Kerangka Konseptual Akuntansi

Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi..

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?

Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba.

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri

sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin.

Manusia Menurut Al Ghazali

Filsafat Islam dan tasawuf, pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi

Time Value of Money Dalam Konsep Pengakuan Pendapatan

Islam tidak mengenal dan tidak membenarkan konsep nilai waktu uang (time value of money).

Kamis, 17 Oktober 2019

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri


Dini hari, sepi, panggilan boarding dari petugas bandara Soekarno Hatta akhirnya terdengar juga, setelah sekitar 3 jam menanti. Saya sudah tiba di bandara sekitar pukul 22.00, padahal jadwal penerbangan dengan Garuda Indoesia sekitar pukul 01.30 dini hari atau sekitar pukul 2, saya lupa. Karena alasan khawatir kesulitan akses angkutan taksi waktu itu jika pesan tengah malam. Dari Depok, tempat saya tinggal. Maklum, angkutan online belum familiar bagi saya untuk mengakses bandara waktu itu, 2017 lalu. Sepanjang penerbangan selama sekitar 2 jam  (kalau di etiket atau boarding pass sekitar 3 jam 50 menit, karena perbedaan waktu 2 jam lebih cepat di Ternate/WIT dibanding Jakarta/WIB) tidak bisa menikmati pemandangan dari atas udara, selain karena gelap juga..wwkkwk, jam segitu masih jam biologis saya untuk tidur, kecuali bisa menikmati sesaat sebelum landing di Bandara Sultan Babullah yang dikelilingi hamparan luas laut Maluku.  

Setibanya di Bandara Sultan Babullah di Ternate pukul 07.25 WIT, bergegas kami hunting sarapan setelah itu baru kemudian menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Di Grand Majang Hotel kami menginap waktu itu. Cukup ekonomis, meski dalam hal fasilitas beberapa perlu diperbaiki, tapi bagi saya sudah cukup, karena datang jauh-jauh ke Ternate bukan untuk menikmati hotelnya, tapi alamnya dan sejarah kotanya. Beristirahat kami sekian jam, dengan waktu yang cukup untuk mengganti waktu tidur kami selama di pesawat, siang hari langsung menuju pantai Sulamadaha untuk menikmati sepoi angin dan pemandangan laut dan gunung di sekitarnya. 

Dok: Erwin, 2017. Hotel Grand Majang, Ternate

Dok: Erwin, 2017. Pantai Sulamadaha, Ternate

Lanjut kami langsung menuju Danau Tolire. Tak butuh waktu lama untuk sampai danau, hanya memakan waktu 10 menit. Ada yang cukup menarik memang dari Danau Tolire di Ternate ini. Terutama mitos-mitos yang beredar dan masyarakat meyakini mitos tersebut. Sejak dari sejarah terbentuknya danau tersebut, suasana mistik disekitarnya, hingga adanya harta karun di dasar danau. Danau Tolire sendiri merupakan danau yang berada di bawah kaki gunung api tertinggi di Maluku Utara, Gunung Gamalama. Ada kepercayaan dari masyarakat setempat bahwa terbentuknya danau Tolire (ada yang disebut Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil) adalah karena adanya hubungan cinta terlarang zaman dahulu antara seorang Ayah dengan putrinya sendiri. Konon sang Ayah pada saat itu adalah seorang pemimpin sebuah desa di dekat kaki Gunung Gamalama, yakni Desa Soela Takomi. Cinta terlarang sang ayah ini akhirnya yang sebabkan putrinya mengandung janin dari hasil hubungan badan keduanya. Peristiwa ini menjadi momok yang memalukan bagi warga Desa Soela Takomi, hingga sang ayah dan putrinya itu diusir dari desa dimana mereka tinggal. Namun saat keduanya ingin pergi, terjadi gempa yang dahsyat melanda desa hingga membuat tanah di sekitarnya retak dan air yang berada di bawahnya muncul ke permukaan sampai-sampai menenggelamkan semua penduduk desa. Nah, desa yang tenggelam inilah yang dinamakan Danau Tolire Besar, atau disebut juga Tolire Gam Jaha, yang bermakna Lubang Kampung Tenggelam. Sang anak, yang mencoba lari dari bencana di desa itu pun tidak luput dari kemarahan Yang Maha Kuasa. Amblas pula tanah yang ia sedang pijak saat itu dan menjadi sebuah danau yang lebih kecil ukurannya, Danau Tolire Kecil disebutnya, tidak jauh lokasinya dari Danau Tolire Besar. 

