Selasa, 03 Desember 2013

Manusia (Insan) Sebagai Objek Kaderisasi

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia sebagai penciptaanNya yang lain di antara makhluk ciptaanNya. Menyempurnakan bentuknya dan memuliakan dirinya sebagai makhluk yang menjadi khalifah fil ardh yang tidak dibebankan kepada makhluk yang lain.

Sebagai makhluk yang termulia, makhluk yang paling indah bentuk dan kejadiannya, manusia diberikan kebebasan memilih dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.Diberikan kemampuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan dibekali dengan alat-alat pendukungnya dalam memperoleh ilmu pengetahuan tersebut, seeprti pendengaran, penglihatan, akal (pikiran), hati dan lisan.Tentunya atas segala kemualiaan dan keindahan penciptaan itulah Allah SWT memberikan amanah sebagai khalifah di bumi yang bertugas sebagai pemimpin untuk mengatur bumi berdasarkan petunjuk dan syariat Allah SWT.Bertugas pula untuk memakmurkan bumi dan mengelurakan potensi yang terkandung di dalamnya demi kesejahteraan umat manusia itu sendiri dan makhluk lainnya di bumi.

Menurut M. Saeed Sheikh (1976) di dalam A Dictionary of Muslim Philosophy, menyatakan bahwa manusia terdiri dari dua substansi.Substansi yang pertama bersifat materi (badan) dan substansi yang kedua bersifat immateri (jiwa).Hakikat manusia menurutnya adalah substansi immaterialnya. Hal ini bersumber dari pengertian al nafs  yang memiliki arti sebagai substansi yang berdiri sendiri karena dipandang bebas dari (tidak terikat pada) badan. Ketinggian dan kesempurnaan manusia diperoleh dengan memfungsikan substansi immaterial itu, dengan jalan mempertajam daya-daya yang dimilikinya (Nasution, 1988 : hal 2).

Menyikapi bahwa yang menjadi objek dari kaderisasi FoSSEI adalah manusia, maka menjadi penting untuk mendefinisikan secara benar hakikat manusia itu sendiri dan kedudukannya di hadapan Allah SWT. Mengenali secara benar dan mendalam atas hakikat dan kedudukan tersebut juga akan memudahkan kita dalam menumbuhkan dan mengembangkan kader agar setiap kader lebih menyadari hakikat penciptaannya, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT dengan beragam aktivitasnya. Berarti secara jelas kita menyepakati, bahwa muara dari apapun dan bagaimanapun pembinaan atau kaderisasi dilakukan, adalah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin giat beribadah. Sehingga, proses kaderisasi yang diimplementasikan tidak lain hanya untuk mensucikan diri secara kolektif dan tidak keluar dari syariat yang telah Allah tetapkan.

Pembahasan mengenai mahasiswa yang termasuk generasi muda di dalam sruktur masyarakat sosial suatu negara, ialah mereka (pemuda) sejak dulu hingga saat ini merupakan pilar kebangkitan utama.Ia memiliki rahasia kekuatan yang tidak dimiliki oleh generasi anak-anak maupun generasi orangtua. Oleh sebab para mahasiswa yang tidak lain adalah intelektual muda, memiliki kekhasan atas status dirinya sebagai pemuda. Ia (pemuda) mengakumulasi serangkaian dan beragam potensi untuk dapat memanifestasikan apa yang menjadi basis pemikirannya untuk diimplementasikan di dunia nyata, bagi masyarakatnya secara umum. Ia (pemuda) memiliki keimanan yang teguh, kekuatan fisik yang kuat, dan pemikiran yang matang. Sebab ia berjalan di muka bumi dengan fitrah kemanusiaannya, bekerja di dunia dengan asas keislamannya, dan berfikir dalam relung-relung pikirannya dengan tuntunan Rabbnya. Yang dengan bekal itulah, ia mampu menjadi pelopor kebangkitan umat di tengah keterpurukannya. Dan alangkah bahagianya jika para mahasiswa yang juga sebagai generasi muda, termasuk ke dalam golongan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi ayat 13, “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

Al Ghazali di dalam Mi’raj Al Salikin, menggambarkan manusia terdiri dari al nafs, al ruh, dan al jism,  yang ketiganya menjadikan manusia khas di antara makhluk ciptaan Allah lainnya. Al ruh yang dimaksud Al Ghazali adalah  panas alami (al hararat al ghaziriyyat) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf. Al jism, adalah yang terdiri dari unsure-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak dan merupakan bagian dari manusia yang paling tidak sempurna. Sedangkan, al nafs  adalah substansi yang berdiri sendiri, dan tidak bertempat.

Maka, dengan demikian arah dari pembahasan objek kaderisasi, yakni mahasiswa (insan), harus menumbuhkembangkan dan merawat ketiga komponen tersebut tanpa terkecuali.Karena, optimalnya manusia dalam beribadah kepada Allah SWT, sangat dipengaruhi oleh masing-masing komponen tersebut dan terdapat kesalingtergantungan antara ketiganya. Meskipun dalam proses penyempurnaan diri, terdapat beberapa pendapat bahwa ada satu komponen manusia yang paling dominan di antara komponen lainnya. Seperti pernyataan J Spencer Tirmingham (1973), dalam The Sufi Orders In Islam, bahwa akal bukan merupakan daya saing yang terpenting karena usaha penyempurnaan diri di dalamnya bukanlah proses intelektual, melainkan penajaman daya-daya intuisi dan emosi.

Fokus pembahasan ini bukanlah pada bagian-bagian yang para ahlipun masih berselisih pendapat, namun pengutaraan sedikit mendalam mengenai manusia yang saat ini sedang dibahas sebagai objek kaderisasi adalah urgensinya menjadikan ketika komponen manusia tersebut sebagai objek rinci yang harus dirawat dan dikembangkan dalam proses kaderisasi. Agar pada setiap komponen tersebut juga terjaga dari penyimpangan yang telah digariskan Allah SWT, agar pula ketiga komponen tersebut membawa diri manusianya kepada hakikat dirinya sebagai makhluk yang mulia di hadapan Allah SWT. Sehingga, pada setiap fase-fase kaderisasi yang dilakukan, tidak lain hanya untuk mengarahkan atau menjadi trigger (pemicu) untuk setiap kader dapat lebih mengenali dirinya sebagai al insan  (hakikat kemanusaiannya) yang diciptakan Allah. Sebab, Al Ghazali mengatakan bahwa pengenalan hakikat diri adalah dasar untuk mengenal Tuhan.
oleh : Erwin Setiawan & Tim Departemen Nasional PER FoSSEI  2011-2012
dikutip dari "Buku Pedoman Kaderisasi FoSSEI"

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut