Kerangka Konseptual Akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi..

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?

Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba.

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri

sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin.

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money).

Kamis, 28 November 2013

BreadTalk Belum Perpanjang Sertifikat Halal, BMI Tetap Jalin Kerjasama

Kamis, 28 November 2013, berikut Twitstorm oleh @halalcorner

0. Dear Tweeps, malam ini kami akan melakukan twitstorm ttg Kasus Kerjasama @BreadtalkIndo dan @BankMuamalat dg hastag #BMIBT | Bantu RT ya

2. @BreadtalkIndo telah dicabut SH olh MUI sejak thn 2005 dan belum memperpanjangnya hingga kini, dg alasan mahal&diperas #BMIBT

3. Sehingga MUI tdk dpt menjamin keberlangsungan kehalalan produk @Breadtalkindo | Jk alasan mahal outlet Mc D dan KFC lbh byk dr BT #BMIBT

1. Sehubungan iklan kerjasama @bankmuamalat dan @BreadTalkIndo, kami menguraikan beberapa fakta sbb #BMIBT pic.twitter.com/CGKo7ORrRU



4. @bankmuamalat dg diwakili oleh Dewan Penasehat Syariat tlh melakukan pemeriksaan kpd @Breadtalkindo #BMIBT pic.twitter.com/MZjpSjJNBM



5. DPS bukanlah lembaga Halal dan tidak mempunyai kompetensi utk.melakukan uji Halal thd suatu produk #BMIBT

6. Tindakan gegabah yg dilakukan @bankmuamalat dg diwakili DPS yg menyetujui kontrak dg @Breadtalkindo yg mengklaim halal sendiri #BMIBT

7. Apakah @bankmuamalat yg diwakili DPS sdh melakukan cek alat produksi, gudang, transportasi, database bahan&sistem jaminan Halal #BMiBT

8. Apakah @bankmualamat diwakili DPS melakukan audit Halal di seluruh outlet milik @Breaktalkindo dg teliti? #BMIBT

9. Apakah @bankmualat yg diwakili DPS melaporkan hasil pemeriksaannya ke MUI utk diberikan pernyataan resmi Halal.bg @Breadtalkindo? #BMIBT

10. Jika sudah maka kami meminta @bankmualat yg diwakili DPS dan @Breadtalkindo memperlihatkan SH utk seluruh menu dan outletnya #BMIBT

11. Jika dlm waktu 1x24 jam tdk memperlihatkan SH yg dimaksud maka @bankmuamalat yg diwakili DPS & @breadtalkindo berbohong pd publik #BMIBT

12. Kami meminta penjelasan dr pihak @bankmuamalat dan @breadtalkindo atas kasus ini stlh kami cek ke MUI Pusat #BMIBT

13. Pernyataan MUI Pusat yg diwakili ibu Lia Amalia, Kabid Promosi&Sosialisasi Halal LPPOM MUI, @breadtalkindo TIDAK memperpanjang SH #BMIBT

14. Karena TIDAK memperpanjang SH maka MUI MENCABUT SH milik @Breadtalkindo cc @halalindonesia #BMIBT

15. Demikian, kami menanti jawaban dr pihak @bankmuamalat dan @breadtalkindo , terima kasih ats kerjasamanya #BMIBT
Share:

Minggu, 24 November 2013

Konsep Dasar Akrual

Dalam akuntansi terdapat dua metode pencatatan transaksi berkaitan dengan aliran kas masuk dan aliran kas keluar. Kedua metode tersebut adalah metode pencatatan berbasis kas (cash basis) dan metode pencatatan berdasar akrual (accrual basis). Keduanya memiliki dasar yang mangasumsikannya untuk dipilih mana metode pencatatan yang akan digunakan oleh entitas atau perusahaan dalam proses akuntansinya.
Sebagai implikasi dari penerimaan akuntansi terhadap konsep penandingan (matching) berikut konsep upaya dan hasil, maka akuntansi menjadikan asumsi dasarnya dengan asumsi dasar akrual sebagai metode pengakuan dan pencatatannya dalam suatu transaksi. “Penghimpunan(accrued) dan penangguhan (deferred) adalah tahap-tahap yang sangat erat hubungannya dengan proses menandingkan,”(Suwardjono, 1986, hlm.28). Seluruh pengakuan unsur laporan keuangan pun tidak luput dari asumsi dasar akrual ini.
Suwardjono (1986) mengilustrasikan hubungan antara dasar akrual dengan penandingan, antara pendapatan dengan biaya dalam konsep penandingan (matching concept) yakni mengharuskan bahwa pendapatan yang terhimpun(accrued) dan sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum diterima uangnya untuk diakui dan dicatat. Sehingga, aktiva perusahaan akan naik sebesar jumlah rupiah hak yang terhimpun(accrued assets) karena penyerahan barang atau jasa. Menurutnya, jika hal tersebut tidak dicatat, jumlah rupiah atau jasa yang diserahkan menjadi tidak cocok dengan kenyataannya. Dalam hal ini berarti tidak sesuai dengan jumlah fisik barang atau jasa yang benar-benar telah diserahkan kepada konsumen.
Asas akrual memang lebih tergambar konsep dasar pengakuannya yakni pada asas pengakuan pendapatan dan biaya yang diakui oleh entitas.  Suwardjono (2005) mendefinisikan:
Asas akrual adalah asas dalam pengakuan pendapatan dan biaya yang menyatakan bahwa pendapatan diakui pada saat hak kesatuan usaha timbul lantaran penyerahan barang atau jasa ke pihak luar dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul lantaran penggunaan sumber ekonomik yang melekat pada barang dan jasa yang diserahkan tersebut. (Hlm. 237)

Atas dasar konsep akrual ini, akuntansi mengakui adanya akun-akun akruan (accruing) dan adanya penangguhan (deferred). Kedua konsekuensi tersebut dengan demikian sangat erat dengan proses penandingan (matching) dalam akuntansi
Financial Accounting Standard Board (FASB) yang dikutip Belakoui (1992) yang berada di Amerika Serikat mendefinisikan konsep dasar akrual sebagai:
The accounting process of recognizing noncash and circumstances as they occur; specifically, accrual entails recognizing revenues and related increases in assets and expenses and related increases in liabilities for amounts expected to be received or paid, usually in cash, in the future. (hlm 195)

Dampak lain dari penerapan asas atau dasar akrual adalah seperti ketika dalam bisnis terjadi biaya yang yang timbul namun belum dibayarkan dengan pada saat yang sama telah berakhir periode pelaporan akuntansi, maka biaya muncul sebagai kewajiban di dalam neraca atau posisi keuangan. Maka, dengan demikian akuntansi dengan dasar akrual telah menyediakan informasi keuangan entitas secara keseluruhan baik dalam kepemilikan aset berikut potensi kepemilikan yang besar kemungkinan terealisasi di masa depan maupun kewajiban enitas di masa depan pula.
Asas atau dasar akrual sebagai konsep dasar akuntansi lebih diterima dan dijadikan kebijakan akuntansi entitas secara umum. Hal ini karena konsepnya yang lebih mencerminkan laporan sumber daya ekonomi perusahaan baik yang telah dimiliki atau yang berpotensi menjadi sumber daya ekonomi enititas. Sebab pada dasarnya akuntansi hanya menyajikan informasi keuangan masa lampau (historical cost). Hal ini menjadi kritik tersendiri bagi akuntansi, di mana sulit melihat prediksi masa depan perusahaan hanya dengan mengandalkan laporan keuangan yang berbasis informasi masa lampau tersebut.
Penegasan bahwa akuntansi secara umum menggunakan asas atau dasar akrual sebagai konsep dasarnya adalah sebagaimana yang tercantum dalam standar akuntansi keuangan pada KDPPLK:
Untuk mencapai tujuannya laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima di masa depan. Oleh karena itu laporan keuangan menyediakan jenis informasi transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.(paragraf 22)   

          
Selain dalam standar akuntansi keuangan menurut PSAK, perhatikan asas akrual yang dinyatakan IASB dalam IFRS:
Accrual accounting depicts the effects of transactions and other events and circumstances on a reporting entity’s economic resources and claims in the periods in which those effects occur, even if the resulting cash receipts and payments occur in a different period.  This is important because information about a reporting entity’s economic resources and claims and changes in its economic resources and claims during a period provides a better basis for assessing the entity’s past and future performance than information solely about cash receipts and payments during that period. (paragraf OB17)

            Prinsip yang digunakan oleh IAI dalam PSAK dapat dikatakan sama dengan prinsip dasar akrual yang dinyatakan dalam IFRS menurut IASB. 
Share:

