Kamis, 17 Oktober 2019

Menikmati Danau Tolire di Ternate Yang Penuh Misteri


Dini hari, sepi, panggilan boarding dari petugas bandara Soekarno Hatta akhirnya terdengar juga, setelah sekitar 3 jam menanti. Saya sudah tiba di bandara sekitar pukul 22.00, padahal jadwal penerbangan dengan Garuda Indoesia sekitar pukul 01.30 dini hari atau sekitar pukul 2, saya lupa. Karena alasan khawatir kesulitan akses angkutan taksi waktu itu jika pesan tengah malam. Dari Depok, tempat saya tinggal. Maklum, angkutan online belum familiar bagi saya untuk mengakses bandara waktu itu, 2017 lalu. Sepanjang penerbangan selama sekitar 2 jam  (kalau di etiket atau boarding pass sekitar 3 jam 50 menit, karena perbedaan waktu 2 jam lebih cepat di Ternate/WIT dibanding Jakarta/WIB) tidak bisa menikmati pemandangan dari atas udara, selain karena gelap juga..wwkkwk, jam segitu masih jam biologis saya untuk tidur, kecuali bisa menikmati sesaat sebelum landing di Bandara Sultan Babullah yang dikelilingi hamparan luas laut Maluku.  

Setibanya di Bandara Sultan Babullah di Ternate pukul 07.25 WIT, bergegas kami hunting sarapan setelah itu baru kemudian menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Di Grand Majang Hotel kami menginap waktu itu. Cukup ekonomis, meski dalam hal fasilitas beberapa perlu diperbaiki, tapi bagi saya sudah cukup, karena datang jauh-jauh ke Ternate bukan untuk menikmati hotelnya, tapi alamnya dan sejarah kotanya. Beristirahat kami sekian jam, dengan waktu yang cukup untuk mengganti waktu tidur kami selama di pesawat, siang hari langsung menuju pantai Sulamadaha untuk menikmati sepoi angin dan pemandangan laut dan gunung di sekitarnya. 

Dok: Erwin, 2017. Hotel Grand Majang, Ternate

Dok: Erwin, 2017. Pantai Sulamadaha, Ternate

Lanjut kami langsung menuju Danau Tolire. Tak butuh waktu lama untuk sampai danau, hanya memakan waktu 10 menit. Ada yang cukup menarik memang dari Danau Tolire di Ternate ini. Terutama mitos-mitos yang beredar dan masyarakat meyakini mitos tersebut. Sejak dari sejarah terbentuknya danau tersebut, suasana mistik disekitarnya, hingga adanya harta karun di dasar danau. Danau Tolire sendiri merupakan danau yang berada di bawah kaki gunung api tertinggi di Maluku Utara, Gunung Gamalama. Ada kepercayaan dari masyarakat setempat bahwa terbentuknya danau Tolire (ada yang disebut Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil) adalah karena adanya hubungan cinta terlarang zaman dahulu antara seorang Ayah dengan putrinya sendiri. Konon sang Ayah pada saat itu adalah seorang pemimpin sebuah desa di dekat kaki Gunung Gamalama, yakni Desa Soela Takomi. Cinta terlarang sang ayah ini akhirnya yang sebabkan putrinya mengandung janin dari hasil hubungan badan keduanya. Peristiwa ini menjadi momok yang memalukan bagi warga Desa Soela Takomi, hingga sang ayah dan putrinya itu diusir dari desa dimana mereka tinggal. Namun saat keduanya ingin pergi, terjadi gempa yang dahsyat melanda desa hingga membuat tanah di sekitarnya retak dan air yang berada di bawahnya muncul ke permukaan sampai-sampai menenggelamkan semua penduduk desa. Nah, desa yang tenggelam inilah yang dinamakan Danau Tolire Besar, atau disebut juga Tolire Gam Jaha, yang bermakna Lubang Kampung Tenggelam. Sang anak, yang mencoba lari dari bencana di desa itu pun tidak luput dari kemarahan Yang Maha Kuasa. Amblas pula tanah yang ia sedang pijak saat itu dan menjadi sebuah danau yang lebih kecil ukurannya, Danau Tolire Kecil disebutnya, tidak jauh lokasinya dari Danau Tolire Besar. 

Tak hanya soal legenda kisah terlarang ayah dan putrinya itu, masyarakat juga dan beberapa wisatawan juga pernah melihat kemunculan buaya putih di danau. Meski hal ini saya telusuri, belum dapat dikonfirmasi secara memadai. Karena sangat mungkin, hanya seekor buaya yang tersinari cahaya matahari, sehingga memunculkan kesan buaya berwarna putih. Tradisi unik lainnya, yang juga barangkali penuh mistis adalah tradisi lempar batu yang diyakini sekuat apapun melempar batu ke danau, tidak akan sampai pada permukaan danau atau jatuh di air. Setiap traveler disana saya lihat pasti mencoba itu. Rekan-rekan yang mau mencobanya bisa mengambil batu yang ada di sekitar danau atau bisa membelinya di warung-warung pinggir danau. Mereka menjual sekitar 5 buah seharga kurang lebih Rp. 2.000 per kantongnya.

