Selasa, 12 November 2013

Sistem Peribadatan Dalam Islam

Allah menciptakan manusia agar supaya menjadi khalifah di muka bumi. Dan hal ini merupakan suatu hal yang jelas tentang status Adam as serta angan-angan malaikat untuk dapat mendapatkan kedudukannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah : 30. Hal pertama dari kekhalifahan ini adalah manusia mengenal Rabb-Nya dengan sebenar-benarnya dan menyembah-Nya dengan benar.
Fitrah manusia adalah bahwa manusia adalah untuk Allah, untuk mengenal dan menyembah-Nya (beribadah kepada-Nya) serta untuk melaksanakan hak-Nya semata-mata. Tidak boleh manusia menjadi milik sesuatu yang lain di bumi ataupun angkasa langit. Karena segala alam dan isinya diperuntukkan bagi manusia yang memang sengaja ditaklukkan baginya, dan bekerja untuk melayaninya sebagaimana yang terlihat. Lalu bagaimana mungkin manusia dapat menjadi milik makhluk yang lainnya itu akan bekerja untuk melayaninya?
Manusia menurut ketentuan fitrah dan logika alam adalah hanya untuk Allah SWT dan bukan untuk yang lain-Nya, untuk menyembah_nya dan bukan untuk menyembah manusia, bau, sapi, pohon, matahari, dan bulan, dan setiap peribadatan untuk selain Allah adalah meupakan tipu daya setan yang menjadi musuh manusia.
Seruan pertama yang disampaikan oleh Rasulullah saw adalah seruan untuk menyembah Allah. (QS. Yasin : 60 – 61). Tidak heran jika tujuan pengutusan para nabi, rasul dan kitab suci adalah untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian lamanya da menghilangkan apa yang menutupi fitrah manusia itu. (QS. Al A'raf : 59).

Pengertian Ibadah

Menurut kamus Ash Shihah ibadah berasal dari beberapa kata. Al-Abdiyah, Al-Ubudiyah yang artinya ketundukan dan kerendahan. Al-Ibadah yang berarti ketaatan (tho'ah). Ta'bid ; penghambaan, Ta'abbud : penyembahan ritual. 

Setiap "ketundukkan" yang tidak lagi di atasnya ketundukan lagi merupakan suatu ibadah, baik karena patuh ataupun tidak taat (keterpaksaan) kepada ma'bud (yang diibadati atau disembah). Setiap ketaatan kepada Allah dengan penuh tunduk dan merendahkan diri merupakan suatu ibadah. Ibadah merupakan suatu ketundukkan yang mana tidak berhak atasnya kecuali Sang Pemberi Nikmat yang berupa kenikmatan tertinggi seperti kehidupan, pemahaman, pendengaran dan penglihatan.
Arti ibadah menurut syariat adalah ketundukkan dan kecintaan. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa agama mencakup arti ketundukkan dan kerendahan. Dintuhu Fadaana : Saya menundukkannya, maka ia menjadi tunduk. Yadiinullah wa yadiin lillah : ia menyembah Allah dan mentaati-Nya dan tunduk kepada-Nya.

"Dan barangsiapa yang tunduk kepada manusia disertai dengan kebencian padanya, maka tidaklah ia menjadi hamba baginya, dan jikalau ia mencintai sesuatu sedangkan ia tidak tunduk padanya maka tidaklah ia menjadi hamba baginya. Sebagaimana halnya seseorang kadangkala mencintai anak dan temannya. (QS. At Taubah : 24)
Ibadah yang disyariatkan harus memiliki dua hal :
1.Komitmen dengan apa yang disyariatkan Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya baik berupa perintah-Nya. (QS Al Fatihah : 5)
2.Komitmen ini keluar dari hati yang mencintai Allah Ta'ala. Tidak ada dalam kehidupan ini yang lebih pantas dari Allah SWT untuk dicintai.
      
Sesungguhnya dasar cinta kepada Allah adalah merasakan jasa, nikmat, kebaikan dan rahmat-Nya, serta merasakan keindahan dan kesempurnaan-Nya. Maka barangsiap mengenal Allah ia akan mencintai-Nya, dan seberapa besar kadar tingkatan pengetahuannya tentang Allah, sebesar itu pula cintanya kepada-Nya. Oleh karena itu Rasulullah saw adalah orang  yang paling cinta kepada Allah, karena beliau adalah orang yang paling mengenal Allah. 
Suatu hakikat yang sangat penting yaitu komprehensifitas (menyeluruh) arti ibadah dalam islam dan keluasan cakrawalanya. Komprehensifitas mencakup dua hal :
Pertama ; cakupannya atas semua dimensi agama dan semua aspek kehidupan.
Kedua ; cakupannya atas semua eksistensi manusia lahir dan batin.
Ibadah Mencakup Semua Dimensi Agama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan pendapatnya mengenai ibadah. Ibadah menurut beliau adalah sebuah kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya dari perkataan dan perbuatan yang lahir dan batin. Maka shalat, zakat, puasa, haji, jujur dalam perkataan, melaksanakan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturahmi, menepati janji, amar ma'ruf nahi munkar, berjihad melawan kaum kafir dan munafik, berbuat baika kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, musafirm, hamba sahaya, binatang, do'a, dzikir membaca dan sebagainya termasuk dari pada ibadah. Demikian pula mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, taubat kepadanya dan mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakan kepada-Ny, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada siksa-Nya dan sebagainya termasuk daripada ibadah."
Ibadah mencakup lebih dari sekedar kewajiban-kewajiban itu yang terdiri dari berbagai macam ibadah ritual. Ia mencakup pergaulan yang baik dan menunaikan hak-hak para hamba Allah, seperti; berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali silaturahmi, berbuat baik kepada anak yatim, orang miskin dan musafir. 
Ibadah mencakup dua fardhu (kewajiban) besar yang mana keduanya merupakan pagar semuanya itu dan pengendalinya yaitu;
1.Amar ma'ruf dan nahi munkar.
2.Berjihad melawan kaum kafir dan munafik di jalan Allah.