Tak hanya soal legenda kisah terlarang ayah dan putrinya itu, masyarakat juga dan beberapa wisatawan juga pernah melihat kemunculan buaya putih di danau. Meski hal ini saya telusuri, belum dapat dikonfirmasi secara memadai. Karena sangat mungkin, hanya seekor buaya yang tersinari cahaya matahari, sehingga memunculkan kesan buaya berwarna putih. Tradisi unik lainnya, yang juga barangkali penuh mistis adalah tradisi lempar batu yang diyakini sekuat apapun melempar batu ke danau, tidak akan sampai pada permukaan danau atau jatuh di air. Setiap traveler disana saya lihat pasti mencoba itu. Rekan-rekan yang mau mencobanya bisa mengambil batu yang ada di sekitar danau atau bisa membelinya di warung-warung pinggir danau. Mereka menjual sekitar 5 buah seharga kurang lebih Rp. 2.000 per kantongnya.

Menurut LIPI (2014), Danau Tolire terbentuk akibat adanya aktifitas vulkanik dengan tipe danau maar. Maar diketahui terjadi disebabkan oleh letusan freatomagnetik, yakni sebuah ledakan yang terjadi ketika air datang ke dalam dan berkontak dengan panas, lava atau magma. Dalam kasus Danau Tolire besar dan kecil, LIPI menganggapnya berbeda dengan danau maar lainnya, sebab Gunung Gamalama nyatanya masih aktif sampai dengan saat ini (sampai penelitian dipublikasikan). LIPI memperkirakan kejadian atau peristiwa Maar ini terjadi pada 5-7 September 1775, yang diakibatkan erupsi maar pada lokasi di Desa Soela Takomi. Erupsi tersebut didahului dengan beberapa kali gempa besar lalu terjadi letusan uap (freatik) hingga beberapa jam sampai sebelum terbit fajar. Disertai dengan suara gemuruh dan sinar terang pada pagi hari tanggal 7. Erupsi freato-magnetik ini menyisakan sebuah kawah besar dan menyebabkan amblasnya Desa Soela Takomi yang berada di atasnya bersama penduduknya. Kawah maar ini kemudian terisi air yang saat ini masih bisa kita saksikan. Danau Tolire sendiri dikelilingi oleh tebing curam setinggi 60-80 m tanpa tepian yang landai, sehingga nampak sebagai amblesan. 

(a) Foto situasi Dana Tolire Besar dan Tolire Kecil (b) View 3 dimensi daerah sekitar Danau Tolire
sumber: LIPI, 2014

Bagi saya ini mengkonfirmasi adanya kemiripan cerita yang beredar di masyarakat tentang sejarah terbentuknya danau tolire, namun tidak pada latar belakang kisahnya. Saya belum temukan satupun dokumen yang bisa mengkonfirmasi kisah tersebut, sehingga saya meyakini bahwa sumber kisah tersebut ada karena adanya cerita legenda secara turun temurun di masyarakat desa sekitar danau dan masyarakat Ternate pada umumnya. Mungkin anda sendiri bertanya-tanya, untuk apa saya repot-repot mencari tau kebenaran kisah tersebut. hee..alasan utama bagi saya adalah, ketika menceritakan sejarah terbentuknya Danau Tolire, apakah perlu menceritakan kembali kisah cinta terlarang tersebut. Kalau benar adanya, maka saya akan menceritakan kembali di berbagai forum pada kesempatan-kesempatan saya berbicara atau mengisahkan ini kepada anak-anak sebagai bahan refleksi dan pembelajaran. Oleh sebab, bagi saya yang muslim, kisah cinta hingga terjadinya hubungan badan antara seorang ayah dan anak adalah zina dan jelas haram, termasuk dosa besar. Sehingga, kalau menyambung kisah tersebut, sangat mungkin Allah murka hingga melenyapkan tidak hanya keduanya, tapi suatu kaum diantara mereka yang boleh jadi membiarkan hal ini terjadi. Sebagaimana Allah melenyapkan kota Pompeii di Italia atau Kaum Luth di Kota Sodom yang terkenal sebagai pusat perzinahan dan homoseks. 