Menurut LIPI (2014), Danau Tolire terbentuk akibat adanya aktifitas vulkanik dengan tipe danau maar. Maar diketahui terjadi disebabkan oleh letusan freatomagnetik, yakni sebuah ledakan yang terjadi ketika air datang ke dalam dan berkontak dengan panas, lava atau magma. Dalam kasus Danau Tolire besar dan kecil, LIPI menganggapnya berbeda dengan danau maar lainnya, sebab Gunung Gamalama nyatanya masih aktif sampai dengan saat ini (sampai penelitian dipublikasikan). LIPI memperkirakan kejadian atau peristiwa Maar ini terjadi pada 5-7 September 1775, yang diakibatkan erupsi maar pada lokasi di Desa Soela Takomi. Erupsi tersebut didahului dengan beberapa kali gempa besar lalu terjadi letusan uap (freatik) hingga beberapa jam sampai sebelum terbit fajar. Disertai dengan suara gemuruh dan sinar terang pada pagi hari tanggal 7. Erupsi freato-magnetik ini menyisakan sebuah kawah besar dan menyebabkan amblasnya Desa Soela Takomi yang berada di atasnya bersama penduduknya. Kawah maar ini kemudian terisi air yang saat ini masih bisa kita saksikan. Danau Tolire sendiri dikelilingi oleh tebing curam setinggi 60-80 m tanpa tepian yang landai, sehingga nampak sebagai amblesan. 

(a) Foto situasi Dana Tolire Besar dan Tolire Kecil (b) View 3 dimensi daerah sekitar Danau Tolire
sumber: LIPI, 2014

Bagi saya ini mengkonfirmasi adanya kemiripan cerita yang beredar di masyarakat tentang sejarah terbentuknya danau tolire, namun tidak pada latar belakang kisahnya. Saya belum temukan satupun dokumen yang bisa mengkonfirmasi kisah tersebut, sehingga saya meyakini bahwa sumber kisah tersebut ada karena adanya cerita legenda secara turun temurun di masyarakat desa sekitar danau dan masyarakat Ternate pada umumnya. Mungkin anda sendiri bertanya-tanya, untuk apa saya repot-repot mencari tau kebenaran kisah tersebut. hee..alasan utama bagi saya adalah, ketika menceritakan sejarah terbentuknya Danau Tolire, apakah perlu menceritakan kembali kisah cinta terlarang tersebut. Kalau benar adanya, maka saya akan menceritakan kembali di berbagai forum pada kesempatan-kesempatan saya berbicara atau mengisahkan ini kepada anak-anak sebagai bahan refleksi dan pembelajaran. Oleh sebab, bagi saya yang muslim, kisah cinta hingga terjadinya hubungan badan antara seorang ayah dan anak adalah zina dan jelas haram, termasuk dosa besar. Sehingga, kalau menyambung kisah tersebut, sangat mungkin Allah murka hingga melenyapkan tidak hanya keduanya, tapi suatu kaum diantara mereka yang boleh jadi membiarkan hal ini terjadi. Sebagaimana Allah melenyapkan kota Pompeii di Italia atau Kaum Luth di Kota Sodom yang terkenal sebagai pusat perzinahan dan homoseks. 

Disamping misteri yang melekat pada Danau Tolire di atas, bagi anda yang sedang dan akan berkunjung ke Ternate, sempatkanlah singgah untuk sekedar beristirahat dan merasakan keindahan alam Danau Tolire yang sangat sejuk dengan udaranya cukup dingin. Sesekali mungkin pada bulan-bulan penghujan, anda akan merasakan gerimis dengan intensitas sedang sehingga menurunkan suhu di sekitarnya dan pada sebagian danau akan tertutup kabut. Pemandangan yang sangat menakjubkan bagi saya. Permukaan air danau yang kehijauan menambah keindahan Danau Tolire ini untuk diabadikan dengan foto maupun video dan berswafoto ria di tebingnya. Di bawah saya unggah beberapa foto yang sempat diabadikan yang semoga mengundang hasrat rekan sekalian untuk segera berkunjung ke sana.  






Referensi: 
Pusat Penelitian Limnologi, LIPI. 2014. Karakteristik Danau Asal Vulkanik, Studi Kasus: Danau Tolire, Pulau Ternate

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Translate

Pengikut