Kerangka Konseptual Akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi..

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?

Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba.

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri

sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin.

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money).

Rabu, 03 September 2014

Jangan Cabut Subsidi BBM !!

Terkait Subsidi BBM, pemerintah memprediksi bahwa subsidi akan mengalami pembekakan di akhir tahun dan melewati pagu yang dipatok dalam APBNP 2014 yakni sebesar Rp. 246,49 Trilyun apabila tidak ada kebijakan untuk melakukan penyesuaian harga BBM. Laporan realisasi anggaran Kementerian Keuangan menunjukkan, di Triwulan kedua 2014, realisasi penyaluran subsidi BBM mencapai Rp 100,7 triliun. Angka itu melonjak tajam dibanding realisasi pada periode triwulan I 2014 yang hanya Rp 20,0 triliun. Sehingga realisasi subsidi untuk semester pertama 2014 mencapai Rp. 120,7 Trilyun, atau sudah mencapai setengah dari pagu anggaran subsisi BBM menurut APBNP 2014. Hal ini dikhawatirkan karena biasanya pada semester kedua konsumsi BBM subisdi selalu lebih tinggi dari paro pertama tiap tahunnya. Pemerintahan SBY menjelang berkahirnya ini sudah melakukan langkah-langkah penghematan, mendisiplinkan alokasi subsidi agar tidak salah penyaluran dan dimaksudkan untuk menghindari membengkaknya subsidi BBM agar tidak melampaui kuota 46 juta kiloliter yang sudah ditetapkan dalam APBN-P 2014. Namun apakah hal ini akan efektif mencegah bengkaknya subsidi BBM yg melampaui pagu anggaran, belum dapat dilihat efektifitasnya.  Dan nampaknya opsi menaikkan harga BBM bersubsidi merupakan opsi yang dianggap pemerintah paling realistis, sehingga memaksa pemerintahan baru untuk mengeluarkan kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi, yang tentunya kebijakan ini bukanlah kebijakan yang populis karena akan berdampak bagi kesejahteraan rakyat yang menurun. Yang boleh jadi akan terjadi penambahan orang miskin baru, terjadi inflasi pada barang-barang kebutuhan pokok dan transportasi.

Kita perlu mengingat dan memahami kembali bahwa subsidi BBM merupakan cerminan daripada pemerintah untuk memberikan perlindungan hukum dan moral negara secara sekaligus kepada rakyat. Oleh sebab subsidi melindungi rakyat Indonesia dari para spekulan dan produsen minyak, yang dengan sangat mudahnya merekayasa fluktuasi harga minyak dunia. Memang harga yang diserahkan kepada pasar merupakan cerminan dari interaksi supply dan demand yang pada akhirnya akan terjadi yang dinamakan harga keseimbangan. Namun hal demikian dapat bisa diterima apabila keseimbangan harga tercipta tanpa adanya distorsi terhadap pasar. Artinya tidak ada para spekulan yang bermaksud mengendalikan harga pada titik keseimbangan tertentu untuk kepentingannya atau segelintir diantara mereka, yang pada saat yang sama merugikan pelaku pasar secara umum. 

Mari mengingat, bahwa Muhammad Hatta, founding fathers Negara Indonesia yang juga dikenal sebagai Tokoh Ekonomi Indonesia pernah menyatakan bahwa ruh dari Pasal 33 (2) dan (3) UUD 1945 adalah Pemerintah membangun dari atas, melaksanakan yang besar-besar seperti membangun tenaga listrik, persediaan air minum, menyelenggarakan berbagai macam produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Apa yang disebut dalam bahasa Inggris "public utilities" diusahakan oleh Pemerintah. “Milik perusahaan besar tersebut sebaik-baiknya di tangan Pemerintah.” Masih ingat perihal Putusan Perkara Nomor 002/PUU-I/2003 Oleh Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai UU Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas). Di Dalam putusan tersebut, MK membatalkan secara penuh Pasal 28 (2) dan (3), tidak lain oleh karena pasal ini berkaitan dengan penyerahan harga BBM dan Gas Bumi kepada harga pasar. Ini setidaknya cukup bagi Negara untuk tidak ada alas an apapun untuk mencabut subsidi BBM yang merupakan hak konstitusional rakyat Indonesia yang harus dilindungi. Siapapun ia, baik kaya maupun yang miskin. Karena tidak ada jamina bahwa yang kini kaya esok akan tetap kaya, begitupun sebaliknya. 