Konsep Dasar Akuntansi

Secara umum akuntansi memiliki konsep dasar yang menjadi acuan dalam menyusun standar akuntansi yang ditujukan bagi praktek akuntansi. Basis postulat akuntansi inilah yang kemudian muncul konsep-konsep dasar dalam penyajian maupun pelaporan keuangan entitas. Berikut akan disajikan beberapa konsep dasar akuntansi dalam berbagai versi.
Konsep dasar akuntansi menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Kerangka Dasar Penyajian dan Pelaporan Keuangan (KDPPLK) paragraf 22 dan 23 menyatakan bahwa asumsi dasar akuntansi berdasarkan dasar akrual dan kelangsungan usaha(going concern). Menurut International Financial Reporting Standards (IFRS) pada The Conceptual Framework for Financial Reporting paragraf 4.1, sebagai asumsi dasar akuntansi adalah hanya kelangsungan usaha. Sedangkan menurut Paton dan Littleton yang dikutip Suwardjono (2005), konsep dasar akuntansi terdiri dari, konsep kesatuan usaha (Entity Theory), kontinuitas usaha(going concern), penghargaan sepakatan, kos melekat(cost attach), upaya dan hasil(effort and accomplishment), bukti terverifikasi, dan asumsi.
Dengan lebih lengkap, Anthony, Hawkins, dan Merchant sebagaimana yang dikutip Suwardjono (2005), konsep dasar akuntansi terdapat beberapa poin, di antaranya konsep pengukuran dengan unit uang, konsep entitas, konsep kelangsungan usaha, konsep kos, aspek ganda, periode akuntansi, konservatisme, realisasi, penandingan, konsistensi, dan materialitas. Maka, untuk kepentingan penelitian, hanya akan dijelaskan konsep dasar yang merupakan postulat akuntansi dan berhubungan dengan asumsi dasar akrual sebagai basis pencatatan akuntansi. Yaitu, konsep entitas, konsep pengukuran uang, konsep kelangsungan usaha, konsep dua aspek akuntansi, konsep kos, konsep periode akuntansi, konsep penandingan (matching concept), dan konsep upaya dan hasil (effort and accomplishment). Berikut penjelasan masing-masing konsepnya:

1. Konsep Entitas Bisnis (Entity Theory)
            Dalam konsep ini bisnis perusahaan sebagai suatu organisasi bisnis diperlakukan berbeda atau secara hukum terpisah dengan pemilik dari bisnis tersebut. Hal ini termasuk bahwa transaksi-transaksi dalam bisnis tersebut harus dijaga secara keseluruhannya agar terpisah dari urusan pribadi dari seorang pemiliknya. Namun, diperbolehkan bagi seorang pemilik untuk dapat memperoleh informasi yang benar mengenai kondisi perusahaannya.
             Business entity concept atau dalam literatur-literatur teori akuntansi dikenal dengan entity theory digagas oleh William A Paton, seorang professor dari Universitas Michigan. Ditegaskan olehnya, bahwa dengan adanya entity theory, perusahaan dengan pemiliknya menjadi terpisah. Kepemilikan aset dimiliki oleh perusahaannya, dan antara kewajiban dengan pemegang ekuitas oleh investor dalam aset tersebut merupakan hak yang berbeda. Atas dasar konsep ini, maka dapat dirumuskan dalam posisi keuangan atau neraca bahwa aset sama dengan jumlah kewajiban ditambah dengan ekuitas pemilik. Konsep ini menurut Suwardjono (2005) mempersonifikasi badan usaha sebagai orang yang dapat melakukan perbuatan hukum dan ekonomi, misalnya dalam pembuatan kontrak dan kepemilikan aset. Menurutnya, sebagai konsekuensi dari konsep entitas, hubungan antara entitas dengan pemilik dipandang sebagai hubungan bisnis terutama dalam hak dan kewajiban atau utang piutang.
            Meskipun antara perusahaan dengan pemiliknya terpisah, namun pemilik tetap berhak atas keuntungan yang harus diberikan oleh perusahaan dalam bentuk dividen. Laba bersih yang diperoleh dengan demikian bukanlah semerta-merta adalah hak dari pemilik perusahaan. Diperlukan proses dalam menentukan untuk dapat ditentukan kebijakan distribusi laba dalam bentuk dividen atau mengambil kebijakan untuk menahan laba, yang dikenal dengan laba ditahan yang ditambahkan pada ekuitas pada posisi keuangan. Yang secara substansi juga menambah kekayaan dari pemilik perusahaan itu sendiri.
            Dalam hubungan antara perusahaan dengan pemilik ini memang perlu pengkajian apakah entity theory selamanya menjadi relevan pada semua bentuk bisnis. Sebab pada tiap bentuk bisnis, tetap ada keinginan pemilik untuk menjadi bagian dari manajemen dan mengoperasikan bisnisnya tersebut. Namun, American Accounting Association (AAA) yang dikutip Wolk, Francis, dan Tearney (1991) dalam bukunya Accounting Theory: a Conceptual and Institutional Approach menyatakan bahwa:
Although the entity theory provides a good description of the relationship between the firm and its owners, its duality relative to income and owner’s equity in the traditional form has probably been responsible for fact that its precepts have not taken a strong hold in committee reports and release of various accounting bodies. (hlm 132)

            Suwardjono (1986) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan konsep entitas bisnis (business entity concept) memberikan konsekuensi bahwa laporan keuangan merupakan pertanggungjawaban perusahaan dan bukanlah pertanggungjawaban pemilik, maka dengan demikian pendapatan dan biaya dipandang sebagai perubahan dalam kekayaan perusahaan bukannya perubahan dalam kekayaan pemilik.
            Sebagai implikasi dalam administrasi perusahaan yang baik, Suwardjono (1986) menyatakan bahwa menjadi hal yang sangat penting untuk memisahkan transaksi perusahaan dan transaksi pribadi. Dalam administrasi lainnya, terutama dalam memperlakukan biaya, semua biaya yang secara nyata terjadi dalam perusahaan adalah tepat untuk dicatat pertama kali sebagai bagian dari total kekayaan (aset atau aktiva) perusahaan. “Jadi, biaya pendirian perusahaan, biaya emisi saham, dan biaya yang ada hubungannya dengan hal tersebut adalah unsur aktiva perusahaan,(Suwardjono, 1986, hlm.5). Yang jelas konsep ini mendapat legitimasi dengan diakuinya dalam bentuk badan usaha Perseroan Terbatas (PT) secara hukum.

2. Konsep Pengukuran Uang (Money Measurement Concept)
            Konsep ini mengandung pengertian bahwa uang merupakan alat ukur umum dan paling tepat dalam aktivitas ekonomi dan menjadi dasar yang tepat pula bagi pengukuran analisis akuntansi. Dalam pencatatan, unit moneter yang diwakili oleh uang sangat relevan, sederhana, tersedia secara universal, dapat dipahami dan berguna. Secara umum, dengan adanya uang sebagai alat ukur, menjadikan penyajian akuntansi dengan unit moneter lebih dapat terkomunikasikan atas informasi sumber daya ekonomi yang dimiliki dan tersaji dalam bentuk informasi kuantitatif. Hal inilah yang membuat pengguna laporan keuangan lebih dapat melihat objektifitas informasi sumber daya ekonomi bagi perusahaan untuk dapat membuat keputusan ekonomi yang rasional.
            Sebenarnya dalam konteks ekonomi, kehadiran uang sebagai alat tukar (medium of exchange) karena sistem ekonomi tidak lagi menganut sistem ekonomi non-barter. Hasilnya, uang saat ini sebagai standar utama dalam menilai dan sebagai hal yang pokok dalam proses pengukuran. Dengan demikian, laporan keuangan disajikan dengan unit moneter yang disesuaikan dengan jenis mata uang suatu Negara di mana perusahaan tersebut beroperasi.
            Dalam pokok pikiran Paton dan Littleton, Suwardjono (1986) mengemukakan bahwa satu-satunya data yang pasti yang dapat diperoleh untuk menunjukkan adanya transaksi pertukaran secara objektif dan untuk menyatakan transaksi pertukaran tersebut secara homogen adalah jumlah satuan uang yang terlibat dalam pertukaran. Maka, data tersebut merupakan bahan olah dasar akuntansi.
3. Konsep Kelangsungan Usaha (Going Concern)
            Postulat kelangsungan usaha (going concern) mengasumsikan bahwa perusahaan akan terus berlanjut sampai waktu yang tidak ditentukan. Implikasi asumsi ini, pada keadaan luar biasa, nilai laporan likuidasi untuk aset dan ekuitas adalah ‘pelanggaran’ atas konsep atau asumsi dasar ini. Sebab asumsi kelangsungan usaha mengasumsikan bahwa perusahaan akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka panjang dan tidak untuk dilikuidasi dalam jangka pendek. Belkaoui (1992) menambahkan bahwa dengan adanya konsep ini (going concern) entitas akan melanjutkan operasinya cukup lama untuk mewujudkan proyek-proyeknya, komitmen, dan kegiatan yang sedang berlangsung.
            Mengambil pokok pikiran Paton dan Littleton, Suwardjono (1986) berpendapat mengenai konsep ini bahwa data keuangan terus terjadi setiap waktu akibat aliran kegiatan yang berlangsung terus dalam perusahaan dan validitas data keuangan yang dilaporkan pada waktu tertentu seringkali harus diuji dengan jalannya kejadian pada waktu yang akan datang. Maka menurutnya, data keuangan yang dituangkan dalam laporan keuangan harus dianggap bersifat sementara dan bukannya bersifat final. Secara jelas Suwardjono (2005) menyatakan:
Konsep ini menyatakan bahwa kalau tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala, atau rencana pasty di masa datang bahwa kesatuan usaha akan dibubarkan atau dilikuidasi, maka akuntansi menganggap bahwa kesatuan usaha tersebut akan berlangsung terus sampai waktu yang tidak terbatas.(hlm.223)