Disamping misteri yang melekat pada Danau Tolire di atas, bagi anda yang sedang dan akan berkunjung ke Ternate, sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin. Sesekali mungkin pada bulan-bulan penghujan, anda akan merasakan gerimis dengan intensitas sedang sehingga menurunkan suhu di sekitarnya dan pada sebagian danau akan tertutup kabut. Pemandangan yang sangat menakjubkan bagi saya. Permukaan air danau yang kehijauan menambah keindahan Danau Tolire ini untuk diabadikan dengan foto maupun video dan berswafoto ria di tebingnya. Di bawah saya unggah beberapa foto yang sempat diabadikan yang semoga mengundang hasrat rekan sekalian untuk segera berkunjung ke sana.  






Referensi: 
Pusat Penelitian Limnologi, LIPI. 2014. Karakteristik Danau Asal Vulkanik, Studi Kasus: Danau Tolire, Pulau Ternate

Share:

Sabtu, 05 Oktober 2019

Tujuan Laporan Keuangan


Dalam kerangka konseptual akuntansi poin yang paling utama adalah untuk apa laporan keuangan itu disajikan. Dalam arti perlu diketahui tujuan laporan keuangan bagi entitas atau perusahaan.
2.2.1.      Tujuan Laporan Keuangan Menurut IASB
Adapun tujuan laporan keuangan menurut IASB (2010) yang distandarkan pada IFRS adalah:
The objective of general purpose financial reporting  is to provide financial information about the reporting entity that is useful to existing and potential investors, lenders and other creditors in making decisions about providing resources to the entity.  Those decisions involve buying, selling or holding equity and debt instruments, and providing or settling loans and other forms of credit. (Paragraf OB2)

Menurut IFRS tujuan laporan keuangan ditujukan untuk memberikan informasi keuangan mengenai entitas pelapor keuangan yang berguna bagi investor maupun investor potensial, pemberi pinjaman dan kreditur lainnya dalam urusan pengambilan keputusan mengenai penyediaan sumber daya untuk entitas. Kemudian melibatkan keputusan-keputusan dalam pembelian, penjualan atau kepemilikan ekuitas dan instrumen utang dan penyediaan atau pengurangan kredit dan bentuk kredit lainnya.
                Namun, dalam hal tujuan laporan keuangan IASB (2010) dalam IFRS menyatakan pula :
However, general purpose financial reports do not and cannot provide all of the information that existing and potential investors, lenders and other creditors need.  Those users need to consider pertinent information from other sources, for example, general economic conditions and expectations, political events and political climate, and industry and company outlooks. (paragraf OB6)

            Dalam paragraf OB6 IFRS menyatakan bahwa bagaimanapun laporan keuangan untuk tujuan umum tidak dapat memberikan seluruh informasi bagi investor yang ada maupun kreditur potensial atau kreditur lainnya. Para pengguna perlu mempertimbangkan informasi terkait dari sumber yang lain, misalnya kondisi ekonomi dan trennnya, peristiwa politik, industri dan pandangan perusahaan.
            Selanjutnya dalam IFRS juga tertulis:
General purpose financial reports are not designed to show the value of a reporting entity; but they provide information to help existing and potential investors, lenders and other creditors to estimate the value of the reporting entity,” (paragraf OB7).

Bahwa laporan keuangan untuk tujuan umum tidak dirancang untuk menampilkan nilai dari suatu entitas pelaporan, tetapi memberikan informasi untuk membantu investor yang ada maupun yang potensial, pemberi pinjaman dan kreditur lainnya untuk memperkirakan nilai dari entitas pelaporan.
2.2.2.      Tujuan Laporan Keuangan Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
Tujuan laporan keuangan menurut IAI dalam KDPPLK adalah:
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. (paragraf 12).

            Serupa dengan tujuan laporan keuangan menurut IFRS, IAI dalam KDPPLK menyatakan bahwa laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun dengan demikian, laporan tidak menyediakan semua infomasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
            Lebih lanjut IAI dalam KDPPLK menyatakan:
Bahwa laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi; keputusan ini mungkin mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.(paragraf 14) 
            
Melihat penjelasan tujuan laporan keuangan menurut IAI dalam KDPPLK pada keseluruhan pernyataannya adalah sama dengan yang dijelaskan dan distandarkan oleh IASB dalam IFRS. Ini mengindikasikan bahwa karena kehadiran IASB dalam sejarahnya terlebih dahulu mengeluarkan standar akuntansi, IAI sebagai penyusun standar akuntansi di Indonesia mendasarkan PSAK pada standar yang dikeluarkan oleh IASB jika tidak disebut dengan penjiplakan standar. Meskipun saat ini produk standar akuntansi sudah berevolusi menjadi IFRS yang telah dikeluarkan oleh IASB.

_____________
Sumber: Erwin Setiawan, 2012, "Analisis Relevansi Dasar Akrual Dalam Penyajian Laporan Keuangan Syariah(Studi Pendapat Para Ahli Akuntansi Syariah)"
foto: pawoon.com
Share:

Kerangka Konseptual Akuntansi


Kerangka konseptual akuntansi adalah sebagai gambaran umum dari struktur ilmu akuntansi. Dengannya dapat dilihat di mana letak masing-masing elemen-elemen dasar akuntansi. Dari postulat akuntansi hingga standar akuntansi yang dipraktikkan pada entitas atau perusahaan. Hal ini menjadi penting untuk menilai suatu konsep dasar akuntansi mendasari konsepnya berdasarkan elemen apa dalam ilmu akuntansi.
Kerangka konseptual diistilahkan oleh Suwardjono sebagai rerangka konseptual. Sering disebut pula sebagai “seperangkat prinsip umum ( a set of broad principles), seperangkat doktrin (a body of doctrine), atau suatu struktur konsep-konsep yang terpadu atau saling (a structure or scheme of interrelated ideas),” (Suwardjono, 2005, hlm.112). Dapat disebut pula sebagai konsep-konsep terpilih yang didokumentasikan secara resmi yang melandasi ilmu akuntansi.
Menurut Financial Accounting Standard Board (2001) sebagaimana yang dikutip Suwardjono (2005), kerangka konseptual (conceptual framework) adalah:
A coherent system of interrelated objectives and fundamentals that can lead to consistent standard and that prescribes the nature, function, and limits of financial accounting and financial statements. It is expected to serve the public interest by providing structure and direction to financial accounting and reporting to facilitate the provision of evenhanded financial and related information that is useful in assisting capital and other markets to function efficiently in allocating scarce resources in the economy. (hlm 112)
               
Dapat tergambarkan bahwa kerangka konseptual dalam akuntansi merupakan objektif yang saling terhubung satu sama lain yang menciptakan suatu sistem yang koheren dapat melandasi penentuan standar akuntansi yang konsisten. Di antara fungsinya ialah di mana laporan keuangan yang disajikan dapat berfungsi sebagai informasi alokasi atas kelangkaan sumber daya di dalam ekonomi.
 Urgensi adanya kerangka konseptual dalam akuntansi ialah karena karakteristik akuntansi itu sendiri yang lebih tepat dianggap sebagai alat atau teknologi. Di antara urgensinya adalah perlunya akuntansi mempertimbangkan realitas ekonomi suatu negara di mana sistem ekonomi tertentu dianut. Selain itu pula sangat tergantung dengan kebutuhan yang menjadikannya unik tiap masing-masing negara. Seperti misalnya regulasi pemerintah suatu negara, kebijakan ekonomi dan kebijakan pajak.
Solomons (1986) yang dikutip oleh Suwardjono (2005) menyatakan A board or committee setting standards without a conceptual framework is like a legislature making laws without a constitution to protect citizens from arbitrary acts of government,” (hlm.113). Dewan akuntansi atau komite yang menyusun standar tanpa adanya kerangka konseptual seperti badan legislatif yang membuat hukum tanpa adanya konstitusi untuk memproteksi warganya dari aksi kesewenangan suatu pemerintahan.

1. Kerangka Konseptual Menurut International Financial Reporting Standards (IFRS).
Kerangka konseptual ini diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB) pada September 2010 yang menggantikan Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements. Kerangka konseptual menurut IASB dalam IFRS terdapat beberapa hal diantaranya:
a.       Objective of general purpose financial
b.      The reporting entity
c.       Qualitative characteristics of useful financial information
1.      Fundamental qualitative characteristics
Relevance, materiality, faithful representation, and applying the fundamental qualitative characteristics.
2.      Enhancing qualitative characteristic
Comparability, verifiability, timeliness, understandability, and applying the enhancing characteristics.
d.      The framework (1989): the remaining text
1.      Underlying assumption
2.      The elements of financial statements
3.      Recognition of the elements of financial statements
4.      Measurement of the elements of financial statements
5.      Concepts of capital and capital maintenance