Kenaikan harga BBM bersubsidi sudah berulang kali dinaikkan setidaknya pada pemerintahan Era SBY, yang diprediksi akan pula dilakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi oleh pemerintahan Jokowi – JK. Sudah terang benderang bahwa subsidi BBM merupakan hak konstitusional warga Negara yang harus dilindungi oleh pemerintah dan DPR. Janganlah absurd terkait subsidi yang melindungi hajat hidup rakyat banyak ini. Kenaikan BBM sebelum-sebelumnya sudah mengindikasikan bahwa Pemerintah secara gradual akan menyesuaikan harga BBM menjadi harga keekonomian atau harga pasar. Atas dasar apa pemerintah melakukan hal tersebut? Subsidi yang membebani APBN? Ya dalih klasik yang selalu diopinikan berulang-ulang kepada kita rakyat Indonesia. Saya khawatir opini atau isu yang berulang-ulang disampaikan sebagai justifikasi untuk mengurangi atau bahkan menghapus subsidi BBM, pada akhirnya akan menemukan momentum bahwa memang tidak ada jalan lain selain menghapus subsidi BBM, sebagaimana tahap-tahap yang sejak awal memang direncanakan. Ini pun diprediksi akan terjadi bahkan di sektor energy lainnya, seperti listrik dan gas (LPG). Lagi-lagi harusnya kita bertanya, dasar apa yang kemudian menjadi justifikasi untuk mencabut subsidi sehingga mengesampingkan bahkan menafikan hak konstitusional warga Negara yang sudah dijamin di dalam UUD sebagai konstitusi Negara. Sudah bukan hal yang rahasia, bahwa Negara kita Indonesia sedikit demi sedikit dikalahkan oleh kedaulatan korporasi yang hanya akan menguntungkan segelintir orang diantara mereka. Benar-benar aneh, kedaulatan Negara kalah dengan kedaulatan korporasi.

Sumber Foto : ww.lensaindonesia.com 

Share:

Jumat, 22 Agustus 2014

Tantangan Ekonomi Pemerintahan Baru

Setelah rakyat Indonesia menanti-nanti seperti apa akhir dari proses Pemilihan  Presiden 2014, setelah adanya gugatan pasangan Prabowo-Hatta ke Mahkamah Konstitusi, kemarin, Kamis 21 Agustus 2014 tepat pukul 20.44 Majelis Hakim Konstitusi menolak gugatan Prabowo-Hatta untuk seluruhnya. Mk menilai bahwa dalil-dalil gugatan yang diajukan Prabowo-Hatta tidak terbukti, sehingga putusan penolakan seluruh gugatan tersebut, praktis memuluskan pasangan Jokowi- Jusuf Kalla ke Istana. Maka secara resmi Joko Widodo dan Jusuf Kalla akan memimpin pemerintahan baru selama 5 tahun ke depan.  

Belum lagi dilantik, pemerintahan baru ini sudah dihadapkan pada situasi ekonomi yang trennya cenderung mengkhawatirkan. Tidak ada jeda untuk sekedar berleha-leha bagi Jokowi-Jk selepas resmi menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode selanjutnya. Segudang tugas sudah menanti untuk diselesaikan dan perlu segera dikeluarkan kebijakan yang secara kompehensif menjaga perekonomian agar tetap stabil dan kondusif bagi pelaku pasar. Tentunya kesejahteraan rakyatlah pada akhirnya yng harus dikedepankan dan terus senantiasa diprioritaskan oleh pemerintahan baru sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar.