            Dasar pikiran adanya konsep kontinuitas usaha, Paton & Littleton yang dikutip Suwardjono (1986) didasarkan karena pertimbangan kepraktisan dan kemudahan dalam pelaksanaan akuntansi oleh karena jalannya operasi perusahaan di masa mendatang tidak dapat diduga secara pasti. Konsep ini berimplikasi terhadap laporan-laporan periodik. Selama perusahaan merupakan wadah aliran kegiatan yang tidak terputus-putus, maka proses pemenggalan aliran kegiatan ke dalam periode-periode fiskal atau akuntansi (yang merupakan periode laporan keuangan) berakibat memutus hubungan kegiatan yang saling berkaitan antara periode yang satu dengan yang lainnya. Alasan lainnya adalah karena dalam menghadapi ketidakpastian kelangsungan usaha, maka akuntansi menganut konsep ini atas dasar penalaran bahwa harapan normal atau umum pendirian perusahaan adalah untuk berlangsung terus dan berkembang, bukan untuk mati atau dilikuidasi.

4. Konsep Dua Aspek Akuntansi
            Di  bawah konsep ini, pada setiap dan masing-masing transaksi dibagi ke dalam dua aspek. Salah satu aspek berhubungan dengan penerimaan atas suatu manfaat tertentu sedangkan aspek yang lain berhubungan dengan pemberian atas manfaat tersebut. Misalnya, ketika mesin yang telah dibeli oleh perusahaan, mesin memberikan manfaat untuk dapat memproduksi barang atau jasa. Untuk memiliki mesin tersebut perusahaan harus membayar sejumlah uang kepada supplier mesin. Dengan demikian setiap transaksi bisnis berkaitan dengan dua aspek yang tidak terpisahkan dan kedua aspek tersebut dicatat tanpa terkecuali.
            Konsep dual aspect ini mendasarkan pada kaidah bahwa untuk setiap kegiatan bisnis selalu memiliki persamaan dan reaksi sebaliknya. Menurut konsep ini aset perusahaan akan sama dengan kewajiban ditambah modal. Anthony, Hawkins dan Merchant yang dikutip Suwardjono (2005) mengemukakan bahwa sebenarnya konsep dua aspek akuntansi (sistem berpasangan) merupakan turunan dari konsep kesatuan usaha. Hubungan bisnis antara manajemen dan pemilik mengakibatkan manajemen harus selalu mempertanggungjawabkan aset yang telah dan sedang dikelolanya serta menyajikan sumber aset tersebut.

5. Konsep Kos
Pada dasarnya penggunaan prinsip ini karena perusahaan memiliki kepentingan untuk menentukan nilai jual dari setiap aset setiap kali perusahaan ingin menilai laba yang diperolehnya. Di mana penilaian dengan cara yang lain akan mengakibatkan munculnya subjektifitas sehingga berdampak pada informasi keuangan yang bias. Namun, dalam standar akuntansi keuangan pun jika hal tersebut menjadi tidak relevan, maka diperkenankan menilai dengan nilai wajar sebagai basis pengukurannya.
             Menurut konsep ini semua transaksi dicatat dalam buku akun senilai dengan harga pembelian. Misalnya, jika bangunan dibeli dengan harga US$ 75,000 yang mana secara aktual seharga US$ 100,000, maka dalam buku akun dicatat dengan nilai harga pembelian, yakni US$ 75,000.
            Sebagai tambahan, Suwardjono (1986) dalam pokok pikiran Paton & Littleton, menyatakan mengenai konsep ini dengan berimplikasi kepada biaya menjadi bagian penting dari total upaya yang dikorbankan dalam memproduksi dan menjual barang atau jasa. Pada tiap jenis biaya tersebut dapat digabung-gabungkan berdasarkan divisi operasi (departemen), bagian dari produk, atau interval waktu seolah-olah biaya-biaya tersebut mempunyai daya saling mengikat sebagaimana data ikat yang dimiliki benda fisik.

6. Konsep Periode Akuntansi
            Meskipun akuntansi juga berasumsi bahwa bisnis akan tetap ada selama jangka waktu yang lama dan tidak ditentukan, penting untuk dipantau akun atau pencatatan dengan keterangan yang jelas untuk periode bisnis yang ditujukan untuk mengetahui hasil operasi bisnis dan disajikan posisi keuangan untuk periode tersebut. Biasanya pencatatan dipersiapkan untuk periode satu tahun yang mana boleh jadi sesuai dengan kalender tahunan sebagai tahun laporan keuangan.
            “Konsep perioda menyatakan bahwa akuntansi memperhitungkan laba dengan periode waktu sebagai takarannya dan bukan angkatan produk,” (Suwardjono, 2003, hlm 101). Lanjut Suwardjono (2003) bahwa sebagai implikasi dari konsep ini adalah akuntansi menentukan laba dengan menandingkan atau mengasosiasi pendapatan periode dengan biaya yang dianggap menciptakan pendapatan untuk periode tersebut. “Jadi, biaya dianggap sebagai upaya untuk menghasilkan pendapatan dengan waktu sebagai takaran penandingan,” (Suwardjono, 2003: hlm. 101).

7. Konsep Penandingan (Matching Concept)
Dalam akuntansi dikenal prinsip matching concept. Di mana yang dimaksud dari prinsip ini adalah dengan diakuinya beban bukan pada saat pengeluaran kas telah terjadi atau telah dibayarkan. Namun, diakui ketika suatu produk atau jasa secara aktual memberikan kontribusi terhadap pendapatan. “Pendapatan suatu periode harus dibebani dengan biaya-biaya yang secara ekonomis berkaitan dengan produk yang menghasilkan pendapatan tersebut,(Suwardjono, 1986, hlm 116).
Hal ini memungkinkan adanya biaya yang ditangguhkan dan diperlakukan sebagai aset pada posisi keuangan atau neraca. Meskipun dalam kenyataannya biaya ditangguhkan tersebut tidak memberikan manfaat ekonomi di masa depan.
“Expenses are defined as costs that expire as a result of generating revenues,” (Wolk, Francis, Tearney, 1991, hlm. 124). Bahwa beban ditentukan sebagai upaya untuk memperoleh penghasilan atau pendapatan. Proses pengakuan beban untuk kategori seperti depresiasi, harga pokok produk atau penjualan, bunga dan biaya ditangguhkan disebut dengan konsep penandingan ini (matching concept). Konsep matching berimplikasi pada biaya diakui secara adil dan secara wajar untuk mengakui pendapatan.
Wolk, Francis, dan Tearney (1991) menyatakan bahwa konsep matching dengan demikian memiliki dua aspek:
First, the historical cost  approach often tends to substantially understate expense measurements relative to the value of expired-asset service. Second, the “systematic and rational” method employed under generally accepted accounting principles tend to be extremely arbitrary: a particular problem can be handled in more than one way. (hlm. 124)

            Suwardjono (2003) mengatakan bahwa konsep penandingan merupakan implikasi dari adanya konsep periode akuntansi. Penandingan (matching) dilakukan untuk menentukan laba periode tersebut, sehingga pendapatan periode tersebut ditandingkan dengan biaya-biaya yang dianggap menciptakan pendapatan tersebut. Maka, biaya dengan demikian merupakan upaya untuk menghasilkan pendapatan dengan waktu sebagai takaran penandingannya. 