Secara hierarkis kerangka dasar konseptual akuntansi menurut IFRS digambarkan pada gambar berikut:
Gambar 2.1: IFRS Conceptual Framework



2. Kerangka Konseptual Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
Kerangka konseptual ini diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Struktur kerangka konseptual dalam PSAK terdiri dari:
a.       Tujuan Laporan Keuangan
b.      Asumsi Dasar
Terdiri dari dasar akrual dan kelangsungan usaha.
c.       Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Dapat dipahami, relevan, materialitas, keandalan, penyajian jujur, substansi mengungguli bentuk, netralitas, pertimbangan sehat, kelengkapan, dapat dibandingkan, kendala informasi yang relevan dan andal, tepat waktu, keseimbangan antara biaya dan manfaat, keseimbangan diantara karakteristik kualitatif, penyajian wajar.
d.      Unsur Laporan Keuangan
e.       Pengakuan Unsur Laporan Keuangan
f.        Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
g.      Konsep Modal dan Pemeliharaan Modal
Dalam kerangka konseptual menurut IASB dalam IFRS dengan IAI dalam PSAK terdapat persamaan yang sangat signifikan. Di mana dilihat dari susunan kerangka konseptual diantara keduanya tersusun sama. Dengan demikian, IAI dalam hal ini mengadopsi kerangka konseptual yang diterbitkan oleh IASB dan dijadikan secara resmi sebagai pedoman dasar standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Berarti secara eksplisit, asumsi dasar dalam akuntansi menurut PSAK dan IFRS tersebut terletak pada konsep yang cukup mendasar yang merupakan turunan (derivasi) dari postulat akuntansi berkaitan dengan informasi keuangan yang berguna bagi pengambil keputusan. Dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu beberapa postulat akuntansi yang berkaitan dengan tujuan laporan keuangan dalam dalam perspektif ilmu akuntansi. Agar bisa dinilai atas dasar postulat mana dasar akrual tersebut muncul sebagai konsep dasar ilmu akuntansi.

_____________

Sumber: Erwin Setiawan, 2012, "Analisis Relevansi Dasar Akrual Dalam Penyajian Laporan Keuangan Syariah(Studi Pendapat Para Ahli Akuntansi Syariah)"
foto: kumparan.com 
Share:

Sabtu, 21 September 2019

Setelah Nonton "Hayya" Lalu Apa?


Hasil gambar untuk film hayya

Pertanyaan itu sengaja saya muat sebagai judul. Karena pertanyaan itu pulalah yang muncul persis setelah keluar studio 2 Cinema XXI salah satu mall di Bogor. Film yang merupakan sekuel dari The Power of Love garapan Jastis Arimba ini berhasil bikin saya nambah beban pikiran, padahal beban berat badan aja udah ngga sanggup ditahan :D. 

Keluar studio perasaan bercampur-campur, tentu karena pengaruh ragam adegan yang diperankan para pemeran film, tidak terkecuali peran jenaka Ricis yang juga warnai film ini menjadi tidak melulu dalam suasana tegang dan sedih. Saya mau keluar dari perlu tidaknya mengulas bagus tidak film ini, karena bukan preferensi saya. Sebagai sufi (suka film) tentu saya ada beberapa part yang menurut saya mungkin bisa lebih baik, tapi saya anggap minor karena tidak lantas jadi "merusak" keseluruhan film yang utuh sampai-sampai pesan yang diharapkan ditangkap penonton menjadi nihil. Tidak, saya sebagai penonton menangkap betul pesannya apa. 

Sebagai penonoton, menit per menit saya ikuti dan berusaha fokus pada peran Hayya. Ini bocoran dikit ya..he, scene yang paling membekas bagi saya adalah sosok Hayya yang dalam film ini sangat minim sekali mengeluarkan suara apalagi bicara. Hanya sesekali berbicara saat di camp, menangis dan menyanyi. Tapi melihat gestur gadis kecil ini setidak-tidaknya kita menangkap berkecamuknya perasaan di dalam dadanya. Semakin sakit perasaannya, maka semakin tersengal nafasnya. Saya konsen sekali bahwa diusianya, adalah saat-saat dimana sangat membutuhkan pendampingan dan bimbingan dari kedua orangtuanya, abi dan uminya. Kehadiran Abi yang semestinya menjadi sosok idola dan pahlawan baginya, serta sosok umi yang memberikan kasih sayang yang banyak dalam mendampingi tumbuh kembang menjadi dewasa. Tapi nyatanya tidak demikian. Ia harus lewati hidup di usianya berbeda dari sejawatnya dimana-mana, termasuk disini, di Indonesia. Saya tidak punya gambaran definitif seperti apa perasaannya, karena memori bawah sadar saya tidak pernah menyimpan dan merasakan hidup tumbuh dewasa tanpa pendampingan dari kedua orangtua. Pada saat scene Hayya lari dari penjagaan pengasuhnya, Ricis, lalu pergi ke sebuah taman dan melihat keluarga yang lengkap ayah ibu dan anaknya sedang suka cita bercengkrama, itu adalah situasi tidak terperi yang akan ia hadapi sepanjang hidupnya. Hayya hanya bisa memandang dengan perasaan iri bercampur sedih, hingga pecahlah tangisnya. Hayya memang tokoh fiksi, yang entah alur cerita dalam film soal pelariannya dari tanah Palestina ke Indonesia pernah terjadi atau tidak, saya tidak tau. Tapi sosok "Hayya" sesungguhnya di tanah Palestina sana, ada dan banyak. Dalam posisi yang sama, sebagai korban perang dan sebagai yatim piatu sekaligus. Tanpa pernah tau betul sebab sesungguhnya apa, di tengah kompleksnyanya sejarah perselisihan perebutan kota suci Yerusalem bagi tiga agama Abrahamik, meminjam istilah Simon Sebag Montefiore, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. 

Sebagaimana pembuat dan mereka yang terlibat dalam proses produksi film ini, saya yakin pesan yang hendak mereka sampaikan ialah agar penonton khususnya dan publik umumnya, adalah agar terus merawat ingatan dan perhatian terhadap konflik Palestina, terutama kepada kelompok korban yang paling rentan, yakni anak-anak. Seperti kita ketahui, dalam reportnya UNICEF November 2018 lalu, tercatat bahwa 2,3 juta jiwa dari Total 4,8 juta jiwa populasi rakyat Palestina adalah anak-anak, yang artinya hampir capai 48% dari total populasi. 1,3 juta jiwa berada di Tebi Barat (West Bank) dan 1 juta jiwa lainnya berada di Jalur Gaza. Di Tengah serangan agresi militer bertubi-tubi itu, rata-rata angka kematian bayi rentang usia 0-11 bulan adalah 18 per 1000 kelahiran hidup. Kemudian, 11 per 1000 untuk usia bayi baru lahir rentang usia 0-28 hari, 22 jiwa per 1000 untuk usia anak dibawah 5 tahun. Data PBB lainnya (2018) menyebutkan 20.000-30.000 anak Palestina berstatus yatim, yang artinya sangat membutuhkan penghidupan dan pendampingan dari orangtua asuh sebagai pengganti orangtuanya, meng-healing trauma yang mereka alami, terlebih mereka kini sebagian besar hidup di camp-camp pengungsian, sebab rumahnya telah hancur akibat agresi Zionis. Belum lagi isu lainnya, kesehatan anak seperti 1 dari 4 anak dibawah usia 5 tahun menderita anemia (21,5% di West Bank, 30,7% di Gaza), kekurangan vitamin, hingga hanya 40% bayi yang baru lahir telah mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan. 

Saya sebenarnya tidak perlu-perlu amat sajikan data di atas, karena kesadaran bersama untuk peduli terhadap rakyat Palestina saat ini sudah menjadi isu publik dan negara sudah berkomitmen menjadi bagian dari perjuangan rakyat Palestina merebut kembali hak kemerdekaannya. Oleh sebab data itu berseliweran dimana-mana, accessible dan terbuka dari berbagai lembaga kemanusiaan dan PBB. Tapi menjadi tidak bermakna data-data itu, kalau sebatas tau lalu dikutip ulang di postingan media sosial kita, dan berakhir menjadi arsip. Yang mana tahun-tahun berikutnya, kita akan melihat rilis data yang serupa dari sumber yang sama, dan kita melakukan hal yang sama pula, baca, tau, posting ulang dan arsip. Begitu terus berulang-ulang. Yang sangat berbahaya, apabila semakin kesini perlahan kita seolah mulai menikmati konflik ini. Apa sebab? Sebab, sering kita sebatas menjadikannya peristiwa yang menjadi bahan yang bisa dimuat dalam berita, dieksploitasi untuk menggalang dana dan dijadikannya ramai-ramai sekedar tontonan. Syukur-syukur semoga tidak sampai sebagai hiburan. Terlalu.   
   