Adapun tantangan-tantangan ekonomi yang gambling mengemuka adalah pertama, bagaimana menjalankan sejumlah program yang dicanangkan pada visi misi Jokowi-JK yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat ditengah perekonomian domestik dan global yang tidak menentu. Di dalam negeri, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) per 8  Mei 2014 lalu pertumbuhan ekonomi pada kwartal ke 2 sempat mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan pada kwartal pertama yang capai 5,21%. Hal ini oleh beberapa pengamat disebabkan oleh investasi yang melambat oleh karena berkaitan adanya hajat demokrasi di dalam negeri yakni pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Hal ini berpengaruh pada khawatirnya investor pada situasi yang dianggap penuh ketidakpastian. Dengan demikian, maka pemerintahan baru terpilih harus memastikan dan mengawal situasi dalam negeri kepadq situasi yang kembali penuh kepastian dan kondusif. Melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik ini tentunya secara mikro merupakan cerminan terjadi pula perlambatan kesejahteraan rakyat dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perbaikan ekonomi rakyat. 

Perekonomian global pun diprediksi mengalami penurunan pertumbuhan selepas Lembaga Moneter Internasional, IMF, diketahui telah menurunkan proyeksi pertumbuhan global di tahun 2014. Hal ini dipicu prediksi lemahnya petumbuhan ekonomi Negara-negara maju dan sebagian Negara berkembang termasuk Indonesia. Laporan IMF dalam tajuk World Economic Outlook menyatakan, "Pertumbuhan global dapat melemah dalam jangka panjang akibat rendahnya pergerakan ekonomi di negara-negara maju meski memiliki suku bunga yang rendah. Terlebih lagi, sejumlah kebijakan telah digulirkan untuk memulihkan perekonomiannya." Selain itu per 2015 yang sudah didepan mata, Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tentunya selain peluang menguntungkan bagi Negara terdapat pula peluang kehancuran apabila kesiapan pasar dalam negeri tidak dipastikan hingga akhir tahun ini. 

Kedua, di sektor energi Pemerintahan Baru dihadapkan pada beban subsidi yang pada kwartal kedua ini kompak melonjak tajam. Subsidi BBM diprediksi akan mengalami pembekakan di akhir tahun dan melewati pagu yang dipatok dalam APBNP 2014 yakni sebesar Rp. 246,49 Trilyun apabila tidak ada kebijakan untuk melakukan penyesuaian harga BBM. Laporan realisasi anggaran Kementerian Keuangan menunjukkan, di Triwulan kedua 2014, realisasi penyaluran subsidi BBM mencapai Rp 100,7 triliun. Angka itu melonjak tajam dibanding realisasi pada periode triwulan I 2014 yang hanya Rp 20,0 triliun. Sehingga realisasi subsidi untuk semester pertama 2014 mencapai Rp. 120,7 Trilyun, atau sudah mencapai setengah dari pagu anggaran subsisi BBM menurut APBNP 2014. Hal ini dikhawatirkan karena biasanya pada semester kedua konsumsi BBM subisdi selalu lebih tinggi dari paro pertama tiap tahunnya. Pemerintahan SBY menjelang berkahirnya ini sudah melakukan langkah-langkah penghematan, mendisiplinkan subsidi agar tidak salah penyaluran dan dimaksudkan untuk menghindari membengkaknya subsidi BBM agar tidak melampaui kuota 46 juta kiloliter yang sudah ditetapkan dalam APBNP 2014. Namun apakah hal ini akan efektif mencegah bengkaknya subsidi BBM yg melampaui pagu anggaran, belum dapat dilihat efektifitasnya. Dan nampaknya opsi menaikkan harga BBM bersubsidi tidak bisa dihindari, sehingga memaksa pemerintahan baru untuk mengeluarkan kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi, yang tentunya kebijakan ini bukanlah kebijakan yang populis karena akan berdampak bagi kesejahteraan rakyat. Yang boleh jadi akan terjadi penambahan orang miskin baru, ketika terjadi inflasi pada barang-barang pokok dan transportasi yang sangat tinggi. 