Ibadah Mencakup Semua Aspek Kehidupan

Ibadah kepada Allah mencakup kehidupan semuanya da mengatur seluruh urusannya. Dari adab (etika) makan dan minum, buang hajat, sampai masalah mendirikan Negara, politik pemerintahan, manajemen ekonomi, persoalan hubungan antar manusia dan sanksi pelanggaran, serta dasar-dasar hubungan internasional dalam kondisi damai dan perang. (QS. Al Baqarah : 180)
Jadi, sesungguhnya ibadah kepada Allah bukan terbatas pada shalat, puasa, haji, dan apa yang menyertainya dari tilawah, dzikir, do'a dan istighfar sebagaimana yang terlintas di benak kebanyakan umat islam jika mereka diseur beribadah kepada Allah, dan sebagaimana yang dikira oleh kebanyakan dari orang-orang yang taat beragama bahwa jika mereka telah menegakkan ibadah-ibadah ritual ini, mereka merasa telah menunaikan hak Allah dan telah melaksanakan kewajiban ibadah kepada Allah secara sempurna. 

Ibadah Adalah konsep Allah dan Syariat-Nya

Sesungguhnya konsekuensi ibadah manusia hanya kepada Allah adalah menundukkan segala urusannya kepada apa yang dicintai Allah SWT dan diridhoi-nya. Hal ini merupakan komitmen logis yang timbul dari watak alamiyah akad keimanan dan konsekuensinya.
a.menyerahkan kendali hidupnya kepada Allah agar dikemudikan oleh Rasul-Nya yang benar, dan ditunjukkan oleh wahyu yang ma'shum.
b.Allah berfirman : Aku memerintahkan dan melarang. Hamba mengatakan : Saya mendengan dan menaati.
c.Manusia keluar dari ketundukkan terhadap hawa nafsunya kepada ketundukan terhadap syariat Rabb-Nya. (QS (Al Ahzab : 36)

Syarat Amalan Manusia Dikategorikan Ibadah

1.Pekerjaan itu dibolehkan menurut pandangan Islam.
2.Disertai dengan niat baik, yaitu niat seorang muslim untuk menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, memenuhi kebutuhan keluarganya dan sebagainya.
3.Melaksanakan pekerjaan dengan penuh ketekunan dan secara ihsan.
4.Ber-ittizam (komitmen) dengan ketentuan Allah dalam pekerjaan itu, maka ia tidak berbuat zalim dan tidak berlaku khianat, tidak memanipulasi dan tidak melanggar (merampas) hak orang lain.
5.Pekerjaan duniawaiyahnya tidak melalaikannya dari kewajiban-kewajiban agamanya sebagaimana Allah berfirman dalm QS. An Nuur : 37)

Pengaruh Ibadah Bagi Muslim

Pertama, membentuk kehidupan seorang muslim dan kelakuannya dengan corak rabbani, dan menjadikannya berorientasi kepada Allah dalam segala sesuatu yang dilakukannya untuk kehidupan, ia melaksanakannya dengan niaty seorang abid yang khusyu dan dengan jiwa(ruh) seorang hamba yang tekun dan tenggelam dalam ibadah.
Kedua, memberikan kepada seorang muslim kesatuan orientasi dan kesatuan tujuan dalam semua aspek hidupnya.   (QS. Al Baqarah : 115)

Tujuan Ibadah

Ia (Allah ) telah memberitahukan jawaban dari pertanyaan, apa tujuan dari ibadah itu   sendiri ? Sebagaiman tuturan Nabi Sulaiman dalam QS An Naml : 40)
"Sulaiman berkata : 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiap yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan baragsiap yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya Lagi Maha Mulia."

Diantara tujuan-tujuan ibadah adalah sebagai berikut :
a.Merupakan santapan Rohani
b.Merupakan Jalan Kebebasan
c.Merupakan Ujian Allah yang diberikan kepada manusia
d.Merupakan Hak Allah atas Hamba-Nya


Daftar Pustaka
Al Qardhawi, Yusuf. Pengantar Kajian Islam. 1997. Jakarta: Pustaka Al Kautsar

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut