Rabu, 11 September 2013

PSK & Pecandu “Bisa Biayai” 54 Monorel

Diduga, angka pengguna diperkirakan mencapai 2–3 juta orang. Jika diasumsikan bahwa setiap pengguna narkoba menghabiskan Rp 500 ribu setiap pekan, atau Rp 2 juta sebulan, maka volume transaksi narkoba bisa mencapai Rp 6 triliun sebulan. Dalam setahun bisa mencapai kurang lebih Rp 72 triliun.

The United Nation Development Programme (UNDP) merilis pada tahun 2003, bahwa di Indonesia terdapat 190 ribu hingga 270 ribu pekerja seksual komersial yang tiada lain mereka adalah para pelacur dengan 7 hingga 10 juta pelanggan. Artinya setiap pelacur rata-rata melayani 37 pelanggan (rasio maksimum). Pada akhir tahun 2008 diperkirakan tumbuh 20% atau sekitar 324 ribu, dan jika rasio pelacur dan pelanggannya masih sama yaitu 1 banding 37, maka diperkirakan pelanggan pelacuran mencapai 12 juta pelanggan. Dan jika diasumsikan, setiap pelanggan mengeluarkan Rp 1 jt perbulan, maka transaksi pelacuran pertahun mencapai Rp 144 triliun.

Volume transaksi sia-sia ini sangat fantastis, dan angka yang diasumsikan pun bisa mencapai lebih dari kalkulasi di atas. Maka, dalam setahun, transaksi sia-sia ini (narkoba dan pelacuran) setidaknya mencapai Rp. 216 trilyun rupiah. Belum lagi transaksi perjudian dan korupsi yang menguap sia-sia di negeri kita tercinta ini. In tentunya data lama yang penulis sajikan, dikarenakan akses informasi yang terbatas yang penulis miliki. Namun demikian, lihat bagaimana kesia-siaan transaksi tersebut jika masyarakat mampu mengubah paradigma pembangunan tidak hanya kewajiban pemerintah, namun juga menjadi beban masyarakat pada umumnya. Lihat bagaimana kesia-siaan ini menjadi faktor penghambat pembangunan bangsa ini.

- Untuk transaksi narkoba saja yang mencapai Rp. 72 trilyun, hal ini hampir menyamai stimulus fiscal yang dibelanjakan Pemerintah pada tahun 2009 dalam menghadapi krisis global menjelang akhir 2008.

- Untuk transaksi pelacuran saja yang mencapai Rp. 144 trilyun, hal ini barangkali bisa menuntaskan ruwetnya mencari pembiayaan super mega proyek Pengembangan Kawasan Strategis Infrastruktur Selat Sunda (KSISS) sebesar Rp. 100 trilyun lebih.

- Untuk transaksi keduanya yang mencapai Rp. 216 trilyun, Indonesia barangkali akan punya 48 jembatan suramadu yang menghabiskan anggaran pembangunannya mencapai 4,5 trilyun. Dimana kita dapat membayangkan bahwa dari volume transaksi ini saja, sudah bisa menghubungkan antar pulau di Indonesia dengan jembatan yang megah dan kokoh.

- Untuk transaksi keduanya yang mencapai Rp. 216 trilyun, Indonesia, di setiap provinsinya barangkali sudah punya monorel di ibukota-ibukota provinsi, termasuk Jakarta. Dimana menurut PT. Adhi Karya, anggaran pembangunan Monorel di Jakarta mencapai Rp. 4 trilyun, dan dari volume transaksi pelacuran dan narkoba itu, Indonesia bisa membangun setidaknya 54 proyek monorel di seluruh provinsi di tanah air.

- Untuk transaksi sia-sia yang mencapai Rp. 216, trilyun itu, Indonesia akan punya setidaknya 37 Kualanamu baru yang dibangun di setiap provinsi di tanah air, dimana anggaran pembangunan Kualanamu saja mencapai Rp. 5.8 trilyun.

Masih banyak sekali pembangunan yang bisa dilakukan, dengan asumsi transaksi sia-sia itu mampu dialokasikan kepada pembangunan untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsanya sendiri. Tidak ada yang tidak mungkin atas simulasi angka-angka di atas. Saya, Anda dan kita semua perlu memetik pelajaran dari kesia-siaan semua ini, untuk kemudian menjadi pribadi, keluarga, masyarakat yang menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia.
Share:

Translate

Pengikut