupan yang anak-anak kita jalani, dan kita harus dapat menerimanya
  2. Pujian. Pujian yang kita berikan kepada anak atas prestasi yang dilakukannya, sekecil apapun itu, sangatlah berarti. Pujian tersebut akan meningkatkan percaya dirinya, pujian tersebut akan membuatnya merasa dicintai, merasa berarti
  3. Penghargaan. Banyak orang tua yang bekerja sepanjang waktu untuk memberikan sebanyak-banyaknya materi pada anak, padahal sebenarnya cara terbaik memberi penghargaan pada anak tidak semata dengan materi. Hal yang bisa kita lakukan semisal  ketika ia mendapat prestasi, kita mengatakan bahwa kita bangga padanya, bahwa ia kelak akan bisa menjadi lebih baik lagi, dengan memberinya pelukan, mengusap rambutnya, hal itu akan sangat berharga untuk anak. Hindarilah mengkritik atau memberi peringatan kepada anak di depan teman-temannya, juga membanding-bandingkan pencapaiannya dengan orang lain. karena hal itu akan mengecilkan hatinya
Jika seorang anak tidak terpenuhi 3 unsur di atas dari kedua orang tuanya, maka sang anak akan mencarinya dari orang lain. Maka tak jarang kita temukan anak-anak remaja yang pacaran, karena ia merasa nyaman mendapatkan perhatian dan penghargaan dari lawan jenisnya, ia merasa menemukan orang yang dapat menerima dirinya apa adanya. Berbahagialah para orang tua yang anak-anaknya tak segan untuk bercerita kepada kita, artinya ia menemukan ketentraman, kedekatan hati, dan merasa dihargai oleh kita.
Sebagai penutup, ada pesan penting yang ingin saya bagikan kepada para Ibu, maupun calon Ibu (seperti saya, Aamiin.. ) :
“Menjadi pendidik bagi anak-anak kita adalah peran yang tidak bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini, bahkan tidak bisa tergantikan oleh banyaknya materi. Maka, para wanita.. tak ada salahnya jika ingin bekerja di luar rumah, tetapi ada waktunya… waktu terbaik untuk bekerja di luar hanyalah sebelum kita mempunyai anak atau setelah anak-anak kita mandiri. Jangan pernah lewatkan kesempatan mendampingi anak-anak kita di masa perkembangannya. Tahukah Ibu, saat kita menyusui buah hati, maka tubuh kita memproduksi hormon oksitosin yang menumbuhkan kedekatan antara Ibu dan anak. Tak ada susu formula sekalipun yang dapat menggantikan air susu ibu dan efek yang ditimbulkan dari proses menyusui. Maka jika kita ingin mengubah masa depan generasi bangsa, kita dapat memulainya dengan mendidik sebaik-baiknya anak-anak kita.. Pahalanya tetap mengalir, meski sudah habis usia di dunia..”

oleh : Intan Puspita Sari
Share:

Translate

Pengikut