Sementara itu, terkait subsidi listrik, realisasi subsidi periode triwulan kedua mencapai Rp 29 triliun, melonjak dibanding realisasi periode triwulan pertama  2014 yang sebesar Rp 16,6 triliun. Dengan demikian total realisasi subsidi listrik periode Januari - Juni 2014 mencapai Rp 45,6 triliun. Artinya subsidi listrik untuk semester pertama tahun ini telah mencapai 43,9% dari pagu anggaran dalam APBNP 2014 yang besarannya Rp. 103,81 Trilyun. Maka, sepanjang semester I 2014 total subsidi energi sudah mencapai Rp 166,3 triliun atau 47,4 persen dari pagu anggaran Rp 350,31 triliun. Tentu ini tantangan yang sangat tidak bisa dihindari mengingat hal ini akan dihadapi pada setidaknya 100 hari pertama pemerintahan Jokowi-JK. 

Ketiga, di sektor perpajakan pemerintahan baru pun juga dihadapkan pada sulitnya merealisasikan penerimaan pajak tahun ini. Berdasarkan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak sebesar Rp548,07 triliun sepanjang periode 1 Januari - 8 Agustus 2014. Artinya baru direalisasikan sekitar 51,11 persen dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun ini sebesar Rp1.072,38 triliun. Sulitnya merealisasikan penerimaan pajak ini tentu akan berdampak pada potensi defisit anggaran yang semakin besar pasti akan terjadi dan menjadi tanggungan pemerintahan baru. 

Tentu masih banyak lagi sejumlah tantangan-tangan di bidang ekonomi bagi pemerintahan Jokowi-JK yang secara resmi akan dilantik Oktober 2014 nanti. Beberapa tantangan di atas hanyalah sebagian dari tantangan pelik yang perlu dikaji dan diatasi secara cermat. Tantangan-tantangan ini harusnya pula menjadi pertimnbangan penting bagi pemilihan kabinet baru yang berasal dari kalangan professional yang dengan kata lain tidak didasarkan pada kepentingan bagi-bagi kursi diantara para pendukungnya. 

Share:

Kamis, 20 Maret 2014

Bank Mandiri : Waspadai Penipuan Bermodus Phishing

Apa itu Phishing? 

Phishing, adalah tindakan memperoleh informasi pribadi seperti User ID, PIN, nomor rekening bank, nomor kartu kredit Anda secara tidak sah dengan tujuan penipuan atau kejahatan. 

Bagaimana phishing dilakukan? 
Teknik Phishing yang sering digunakan adalah sebagai berikut: 
-Penggunaan alamat e-mail palsu dan grafik untuk menyesatkan Nasabah dengan menggunakan logo resmi perusahaan sehingga Nasabah terpancing menerima keabsahan e-mail atau website.

-Membuat situs palsu yang sama persis dengan situs resmi atau mengirimkan e-mail yang berisikan link ke situs palsu tersebut. 

-Membuat hyperlink ke website palsu atau menyediakan form isian yang ditempelkan pada e-mail yang dikirim. 
Pemalsuan ini dilakukan untuk memancing korban menyerahkan data pribadi, seperti; password, PIN dan nomor kartu kredit.

Mencegah phishing 
-Selalu ketik URL yang lengkap untuk alamat website resmi bank, yaitu: www.bankmandiri.co.id pada menu bar di browser Anda. 

-Jangan pernah memberikan User ID atau PIN Anda pada orang lain bahkan staf Bank Mandiri sekalipun. Bank Mandiri tidak pernah menanyakan nomor PIN untuk alasan apapun.

-Jangan terpancing untuk mengikuti anjuran melakukan transfer ke rekening tertentu, dengan tujuan mendapatkan hadiah undian. 

-Jika Anda mendapatkan e-mail yang berisi pemberitahuan bahwa Bank Mandiri sedang meng-upgrade system dan meminta Anda melakukan konfirmasi dengan data-data pribadi, jangan reply atau meng-klik link yang ada pada e-mail tersebut. Bank Mandiri menerapkan kebijakan untuk tidak meminta pemilik rekening/Nasabah meng-update data melalui sarana e-mail. 