8. Konsep Upaya dan Hasil (Effort and Accomplishment)
Lebih lanjut dalam konsep penandingan (matching concept) yang berimplikasi pula pada konsep upaya dan hasil dalam akuntansi, memberikan implikasi bahwa biaya adalah upaya dalam rangka memperoleh hasil yang dalam hal ini disebut pendapatan. “Secara konseptual, pendapatan timbul karena biaya bukan sebaliknya pendapatan menanggung biaya,” (Suwardjono, 2005, hlm. 234). Artinya pendapatan sudah dapat diakui meskipun belum terealisasi karena adanya pengeluaran atau upaya entitas dalam melakukan kegiatan produktifnya.
Dalam pokok pikiran Paton & Littleton, Suwardjono (1986) juga menyatakan bahwa jikalau jumlah rupiah yang diperhitungkan dalam pembelian barang dan jasa digunakan untuk mengukur upaya untuk memperoleh hasil. Dan jumlah rupiah tersebut yang diperhitungkan dalam penjualan barang dan jasa digunakan untuk mengukur hasil yang diperoleh, maka persoalan utama akuntansi adalah menandingkan biaya (sebagai representasi upaya) dan pendapatan (sebagai representasi hasil) periodik sebagai pembacaan alat duga untuk mengetahui pengaruh upaya yang dikorbankan terhadap hasil. 
Share:

Kamis, 21 November 2013

BABY BLUES, OH BABY BLUES…

Alif Hafizh Setiawan, itulah nama yang kuberikan pada putra pertamaku. Mau tau artinya? Sejujurnya, aku dan suami menyukai sesuatu yang simple, termasuk dalam penamaan anak. Kami sepakat untuk memberikan nama anak-anak kami dengan nama yang pendek, mudah diingat dan dilafalkan, serta sesuai dengan zamannya, tentunya mempunyai makna yang baik. Anggapan bahwa nama adalah do’a, tidak berarti membuat kami menuangkan seluruh do’a-do’a kami sebagai orang tua dalam nama anak, karena akan sangat panjang tentunya. Alif artinya orang yang ramah dan lemut. Itu adalah harapan kelak anak kami memiliki kepribadian dan hubungan hablumminannas yang baik. Hafizh artinya Penjaga/pemelihara. Itu adalah harapan kami bahwa ia akan menjaga diri, keluarga, dan lingkungannya dalam ketaatan kepada Allah dan wujud nyatanya adalah menjadi pemelihara Al-Qur’an, bukan sekedar menuntaskan hafalan 30 juznya, tapi juga mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupannya. Sedangkan Setiawan adalah nama belakang Abinya, agar tercatat jelas nasabnya. 

Seusai melahirkan Alif, ternyata tantangan tidak berhenti. Allah masih ingin aku belajar banyak hal. 6 jam pasca melahirkan, aku meninggalkan Rumah Sakit menuju klinik bidan untuk observasi dan bermalam di sana. Pada hari pertama kehidupannya, Alif-ku menghabiskan hampir semua waktunya untuk tidur. Kalaupun bangun hanya karena menangis haus. ASi-ku masih sangat sedikit saat itu, sangat sedikit. Tapi tetap kususui Alif meski kutahu ia belum puas, terlihat dari ia yang terus menangis. Akhirnya ditenangkan dengan ditimang-timang oleh suami sambil dibacakan murattal juz 30. Kami bertekad untuk memberikan hak Alif, ASI ekslusif selama 6 bulan, dilanjutkan hingga 2 tahun, tanpa tambahan susu formula. Kami tidak melihat adanya kebaikan dari penambahan susu formula kepada anak, selama sang Ibu mampu memberikan ASI. Sufor tidak dapat menggantikan ASI. Aku sudah mempersiapkan diri tuk berlelah-lelah sekalipun untuk menyusui anakku, kapanpun ia mau. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menjaga asupan makananku demi memberi kualitas ASI terbaik bagi buah hatiku. Berdasarkan referensi dari Grup AIMI ASI, aku mendapatkan informasi bahwa bayi masih dapat bertahan tanpa asupan ASI dan makanan apapun selama 72 jam. Jadi, meski bidan, orang tua, dan sanak saudara menyarankanku untuk memberi susu formula pada Alif (karena kasihan melihat Alif menangis) aku tetap tidak bergeming. Aku tetap menyusuinya, untuk merangsang ASI-ku agar segera keluar. Buang Air Besar (BAB) Alif berwarna hitam pekat yang disebut mekonium, dan belum Buang Air Kecil (BAK) sama sekali. Setiap pagi kami menjemur Alif untuk mencegah bayi kuning atau bahasa ilmiahnya Jaundice. Dari artikel yang kubaca di Bidanku.com (situs yang dikelola oleh Bidan Yessie Aprilia), kudapatkan informasi bahwa :

“Bayi Kuning (Jaundice) adalah warna kekuningan yang didapatkan pada kulit dan lapisan mukosa (seperti bagian putih mata) sebagian bayi baru lahir. Dalam bahasa Indonesia hal ini lebih sering disebut sebagai ‘bayi kuning’ saja. Istilah lain yang kadang digunakan adalah ikterik. Hal ini dapat terjadi pada bayi dengan warna kulit apapun. 

Warna kekuningan terjadi karena penumpukan zat kimia yang disebut bilirubin. Sel darah merah manusia memiliki waktu hidup tertentu. Setelah waktu hidupnya selesai, sel darah merah akan diuraikan menjadi beberapa zat, salah satunya bilirubin. Bilirubin ini akan diproses lebih lanjut oleh hati untuk kemudian dibuang sebagai empedu. Pada janin, tugas tersebut dapat dilakukan oleh hati ibu. Setelah lahir, tugas tersebut harus dilakukan sendiri oleh hati bayi yang belum cukup siap untuk memproses begitu banyak bilirubin sehingga terjadilah penumpukan bilirubin.

Sebagian besar jaundice tidak berbahaya. Namun pada situasi tertentu di mana kadar bilirubin menjadi sangat tinggi, kerusakan otak dapat terjadi. Hal ini terjadi karena walaupun secara normal bilirubin tidak dapat melewati pembatas jaringan otak dan aliran darah, pada kadar yang sangat tinggi pembatas tersebut dapat ditembus sehingga bilirubin meracuni jaringan otak.

Bilirubin akan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk empedu yang dialirkan ke usus. Selain itu, empedu dapat terurai menjadi bilirubin di usus besar untuk kemudian diserap kembali oleh tubuh. Jika bayi tidak memperoleh cukup ASI, gerakan usus tidak banyak terpacu sehingga tidak banyak bilirubin yang dapat dikeluarkan sebagai empedu. Dan bayi yang tidak memperoleh cukup ASI tidak mengalami buang air besar yang cukup sering sehingga bilirubin hasil penguraian empedu akan tertahan di usus besar dan diserap kembali oleh tubuh. Selain itu kolostrum yang banyak terkandung pada ASI di hari-hari awal setelah persalinan memicu gerakan usus dan BAB. Karena itu, jika Anda menyusui, Anda harus melakukannya minimal 8-12 kali per hari dalam beberapa hari pertama. Dan penting untuk diperhatikan bahwa tidak pernah ada alasan untuk memberikan air atau air gula pada bayi untuk mencegah kenaikan bilirubin.”

Setelah menginap semalam di klinik bu bidan, keesokan harinya kami pulang ke rumah. Menjalani hari-hari awal mengasuh Alif sangat berkesan. Malam pertama di rumah, Alif tidak tidur semalaman dan terus menerus menangis. Meski sudah kususui, Alif tetap menangis. Kami mulai menduga-duga, apa ia kehausan karena ASI-ku masih sedikit, apa karena suhu di dalam rumah yang panas, dll. Akhirnya malam itu kami bergantian begadang menggendong Alif sambil membacakan surat-surat juz 30 supaya ia tenang. Esoknya, aku sms bu bidan. Bu bidan mengatakan kalau mungkin Alif haus sehingga rewel, sedangkan ASI-ku masih sangat sedikit. Baby blues mulai muncul. Aku mulai merasa sedih karena ASI-ku masih sedikit, sehingga Alif kehausan, aku merasa bersalah dan takut tidak bisa menjaga alif. Bermacam-macam fikiran buruk berkelebat. Sehingga membuat ASI-ku semakin tidak keluar. Bersyukurnya aku dikarunia suami yang bijaksana dan sigap dalam segala kondisi. Beliau segera membeli breastpump, suplemen pelancar ASI, dan daun katuk. Supaya Alif tetap tenang dan tidak membuatku semakin sedih, kami meminta tolong kakak perempuanku untuk menyusui Alif. Lalu aku memerah ASi-ku dan hanya mendapat sedikit.  Selang beberapa saat kuperah kembali. Saat Alif bangun kusuapi dengan sendok kecil ke mulutnya.  Untuk pemberian Air Susu Ibu Perah (ASIP) sebaiknya tidak menggunakan media dot, karena akan menyebabkan bingung putting pada bayi. Berikan ASIP dengan media sendok, cupfeeder atau pipet. Bingung putting sendiri adalah istilah untuk bayi yang menolak menyusu pada payudara ibunya setelah menyusu pada dot, hal tersebut dikarenakan perbedaan mekanisme pengeluarana ASI dari payudara dan dot. Bayi yang menyusu pada payudara harus memasukkan aerola ibu pada mulutnya dan menghisap kuat, jadi bukan sekedar meyedot putting. Sedangkan bayi yang menyusu pada dot hanya membutuhkan sedikit hisapan pada dot untuk mendapatkan ASI. Jika bayi sudah pernah menyusu dengan dot, kemungkinan ia akan mengalami bingung putting. Penolakan menyusu pada payudara ibu menyebabkan produksi ASI menjadi menurun, karena produksi ASI ibu prinsipnya adalah supply and demand. Semakin banyak bayi menyusu maka akan semakin banyak produksinya. Semakin sedikit bayi menyusu, maka akan semakin sedikit produksi ASI. Selain ikhtiar teknis tadi, fikiran sangat mempengaruhi produksi ASI. Semakin tenang, senang dan rileks kondisi ibu, maka ASI pun semakin lancar. Sebaliknya, jika Ibu sedih, tegang, stress, maka ASI akan sedikit keluarnya. Alhamdulillah setelah rutin memerah ASI, makan banyak sayur,minum suplemen, dan menenangkan diri, ASI-ku keluar dengan lancar bahkan berlimpah.