Saya coba urai dan jawab judul tulisan yang saya buat ini. Disamping pertanyaan krusial juga tentang apakah Palestina akan merdeka pada akhirnya, di tengah latar belakang sejarah "klaim-klaim" tiga agama dalam upaya perebutan Haram al Syarief. Seperti kita ketahui, bahwa 1000 tahun Yerusalem secara eksklusif ada dalam sejarah Yahudi, 400 tahun bagi Kristen dan 1.300 tahun bagi Islam. Saya agaknya yakin, bahwa tanah Palestina adalah medan peperangan abadi hingga hari akhir, oleh sebab sejarawan Simon Sebag Montefiore dalam epilog bukunya, Jerusalem; The Biography, juga mengkonfirmasi hal yang sama, bahwa tak satupun dari ketiga agama itu pernah mendapatkan Yerusalem tanpa pedang, mangonelatau howitzer2. Artinya, memang begitulah sejarahnya. Khususnya bagi saya sebagai muslim membaca sejarah penaklukan Islam di Yerusalem sejak era Khalifah Umar, perang Salib oleh Shalahuddin Al Ayyubi(Saladin bagi istilah lain), hingga gerakan perlawanan sekarang, Intifada I dan II oleh pemuda-pemuda Palestina. Tidak berlebihan bagi saya menganggap bahwa Yerusalem adalah hiposentrum di bumi yang menyebabkan "episentrum" di seluruh permukaan bumi. Menjalar ke seluruh sudut-sudut kota dunia. Mengguncang jiwa-jiwa di belahan bumi manapun yang rindu "berintim-intim" dengan Tuhan(dalam definisinya masing-masing). Bagi yang muslim itu adalah tanah suci, bagi yang lain itu juga adalah tanah yang dijanjikan bahkan kampung halaman. Saya belum cukup pengetahuan apakah perlu tanah ini menjadi model wilayah bagi setidaknya ketiga agama, mencapai resolusi atas konflik terestrial untuk hidup bersama penuh damai berdampingan berbagi tanah dan blok serta saling bertoleransi. Pada saat yang sama Saya juga juga belum cukup pengetahuan apakah perlu konflik ini diakhiri, sebab beberapa keterangan menyatakan bahwa medan peperangan ini memang sengaja diciptakan Tuhan, sebagai ujian kemanusiaan, sehingga biar Tuhan sendiri yang akhiri dengan caranya sendiri. Lalu apa? Ya, saya coba membatasi diri sebatas menjawab judul tulisan saya ini. Bahwa, saya mau, semoga juga rekan pembaca sekalian, untuk mengakhiri adanya korban-korban baru di kelompok anak-anak akibat peperangan panjang ini, dengan cara-cara dan kemampuan kita sebagai manusia yang punya nurani kemanusiaan. Biarlah mereka, yang dewasa, menentukan nasibnya sendiri, untuk keyakinan yang sudah mereka yakini. 

Selamat menonton, dan mari peduli-bantu anak-anak Palestina untuk masa depan mereka yang masih panjang. Agar setiap saat mereka keluar dipagi hari dari bilik-bilik dan kemah pengungsiannya, bisa tetap bermandikan cahaya mentari hingga menjemput masa keemasaannya menjadi manusia sejati. Seperti kita, disini.    

Sekian     


1 dari bahasa Latin manganon, yang berarti "mesin peperangan") adalah sejenis pelontar atau mesin kepung pada Abad Pertengahan yang digunakan untuk melontarkan batu untuk menghancurkan dinding atau bangunan (Wikipedia)
2 adalah salah satu bentuk artileri medan. Nama Howitzer berasal dari kata dalam bahasa Ceko houfnice (diturunkan dari bahasa Jerman: haubitze dan bahasa Belanda:houwitser), meriam dari abad ke-15 yang digunakan oleh suku Hussites dalam perang Hussite. (Wikipedia)


Share:

Translate

Pengikut