-Jika anda sudah terlanjur melakukan reply, segera hubungi mandiri call 14000 untuk melakukan penghapusan fasilitas internet banking dan silahkan mendaftar ulang melalui mandiri ATM atau cabang yang terdekat. 

Sumber : Bank Mandiri (info@marketing.bankmandiri.co.id)
Sumber foto : http://beamcharged.com/waspadai-penipuan-bermodus-phishing-info-dari-bank-mandiri
Share:

Kamis, 06 Februari 2014

Ekonomi Syariah | Dalam Platform PKS

Ekonomi Syariah harus mendapat peran yang signifikan dalam proses pembangunan ekonomi nasional. Membangun sistem dan institusi zakat dan wakaf yang kokoh sebagai bagian integral dari sistem fiskal nasional.

PK Sejahtera memandang bahwa Ekonomi Syariah mampu memberikan kontribusi yang strategis dalam memberikan solusi permasalahan ekonomi nasional. Karena itu PK Sejahtera memandang bahwa Ekonomi Syariah harus mendapat peran yang signifikan dalam proses pembangunan ekonomi nasional.

a.    Membangun sistem dan institusi zakat dan wakaf yang kokoh Perlu sebuah terobosan dalam mengatasi terbatasnya sumber– sumber keuangan negara yang diperoleh secara konvensional, dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Zakat dan Wakaf merupakan solusi dari mengatasi masalah tersebut, oleh sebab itu, membangun sistim dan institusi zakat dan wakaf yang kokoh adalah sebuah keharusan. Kebijakan disini meliputi: (i) Memperkuat peraturan dan perundang–undangan mengenai Zakat dan Wakaf agar keberadaan Zakat dan Wakaf menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional ; (ii) Menjadikan Zakat dan Wakaf sebagai salah satu sistim fiskal dan keuangan negara yang utama, sehingga menjadi kewajiban bagi setiap warga negara yang memenuhi ketentuannya ; (iii) Memperkokoh institusi Zakat dan Wakaf yang profesional, transparan, mandiri dan integratif dengan sistim keuangan lainnya.

b.    Mengembangkan sistem dan institusi finansial syariah yang stabil Peran dari sistem dan institusi keuangan syariah sangat strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional ke depan. Kebijakan dalam hal ini meliputi: (i) Merealisasikan payung hukum bagi sistem dan institusi keuangan syariah yang komprehensif ; (ii) Membangun infrastruktur sistem keuangan syariah yang kuat dan mandiri; (iii) memperbesar pagsa pasar institusi keuangan syariah secara nasional.

c.     Merintis usaha pembentukan Blok Perdagangan Negara-Negara Islam. Kurangnya kerjasama ekonomi dalam bidang perdagangan antar sesama negeri Islam selama ini mengakibatkan lemahnya nilai tawar di mata internasional. Indonesia harus menjadi pionir dalam merintis usaha pembentukan blok perdagangan negara– negara Islam. Kebijakan disini meliputi: (i) Memainkan peran aktif dalam organisasi negara–negara Islam (OKI, IDB, dll); (ii) Mengalihkan aktivitas ekspor dan impor untuk beberapa komoditas tertentu kepada negeri–negeri Islam; (iii) Menggunakan mata uang tunggal (single currency), dinar emas (gold dinar) dalam melakukan transaksi perdagangan internasional, dengan negara–negara Islam.

d.    Mengembangkan pembiayaan luar negeri berbasis skim syariah Pembiayaan luar negeri berbasis skim syariah adalah salah satu solusi dalam mengatasi ketergantungan terhadap skim konvensional yang berbasis kapitalis selama ini. Kebijakan disini meliputi: (i) Mengalihkan sebagian besar sumber pembiayaan pembangunan (utang luar negeri) kepada lembaga–lembaga donor Islam dan negara–negara Islam; (ii) Merintis skim syariah dalam pembiayaan pembangunan yang berasal dari luar negeri terutama dari negara-negara Timur Tengah; (iii) Mengurangi penggunaan pembiayaan pembangunan yang selama ini berasal dari lembaga dan negara donor yang menggunakan skim berbasis bunga.