Hal lain yang menjadi tantangan adalah rasa sakit pasca melahirkan karena jahitan di perineum. Jahitan yang cukup panjang membuatku takut jika ingin BAK dan BAB, selain itu pekerjaan rumah yang harus kukerjakan tanpa khadimat (pembantu) menuntutku tak dapat banyak beristirahat, sehingga luka jahitan semakin terasa nyeri. Hal ini sering membuat was-was karena khawatir dan sakit. Pasca melahirkan, seminggu kemudian suami sudah mulai masuk kantor untuk bekerja, alhasil aku ditinggal berdua dengan si kecil di rumah. Baby blues kembali menghantui. Perasaan takut tidak dapt merawat Alif, takut Alif kenapa-kenapa, fisik yang lemah, merasa kehilangan waktu berdua dengan suami, rasa kesepian, lelah, bercampur aduk. Aku sering menangis sendiri, bahkan terkadang tidak ingin dekat-dekat dengan Alif, tidak ingin menggendongnya, tidak ingin melihatnya.. tapi aku cepat-cepat beristighfar memohon ampun, biasanya jika mulai muncul baby blues itu, aku segera menghampiri suami dan menangis di pelukannya, mencurahkan semua yang kurasakan (meski suami kadang geleng-geleng dengan jalan fikiranku yang saat itu banyak tidak logisnya), dan suami banyak menasehati dan menyemangatiku. Untuk mendeskripsikan apa itu Baby Blues, mungkin aku bukan pakarnya dari sisi medis maupun psikologi. Tapi dari pengalaman yang kualami, dapat kukatakan bahwa Baby Blues adalah situasi yang dialami oleh Ibu pasca melahirkan diantaranya berupa perasaan takut, cemas, lelah, merasa sendiri, dan berbagai perasaan yang campur aduk yang membuatnya menjadi tidak nyaman dengan dirinya, maupun dengan bayinya. Sebaiknya Ibu segera menyadari bahwa dirinya terserang sindrom ini dan berusaha menghilangkan dari dalam dirinya. Kalau aku pribadi, ketika mengalami Baby Blues, yang pertama kali kulakukan adalah mengidentifikasi, dengan cara bertanya kepada orang-orang yang pernah melahirkan sebelumnya, dan banyak membaca referensi terkait untuk mengetahui gejalanya. Setelah yakin bahwa aku terserang baby Blues, maka aku mencari solusinya. Yang kulakukan untuk menghilangkan baby blues antara lain :

1. Menulis. Menulis merupakan salah satu cara menuangkan apa yang kita fikirkan sekaligus mengabadikannya. Jika kita curhat dengan teman, maka setelahnya cerita kita akan hilang begitu saja, dan hanya teman kita saja yang tahu, tetapi jika kita menulis, maka cerita kita akan tercatat dan jika kita publikasikan (aku memilih media blog untuk mempublikasikan tulisan-tulisannku) maka akan banyak orang yang mengetahui cerita kita. Untuk menghilangkan baby blues, aku mencoba mengurai akar masalah yang membuat baby blues itu datang, yaitu persalinan dan kehadiran si kecil. Lalu aku mencoba berdamai dengan keadaan itu, mencoba untuk menerima rasa sakit, lelah, tangisan si kecil, dan setiap proses yang telah dan akan kulalui sebagai seorang ibu. Bukan mengalihkannya. Maka kutuliskan tiap proses persalinanku, kutuliskan segala perasaan, segala pemikiran di blog. Dan hasilnya : Perasaan ini jauh lebih tenang, jauh lebih bisa menerima kehadiran Alif. Nilai positif lainnya selain untuk diri kita pribadi adalah, ternyata tulisan itu dibaca oleh banyak orang dan menginspirasi untuk dapat memberdayakan diri dan berjuang agar dapat melahirkan normal. 

2. Bertemu dengan banyak orang. Bertemu dengan banyak orang membuat fikiran kita tidak akan berfokus pada diri kita sendiri. Akan banyak informasi, Canda yang menghibur, juga tuntutan untuk selalu tersenyum, yang mengurangi baby blues yang kita rasakan

3. Me Time. Aku mendefinisikan Me Time sebagai waktu dimana kita menikmati kesendirian di luar rutinitas yang membuat jenuh tanpa diganggu siapapun. Di tengah rutinitas dan kesibukan mengurus si kecil yang tidak ada habisnya, kita harus pandai mencuri-curi waktu untuk melakukan aktivitas kesukaan kita. Kalau aku misalnya, setelah membereskan cucian baju kotor Alif, memandikan, menyusuinya hingga kenyang dan tertidur, kemudian aku penuhi hak jasadku dengan bersih-bersih dan makan. Nah, selama Alif tidur itu aku asyik merajut, baca buku, ngutak-ngatik flannel, dll.  

4. Berfikir Positif. Yang paling penting dari semua tips di atas adalah kembali pada mindset kita, yaitu berfikir positif tentang kehadiran si kecil. Tidak dipungkiri, kehadiran si kecil di awal-awal kehidupannya memang sangat menyita waktu, energy, dan fikiran kita, tapi itu semua tidak akan lama. Hobi begadangnya si kecil akan berangsur-angsur hilang seiring bertambah usianya. Bayi sering tidur di siang hari dan bangun di malam hari karena masih mengikuti pola di dalam kandungan ibu, selain itu juga ia belum bisa membedakan siang dan malam. Hobi menyusui si kecil (pada bayi laki-laki konon lebih kuat menyusunya ketimbang bayi perempuan) akan berkurang seiring ia mengenal MPASI dan akan berhenti pada usia 2 tahun. Jadi kita yang harus dapat mengatur fikiran kita, segala hal yang saat ini dirasa sebagai penyebab baby blues sifatnya hanya sementara, dan masih membuat kita terkaget-kaget. Maka kita harus berusaha menerima dan beradaptasi dengan keadaan tersebut

Semangat menjalani hari-hari sebagai ibu baru.. Semangat memberi ASI Ekslusif hingga 6 bulan. Semangat  mengobservasi tiap bahasa tubuh bayi mungil kita, dan belajar berkomunikasi dengannya. Semua kan terasa begitu menyenangkan jika kita menikmatinya.. Karena menjadi Ibu adalah hadiah terbesar bagi seorang wanita 

Istana kecil kami, 20 November 2013 
Intan Puspita Sari

Share:

Jumat, 15 November 2013

Gerakan Kepahlawanan

Ternyata pahlawan itu ada di sini. Saat semua orang mencari-cari keberadaannya ia muncul di tempat yang boleh dibilang ‘asing’. Entah apa penyebabnya. Tapi kaidah umumnya sepertinya memang begitu. Pahlawan itu sebelum kemunculannya berada pada rumah ‘pembinaan’ yang menjadi taman ilmu mereka untuk kelak akan hadir di tengah carut-marut masyarakat. Saat dimana tak lagi ada yang sanggup menghadapi berbagai problem-problem kemanusiaan. Para pahlawan saat ini sedang berada pada tahap di’tata’ kepribadiannya. Dikelola potensinya. Dan diarahkan afiliasinya.

Mereka memang tidak dikenal banyak orang. Dan dipikr-pikir memang tak perlu dikenal siapapun. Karena mereka punya komitmen bahwa yang harusnya dirasakan masyarakat adalah amal dan karya mereka, bukan kepopuleran mereka. Pada hakikatnya amal dan karya tidak perlu tahu lebih jauh siapa yang ‘memproduksi’ nya. Dan pahlawan pada umumnya secara konsisten beramal bagi orang lain sembari sangat yakin bahwa ia akan populer diantara makhluk-makhluk langit. Terutama Allah sebagai penciptanya.

Kaidah lainnya para pahlawan itu tidak ‘berserakan’. Tidak sendirian. Tidak pula mau selalu sendirian. Mereka terkapitalisasi dalam satu ikatan. Ukhuwah. Ikatan persaudaraan yang dilandasi pada nilai-nilai hakiki. Bukan kepentingan apalagi bermaksud merusak nilai kepahlawanan saudaranya. Persaudaraan ini dirindukan banyak orang. Persaudaraan ini dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai anugerah Allah yang paling besar setelah keimanan. Dan karenanya ia sulit untuk diwujudkan jika tidak dilandasi keimanan kepada Allah.