Untuk itu, maka PK Sejahtera:

a)    Membangun sistem dan institusi zakat dan wakaf yang kokoh sebagai bagian integral dari sistem fiskal nasional.
b)    Mengembangkan sistem dan institusi finansial syariah yang stabil dalam rangka mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan stabilitas makroekonomi.
c)       Memberi dukungan kebijakan dan kelembagaan untuk tumbuh kembangnya ekonomi dan bisnis syariah.
d)   Merintis usaha pembentukan Blok Perdagangan Negara-Negara Islam dan penggunaan mata uang dinar emas untuk transaksi komersial internasional untuk meningkatkan perdagangan luar negeri dan meminimalisir resiko nilai tukar.
e)     Mengembangkan pembiayaan luar negeri berbasis skim syariah diversifikasi dan sekaligus meminimalisir        resiko utang luar negeri.

___________
dikutip dari Buku "Falsafah Dasar Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan PK Sejahtera", 
Maret 2008

Selengkapnya pembaca dapat membacanya secara keseluruhan sebagai berikut : 


Share:

Senin, 03 Februari 2014

Alasan Dokter Negara Maju "Pelit" Memberikan Obat ke Anak

Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.
"Ha? Just wait and see?" batinku meradang.

Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,
"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!

Setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.
"Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!"

Sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.
"Just drink a lot," katanya ringan.
"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.
"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.
Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!
"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak."
Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.
Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?"
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,"
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"
"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.
Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.
"Batuk - pilek beserta demam yang terjadi 6 - 12 bulan masih wajar.observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.
Di Belanda 'dipaksa' tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.

Aku tercenung mengingat 'pengobatan rasional'. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikitmemberi obat penurun panas, sedikit-sedikitmemberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!

Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat,dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan,penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar,cukup berduit,melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?

Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya.Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
Share:

Minggu, 05 Januari 2014

Wonderful Husband


Judul Buku             : Wonderful Husband 
                                  Menjadi Suami Disayang Istri
Penulis                       : Cahyadi Takariawan
ISBN : 978-602-1680-03-2
Penerbit                    : Era Adicitra Intermedia
Ketebalan : xxii, 314 halaman
Ukuran : 14,5 cm
Harga : Rp. 55.000,-
Tahun Terbit             : November 2013
Kota Terbit               : Surakarta

WONDERFUL HUSBAND
Oleh : Erwin Setiawan

Buku karya Cahyadi Takariawan yang sekaligus seorang konselor dan trainer di Jogja Family Center ini merupakan seri kedua dari buku best seller Wonderful Family. Buku ini diketengahkan oleh penulis kepada para pembaca, khususnya para suami, untuk senantiasa memperbaharui motivasi dan menjaga keberlangsungan pemaknaan terhadap ikatan pernikahan, terutama dengan pasangan hidupnya, yakni sang Istri. Penulis buku ini meyakini bahwa kokohnya sebuah keluarga merupakan pondasi dari kokohnya sebuah masyarakat, yang mana kekokohan bangsa dan Negara bermula dari keduanya (keluarga dan masyarakat). Buku ini secara eksplisit memang sengaja ditujukan oleh penulis bagi para suami, namun demikian dukungan dari keluarga terutama istri menjadi teramat penting, khususnya untuk membantu suami menjadi ideal, begitu pesan penulis pada bagian akhir buku ini. 