Setelah para pahlawan disatukan dengan ikatan persaudaraan. Dan setelah ter’visualisasikan’ tujuan atau visi bersama mereka mengikatkan diri dalam satu jama’ah pergerakan. Yang amalnya jadi amal kolektif (amal Jama’i). Dimana nilai kepahlawanan masing-masing mereka terpetakan menurut peran unggulannya. Sehingga yang tampak bukan lagi pesona sang pahlawan, tapi telah nampak pesona bangunan jama’ah gerakan kepahlawanan. Yang juga dapat kita simpulkan pesona itu memancar dari bangunan Islam yang bahan dasarnya adalah nilai-nilai kepahlawanan para pahlawan.

Maju terus para pahlawan. Agar umat ini bisa bangkit dari tidur-tidur panjang yang melenakan. Dan kelak Allah akan bangkitkan kita dengan kemuliaan sebagaimana pahlawan-pahlawan-Nya. Hingga kita nanti bisa melepas rindu bersama dengan saling cerita di sana, syurga.  Amin 

.

Share:

Selasa, 12 November 2013

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi : substansi  yang bersifat materi (badan) dan substansi yang bersifat immateri (jiwa), dan bahwa hakikat dari manusia adalah substansi immaterialnya. Hal 2. (oleh para filosof, al nafs disebut substansi yang berdiri sendiri karena dipandang bebas dari (tidak terikat pada) badan. Lihat M Saeed Sheikh, A Dictionary of Muslim Philosophy, Institute of Islamic Culture, Lahore 1976. 

Ketinggian dan kesempurnaan manusia deprioleh dengan memfungsikan substansi immaterial itu, dengan jalan mempertajam daya-daya yang dimilikinya. Filsafat Islam menggunakan kata al nafs untuk substansi immaterial itu. Al nafs mempunyai daya-daya dan yang terpenring bagi filosof adalah daya berfikir yang terkandung di dalamnya. Kesempurnaan manusia diperoleh dengan jalan mempertajam daya berfikir ini(al insane hayawan nathiq, manusia adalah hewan yang berfikir). Hal 2.

Di dalam tasawuf, akal bukan merupakan daya saing yang terpenting karena usaha penyempurnaan diri di dalamnya bukanlah proses intelektual, melainkan penajaman daya-daya intuisi dan emosi. (J Spenser Trimingham, The Sufi Orders in Islam, Oxford UP, London, 1973). Hal 3

AL Ghazali adalah seroang pemikir Islam yang hidup antara tahun 1058 – 111 M, ketka suasana pemikiran di dunia Islam memperlihatkan perkembangan dan keragaman yang tiggi. Bahwa pengenalan hakikat diri adalah dasar untuk mengenal Tuhan. 

Al Ghazali menyatakan. Bahwa pengetahuan akan hakikat diri, melahirkan pengetahuan akan diri apa adanya, pengatahuan akan asal-usulnya dan sebab keberadaan serta pengetahuan akan jalan-jalan yang membawa kebahagiaan dan kesengsaraan (Al Ghazali, Kimiya, ‘al Sa’adat)

Ungkapan hakikat manusia mengacu kepada kecenderungan tertentu memahami manusia. Hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah, yaitu identitas essensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri dan membedakannya dari yang lainnya. Hal 49. Dalam hal ini, esensi sangat berbeda dengan eksistensi. Dan kelihatannya esensi lebih penting daripada eksistensi. 

Di dalam buku filsafatnya, al ghazali menyatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap, tidak berubah-ubah, yaitu al nafs (jiwanya). Yang dimaksud dengan al nafs adalah substansi yang beridiri sendiri, tidak bertempat dan merupakan “tempat pengetahuan-pengetahuan intelektual (al ma’qulat) berasal dari ‘ alam al malakut atau alam al amr. (Al ghazali Ma’arij Al quds). Hal. 51. 

PErsoalan kenabian, ganjaran perbuatan manusia, dan seluruh berita tentang akhirat tidak ada artinya, “ apabila al nafs tidak ada. Sebab, “seluruh ajaran-ajaran agama hanya ditujukan kepada yang ada (maqjud) yang dapat memahaminya.” Yang mempunyai kemampuan memahami bukanlah fisik manusia; sebab, apabila fisik manusia mempunyai kemampuan memahami, objek-objek fisik lainnya juga mesti mempunyai kemampuan memahami. 

Pengetahuan intelektual bersifat immateri dan tidak terbagi-bagi. Al nafs yang menjadi tempatnya itupun semestinya bersifat immateri dan tidak terbagi-bagi. Pengetahuan intelektual (al ma’qul) adalah satu keutuhan yang tidak terbagi-bagi. Dengan demikian, al nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, bersifat immateri, subjek yang mengetahui dan tidak terbagi-bagi. Hal. 53

JIwa manusia pada setiap individu pada hakikatnya sama, tetapi berbeda dari segi hasil dialog antara jiwa dan badan (bersatu pada substansi, berbeda pada aksedens). 

JIwa manusia tidak mungkin mempunyai potensi dan aktus dari dua sudut yang berlawanan; aktus kekekalan dan potensi kehancuran). 

Struktur eksistensial manusia disini adalah komposisi yang memperlihatkan keberadaan manusia dalam suatu totalitas. Manusia sebagai kenyataan factual terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kompoisisi yang menunjukkan keberadaannya. (hal 65)

Dalam Mi’raj al salikin, Al Ghazali menggambarkan manusia terdiri dari al nafs, al ruh, dan al jism. Disini yang dimaksud dengan al ruh bukanlah al ruh dalam arti esensi manusia. Al ruh dalam hal ini erbeda dengan al nafs. Untuk dapat melihat perbedaan antara ketiga unsure pembentuk komposisi manusia itu, al ghazalli menjelaskan arti masing-masing. Al nafs adalah substansi yang berdiri sendiri , tidak bertempat. Al ruh adalah panas alami (al hararat al ghariziyyaT0 yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf; sedangkan al jism adalah yang tersusun dari unsure-unsur materi. Al jism (tubuh) adalah bagian yang paling tidak sempurna pada manusia. Ia terdiri atas unsure-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak. Karena itu, ia tidak mempunyai sifat kekal. Di samping itu al jism tidak mempunyai daya sama sekali. Ia hanya mempunyai mabda thabi’I (prinsip alami) yang memperlihatkan bahwa ia tunduk kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Tegasnya, al jism tanpa al ruh dan al nafs adalah benda mati. 

Dengan mneyebut al aql (esensi manusia) sebagai al nafs al nathiqat, maka berdasarkan tingkatan daya-dayanya pada diri manusia terdapat tiga jiwa( al nufus al salasat), yaitu jiawa vegetative, jiwa sensitive, dan jiwa rasional. Daya penggerak (al muharrikat) dan daya persepsi (al mudrikat) terdapat pada jiwa sensitive. Al muharrikat terdiri atas daya pendorong (ba’isat) dan daya berbuat(fa’ilat). Hubungan antara yang pertama dan yang kedua seperti hubungan antara potensi dan aktus, tetapi, keduanya adalah potensi sebelum mencapai aktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan. Karena itu, al ghazali menyebut yang pertama iradat dan yang kedua qudrat. 

Aktualitas kemauan ditentukan bentuknya, positif atau negative, oleh salah satu dari dua prinsip yang inheren di dalam iradat (kemauan), yaitu kecenderungan positif terhadap yang menguntungkan (jadzb al naf) dan kecenderungan negative terhadap yang merugikan(daf al dhurr), yang pertama dinamakan al syahwat (appetite, nafsu) dan yang kedua dinamakan juga al ghadhab(amarah). 

Daya tertinggi dan terakhir dalam proses pengolahan informasi pada saya tangkap dari dalam adalah al mutakhayyilat, yang juga disebut al mufakkirat yang berfungsi menghubung-hubungkan dan memisah-misahkan gambar-gambar yang telah ditangkap sebelumnya. Seluruh daya tangkap dari dalam ini menggunakan otak sebgai alat. 

Daya ini belum merupakan daya-daya yang khas manusiawi. Pada tahap ini, manusia dianggap sama dengan hewan-hewan lainnya. Jiwa sensitive dianggap sebagai nilai lebih yang dimiliki jenis hewan terhadap jenis tumbuh-tumbuhan sebagaimana jiwa vegetative dianggap sebagai nilai lebih jenis tumbuh-tumbuhan terhadap benda-benda mati. Hal 69

Keterbukaan al mutakhayyilat kepada jiwa rasional sudah jelas merupakan kekhususan manusia. 