Suami yang ideal seperti apa yang dimaksud memang masih cukup rumit untuk dirincikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa terlampau banyaknya indikator atau karakter-karakter yang patut dimiliki oleh seorang suami ideal. Antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak dapat diparsialisikan. Karenanya yang dihadirkan penulis buku ini ialah 9 karakter dasar seorang suami ideal agar disayangi istri, dimana karakter-karakter tersebut membentuk karakter derivat yang lebih detil. Sembilan karakter suami ideal agar disayangi istri dimaksud diantaranya adalah seorang suami harus memimpin keluarga dengan cinta, mampu menundukkan ego, selalu berusaha membahagiakan istri, focus mengingat kebaikan istri, memahami kondisi istri, menjadi teladan dalam kebaikan, memelihara kesetiaan, selalu tampil “Young dan Fresh”, dan memberikan yang terbaik. Karakter-karakter tersebut tidak diurutkan berdasarkan urutan tertentu, baik berdasarkan prioritas maupun sifat umum dan khususnya, sehingga tidak menjadi persoalan mana yang lebih dahulu untuk dipahami, dipelajari dan diaktualisasikan. Bahwa yang menjadi focus disini ialah dihimpun dan disatukannya karakter-karakter tersebut secara keseluruhannya untuk dilekatkan pada sosok seorang suami yang ingin menjadi Wonderful Husband yang saying istri dan disayangi istri.

Kemudian yang tidak patut dinafikan ialah proses menuju ‘menjadi suami ideal’ yang perlu dipahami dan disadari bersama. Bahwa proses yang menuju suami ideal mesti dilakukan dengan konsisten serta dibalut kesabaran, agar terjaga senantiasa motivasi ‘menuju suami ideal’ di tengah beragam kendala atau hambatan selama prosesnya. Maka, tidak perlu merumitkan diri mencari suami ideal itu dimana, karena suami ideal itu ditemukan di rumah tangga yang dibentuk antara seorang elaki biasa dan seorang wanita biasa. Suami ideal yang didapatkan dari sebuah proses pernikahan sah kemudian ditindaklanjuti dengan konsistensi kedua belah pihak untuk berproses menuju kondisi ideal. 

Kebermanfaatan yang banyak atau kelebihan dari buku ini ialah mengetengahkan konten materi yang krusial dalam kehidupan keluarga. Dari segi materi atau isi yang dihadirkan penulis bersifat fundamental dan mampu men-drive para pembaca, khususnya para suami untuk memiliki kesadaran (awareness), pola pikir (mind set) dan pola laku(attitude) agar menjadi suami ideal yang didamba istri. Kelebihan lainnya ialah cukup banyak disajikannya ulasan-ulasan yang ilustratif dalam bentuk kisah-kisah nyata yang inspiratif sesuai konten, dan juga dalam bentuk dialog imaniner suami-istri yang renyah, lucu, serta padat makna, dimana hal itu menjadi sangat umum terjadi pada hubungan suami-istri. Adapun kekurangan yang patut dilengkapi agar buku ini menjadi rujukan bagi pengembangan ilmu kepribadian secara umum, perlunya karakter-karakter tersebut memiliki dasar atau landasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah agar tidak terkesan seperti sebuah tips praktis semata. 

Dapat disimpulkan bahwa buku Wonderful Husband yang merupakan lanjutan seri Wonderful Family ini merupakan sajian tematik yang secara umum mesti dipahami oleh para suami yang meyakini bahwa perlunya keluarga dijaga kekokohannya. Dimana keluarga merupakan pilar utama sebuah masyarakat, yang mana kekokohan suatu entitas masyarakat itu akan mengokohkan sebuah bangsa. Secara pribadi saya juga mengimbau kepada para pembaca, khususnya kita sebagai seorang suami, bahwa ternyata sikap-sikap seorang suami yang dianggap remeh dalam keluarga, khususnya terhadap istri, secara agregat atau dalam skala yang lebih besar mempengaruhi ketahanan suatu entitas besar bernama bangsa/Negara. Maka dengan demikian, begitu pentingnya peran sukses seorang suami dalam rumah tangga untuk menjaga keutuhan keluarganya. Oleh karena begitu pentingnya karakter-karakter apa saja yang perlu suami penuhi untuk menjadi suami yang ideal, maka begitu pentingnya pula buku Wonderful Husband Anda baca. 

Artikel ini diikutkan dalam 


Share:

Translate

Pengikut