Al ghazali menekankan pentingnya arti akal praktis ini bagi manusia, khususnya bagi kreatifitas dan akhlak. Akal praktis mesti dapat menuasai seluruh daya-daya jiwa yang di bawahnya untuk mencapai akhklak yang mulia. Artinya terwujudnya tingkah laku yang baik tergantung kepada kekuatan akal praktis menguasai daya-daya jiwa tersebut. Yang menyebabkan timbulnya pengetahuan modal adalah hubungan akal praktis dengan akal teoritis, seperti pengetahuan bahwa dusta adalah buruj dan bahwa adil itu adalah baik. Akal praktis degan demikian, adalah untuk menyempurnakan badan sesuai dengan tuntutan pengetahuan manusia. Hal 72

Kegiatan berfikir, menurutnya, bukan kegiatan akal murni. Dalam berfikir, akal menggunakan daya al mutakhayyilat (al mufakkirat) yang ada pada jiwa sensitive yang bertempat di otak untuk memperoleh al had al awsath (term tengah). Hubungan akal dengan al mutakhayyilat dalam hal ini menurutunya adalah bahwa al mutakhayyilat berfungsi menyusun dan memisah informasi yang diterimanya dan akal menangkap kesimpulan-kesimpulannya. Berfikir adalah kegiatan akal bersama al mutakhayyilat. Hal 73

Diringkas dari buku "Manusia Menurut Al Ghazali" , Muhammad Yasir Nasution, 1988

Share:

Sistem Peribadatan Dalam Islam

Allah menciptakan manusia agar supaya menjadi khalifah di muka bumi. Dan hal ini merupakan suatu hal yang jelas tentang status Adam as serta angan-angan malaikat untuk dapat mendapatkan kedudukannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah : 30. Hal pertama dari kekhalifahan ini adalah manusia mengenal Rabb-Nya dengan sebenar-benarnya dan menyembah-Nya dengan benar.
Fitrah manusia adalah bahwa manusia adalah untuk Allah, untuk mengenal dan menyembah-Nya (beribadah kepada-Nya) serta untuk melaksanakan hak-Nya semata-mata. Tidak boleh manusia menjadi milik sesuatu yang lain di bumi ataupun angkasa langit. Karena segala alam dan isinya diperuntukkan bagi manusia yang memang sengaja ditaklukkan baginya, dan bekerja untuk melayaninya sebagaimana yang terlihat. Lalu bagaimana mungkin manusia dapat menjadi milik makhluk yang lainnya itu akan bekerja untuk melayaninya?
Manusia menurut ketentuan fitrah dan logika alam adalah hanya untuk Allah SWT dan bukan untuk yang lain-Nya, untuk menyembah_nya dan bukan untuk menyembah manusia, bau, sapi, pohon, matahari, dan bulan, dan setiap peribadatan untuk selain Allah adalah meupakan tipu daya setan yang menjadi musuh manusia.
Seruan pertama yang disampaikan oleh Rasulullah saw adalah seruan untuk menyembah Allah. (QS. Yasin : 60 – 61). Tidak heran jika tujuan pengutusan para nabi, rasul dan kitab suci adalah untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian lamanya da menghilangkan apa yang menutupi fitrah manusia itu. (QS. Al A'raf : 59).

Pengertian Ibadah

Menurut kamus Ash Shihah ibadah berasal dari beberapa kata. Al-Abdiyah, Al-Ubudiyah yang artinya ketundukan dan kerendahan. Al-Ibadah yang berarti ketaatan (tho'ah). Ta'bid ; penghambaan, Ta'abbud : penyembahan ritual. 

Setiap "ketundukkan" yang tidak lagi di atasnya ketundukan lagi merupakan suatu ibadah, baik karena patuh ataupun tidak taat (keterpaksaan) kepada ma'bud (yang diibadati atau disembah). Setiap ketaatan kepada Allah dengan penuh tunduk dan merendahkan diri merupakan suatu ibadah. Ibadah merupakan suatu ketundukkan yang mana tidak berhak atasnya kecuali Sang Pemberi Nikmat yang berupa kenikmatan tertinggi seperti kehidupan, pemahaman, pendengaran dan penglihatan.
Arti ibadah menurut syariat adalah ketundukkan dan kecintaan. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa agama mencakup arti ketundukkan dan kerendahan. Dintuhu Fadaana : Saya menundukkannya, maka ia menjadi tunduk. Yadiinullah wa yadiin lillah : ia menyembah Allah dan mentaati-Nya dan tunduk kepada-Nya.

"Dan barangsiapa yang tunduk kepada manusia disertai dengan kebencian padanya, maka tidaklah ia menjadi hamba baginya, dan jikalau ia mencintai sesuatu sedangkan ia tidak tunduk padanya maka tidaklah ia menjadi hamba baginya. Sebagaimana halnya seseorang kadangkala mencintai anak dan temannya. (QS. At Taubah : 24)
Ibadah yang disyariatkan harus memiliki dua hal :
1.Komitmen dengan apa yang disyariatkan Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya baik berupa perintah-Nya. (QS Al Fatihah : 5)
2.Komitmen ini keluar dari hati yang mencintai Allah Ta'ala. Tidak ada dalam kehidupan ini yang lebih pantas dari Allah SWT untuk dicintai.
      
Sesungguhnya dasar cinta kepada Allah adalah merasakan jasa, nikmat, kebaikan dan rahmat-Nya, serta merasakan keindahan dan kesempurnaan-Nya. Maka barangsiap mengenal Allah ia akan mencintai-Nya, dan seberapa besar kadar tingkatan pengetahuannya tentang Allah, sebesar itu pula cintanya kepada-Nya. Oleh karena itu Rasulullah saw adalah orang  yang paling cinta kepada Allah, karena beliau adalah orang yang paling mengenal Allah. 
Suatu hakikat yang sangat penting yaitu komprehensifitas (menyeluruh) arti ibadah dalam islam dan keluasan cakrawalanya. Komprehensifitas mencakup dua hal :
Pertama ; cakupannya atas semua dimensi agama dan semua aspek kehidupan.
Kedua ; cakupannya atas semua eksistensi manusia lahir dan batin.
Ibadah Mencakup Semua Dimensi Agama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan pendapatnya mengenai ibadah. Ibadah menurut beliau adalah sebuah kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya dari perkataan dan perbuatan yang lahir dan batin. Maka shalat, zakat, puasa, haji, jujur dalam perkataan, melaksanakan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturahmi, menepati janji, amar ma'ruf nahi munkar, berjihad melawan kaum kafir dan munafik, berbuat baika kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, musafirm, hamba sahaya, binatang, do'a, dzikir membaca dan sebagainya termasuk dari pada ibadah. Demikian pula mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, taubat kepadanya dan mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakan kepada-Ny, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada siksa-Nya dan sebagainya termasuk daripada ibadah."
Ibadah mencakup lebih dari sekedar kewajiban-kewajiban itu yang terdiri dari berbagai macam ibadah ritual. Ia mencakup pergaulan yang baik dan menunaikan hak-hak para hamba Allah, seperti; berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali silaturahmi, berbuat baik kepada anak yatim, orang miskin dan musafir. 
Ibadah mencakup dua fardhu (kewajiban) besar yang mana keduanya merupakan pagar semuanya itu dan pengendalinya yaitu;
1.Amar ma'ruf dan nahi munkar.
2.Berjihad melawan kaum kafir dan munafik di jalan Allah.

Ibadah Mencakup Semua Aspek Kehidupan

Ibadah kepada Allah mencakup kehidupan semuanya da mengatur seluruh urusannya. Dari adab (etika) makan dan minum, buang hajat, sampai masalah mendirikan Negara, politik pemerintahan, manajemen ekonomi, persoalan hubungan antar manusia dan sanksi pelanggaran, serta dasar-dasar hubungan internasional dalam kondisi damai dan perang. (QS. Al Baqarah : 180)
Jadi, sesungguhnya ibadah kepada Allah bukan terbatas pada shalat, puasa, haji, dan apa yang menyertainya dari tilawah, dzikir, do'a dan istighfar sebagaimana yang terlintas di benak kebanyakan umat islam jika mereka diseur beribadah kepada Allah, dan sebagaimana yang dikira oleh kebanyakan dari orang-orang yang taat beragama bahwa jika mereka telah menegakkan ibadah-ibadah ritual ini, mereka merasa telah menunaikan hak Allah dan telah melaksanakan kewajiban ibadah kepada Allah secara sempurna. 

Ibadah Adalah konsep Allah dan Syariat-Nya

Sesungguhnya konsekuensi ibadah manusia hanya kepada Allah adalah menundukkan segala urusannya kepada apa yang dicintai Allah SWT dan diridhoi-nya. Hal ini merupakan komitmen logis yang timbul dari watak alamiyah akad keimanan dan konsekuensinya.
a.menyerahkan kendali hidupnya kepada Allah agar dikemudikan oleh Rasul-Nya yang benar, dan ditunjukkan oleh wahyu yang ma'shum.
b.Allah berfirman : Aku memerintahkan dan melarang. Hamba mengatakan : Saya mendengan dan menaati.
c.Manusia keluar dari ketundukkan terhadap hawa nafsunya kepada ketundukan terhadap syariat Rabb-Nya. (QS (Al Ahzab : 36)

Syarat Amalan Manusia Dikategorikan Ibadah

1.Pekerjaan itu dibolehkan menurut pandangan Islam.
2.Disertai dengan niat baik, yaitu niat seorang muslim untuk menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, memenuhi kebutuhan keluarganya dan sebagainya.
3.Melaksanakan pekerjaan dengan penuh ketekunan dan secara ihsan.
4.Ber-ittizam (komitmen) dengan ketentuan Allah dalam pekerjaan itu, maka ia tidak berbuat zalim dan tidak berlaku khianat, tidak memanipulasi dan tidak melanggar (merampas) hak orang lain.
5.Pekerjaan duniawaiyahnya tidak melalaikannya dari kewajiban-kewajiban agamanya sebagaimana Allah berfirman dalm QS. An Nuur : 37)

Pengaruh Ibadah Bagi Muslim

Pertama, membentuk kehidupan seorang muslim dan kelakuannya dengan corak rabbani, dan menjadikannya berorientasi kepada Allah dalam segala sesuatu yang dilakukannya untuk kehidupan, ia melaksanakannya dengan niaty seorang abid yang khusyu dan dengan jiwa(ruh) seorang hamba yang tekun dan tenggelam dalam ibadah.
Kedua, memberikan kepada seorang muslim kesatuan orientasi dan kesatuan tujuan dalam semua aspek hidupnya.   (QS. Al Baqarah : 115)

Tujuan Ibadah

Ia (Allah ) telah memberitahukan jawaban dari pertanyaan, apa tujuan dari ibadah itu   sendiri ? Sebagaiman tuturan Nabi Sulaiman dalam QS An Naml : 40)
"Sulaiman berkata : 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiap yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan baragsiap yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya Lagi Maha Mulia."

Diantara tujuan-tujuan ibadah adalah sebagai berikut :
a.Merupakan santapan Rohani
b.Merupakan Jalan Kebebasan
c.Merupakan Ujian Allah yang diberikan kepada manusia
d.Merupakan Hak Allah atas Hamba-Nya


Daftar Pustaka
Al Qardhawi, Yusuf. Pengantar Kajian Islam. 1997. Jakarta: Pustaka Al Kautsar

Share:

Akuntansi Dalam Islam

Akuntansi secara etimologi dipersamakan dengan kata muhasabah dalam bahasa arab. Dimana muhasabah berasal dari kata hasaba , dan apabila diucapkan dengan kata lain seperti hisab, hasibah, muhasabah, hisaba. Di mana secara bahasa, muhasabah artinya menimbang atau memperhitungkan.
            Kemudian kata hasaba  adalah hisaba , yaitu menghitung dengan seksama atau teliti yang harus tercatat dalam buku. Sebagaimana firman Allah SWT

  Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.”(QS Al Insyiqaq: 7 – 8)
            Syahatah (2001) menguraikan arti kata muhasabah, baik secara bahasa, dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maupun istilah-istilah ulama fiqih, bahwa muhasabah mempunyai dua pengertian pokok, yakni sebagai berikut:
Pengertian pertama. Muhasabah dengan arti musa-alah (perhitungan) dan munaqasyah (perdebatan), kemudian dilanjutkan dengan pembalasan yang sesuai dengan catatan perbuatannya dan tingkah lakunya serta sesuai pula dengan syarat-syarat yang telah disepakati.
Pengertian Kedua. Muhasabah dengan arti pembukuan atau pencatatan keuangan seperti yang diterapkan pada masa awal munculnya Islam. Juga, diartikan dengan penghitungan modal pokok serta keuntungan dan kerugian.
            Syahatah (2001) menyatakan akuntansi menurut Islam adalah serupa dengan muhasabah dalam pengertian pembukuan keuangan (menghitung dan mendata semua transaksi keuangan). Di samping juga muhasabah  dapat diartikan sebagai perhitungan, peredebatan maupun pengimbalan.
Dalam tinjauan yang bersumber langsung dari ayat-ayat Al Qur’an, ditemukan oleh Muhamad (2000) bahwa akuntansi yang berasal dari kata hisab atau muhasaba berkaitan dengan upaya untuk menghitung, mengukur atau mengendalikan seluruh aktivitas manusia selama hidup di dunia untuk dapat dipertanggungjawabkan di akhirat. “Dengan demikian, muhtasib  memiliki tugas yang sangat luas, dari pengawasan harta yang menyangkut kepentingan sosial sampai pada peeriksaan atas transaksi bisnis perusahaan,(Muhamad, 2000, hlm.33).
            Oleh karena akuntansi berasal dari kata hisab atau muhasabah, beberapa definisi menurut tokoh seperti Qalqasyandi, seorang tokoh antara pada masa Kerajaan Umayyah dan Abasiyah, yang dikutip Atiyah (1993) mendefinsikan bahwa ilmu hisab itu ialah penulisan tentang harta dari segi masuk dan keluarnya dari berbagai bab dan bagiannya. Ilmu hisab juga termasuk perkara yang berkaitan dengan perkiraan-perkiraan dan pengawasan terhadap harta. Oleh karena itu ilmu hisab  yang termaktub dalam Islam adalah serupa dengan akuntansi saat ini.
            Atiyah (1993) menyatakan bahwa arahan keuangan Islam pada masa Kerajaan Umayyah dan Abbasiyah adalah dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Semua urusan keuangan harus ditulis dan disimpan. Jumlah keseluruhannya, jumlah perbelanjaan dan hendaklah disajikan dengan terang, jelas dan teliti.
2.      Semua catatan hendaklah dibuat berdasarkan buku yang benar.
3.      Semua harta hendaklah disimpan dalam tempat yang khusus, agar dapat diawasi dan dijaga.
4.      Segala aktivitas perkiraan hendaklah dilakukan oleh orang yang terpercaya.
5.      Setiap akun hendaklah diperiksa kembali oleh orang lain yang bukan penulis pencatatan tersebut. Setelah diperiksa catatan keuangan tersebut hendaklah ditandai dan diberi catatan-catatan.
6.      Stok atau persediaan hendaklah diperkirakan dengan teliti setiap akhir tahun atau jangka waktu tertentu dan dibandingkan dengan pencatatam yang tertulis dalam buku siapa dapat diketahui apakah benar dan jika berbeda hendaklah dicari sebab perbedaan tersebut. 
Share:

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Sebagaimana telah dijelaspan sebelumnya, bahwa adanya konsep dasar akrual dalam proses pengakuan akuntansi merupakan salah satu implikasi dari adanya prinsip periode akuntansi yang di mana prinsip periode akuntansi adalah implikasi langsung dari adanya postulat going concern dalam ilmu akuntansi. Pengakuan pendapatan dan biaya atas dasar akrual yang apabila mendasarinya semata-mata berdasarkan prinsip periode akuntansi, maka hal demikian sarat dengan adanya pengakuan nilai sekarang (present value) dalam akuntansi. Pengakuan nilai sekarang atas nilai yang akan diterima di masa mendatang ini merupakan konsep nilai waktu uang (time value of money). “Nilai sekarang (present value) adalah pengukur sekarang aliran kas masuk atau keluar masa datang,” (Suwardjono, 2005: hlm. 198). 

Penggunaan konsep nilai waktu uang dalam proses pengakuan unsur laporan keuangan terutama pengakuan pendapatan dan biaya yang merefleksikan aktivitas operasi entitas memang tidak secara eksplisit tampak dalam proses pengakuan tersebut. Tampak jelas yakni pada konsep pengukuran dalam akuntansi. Di mana Suwardjono (2005) membenarkan bahwa tujuan penggunaan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi adalah untuk menangkap atau merefleksi sedapat mungkin perbedaan ekonomik antara sehimpunan aliran kas masa datang dan untuk mengestimasi nilai wajar. Namun, apabila konsep pengakuan unsur laporan keuangan berdasarkan konsep nilai waktu uang, maka ia menjadi asumsi yang mendasari konsep pengukuran akuntansi. Sehingga, secara mendasar konsep pengakuan tetap saja sarat dengan penggunaan konsep nilai waktu uang.

Mediawati (2011) mengenai konsep nilai waktu uang (time value of money) mengatakan bahwa, nilai waktu uang mengakui bahwa nilai komoditi atau nilai uang saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai di masa mendatang. Dalam pengakuan return, konsep nilai waktu uang (time value of money) memungkinkan untuk memastikan ketidakpastian return ‘penghasilan’ melalui kompensasi ketidakpastian (premium of uncertainty) yang dalam hal ini memberi legitimasi terhadap penerapan bunga. 

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money). Mediawati (2011) mengemukakan bahwa Islam hanya mengenai konsep nilai ekonomi dari waktu (economic value of time). Artinya, bukanlah uang itu yang memiliki nilai waktu, tetapi waktulah yang akan bernilai ekonomi. Hal ini dipertegas dalam Al Qur’an surat Al Ashr ayat 1 – 3. Bahwa faktor yang menentukan nilai waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Dalam bisnis, semakin efektif dan efisien bisnis yang dilakukan, maka semakin tinggi nilai waktunya dan semakin besar keuntungan yang diperoleh.  

Share:

Translate

Pengikut